Follow Us :              

Kepala PU Jateng Sebut 82,60 Persen Irigasi Kondisinya Baik

  27 August 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 175 
Kategori :
Bagikan :


Kepala PU Jateng Sebut 82,60 Persen Irigasi Kondisinya Baik

27 August 2022 | 10:00:00 | dibaca : 175
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

SALATIGA - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng), gencar peduli membangun irigasi di wilayahnya. Tercatat, ada sekitar 108 Daerah Irigasi (DI.) berkondisi bagus, sehingga sebagian besar lahan sawah petani mendapatkan kecukupan air. 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang  (Pusdataru) Provinsi Jateng, Eko Yunianto mengatakan, sesuai kewenangannya Pemprov Jateng mengampu 108 DI yang mengairi mayoritas lahan di Jateng. Total luas lahan pertanian 1,70 juta Ha. 

"Kondisi pada 2013 sampai nanti 2023 (periode kepemimpinan Ganjar Pranowo), kita berbicara data. Kondisi pada tahun 2013 kondisi fisik jaringan irigasi kita adalah 72 persen dalam kondisi baik. Data kami di akhir tahun 2021 ada peningkatan, berkinerja baik atau berkondisi baik menjadi 82,60 persen. Jadi  kenaikannya adalah 10, 60 persen selama periode 2013-2021," kata Kepala Pusdataru Jaten saat meninjau DI Sucen, Kota Salatiga,  Sabtu (27/8/2022). 

Menurutnya, hal itu menunjukkan upaya secara berkelanjutan Pemprov Jateng dalam menyikapi  kondisi di lapangan. Terdapat kebijakan yang telah ditetapkan untuk meningkatkan kinerja irigasi, mulai dari Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi, Optimalisasi jaringan irigasi, dan Rehabilitasi jaringan irigasi (OPOR). 

Pemprov pun berupaya mempertahankan fungsi layanan irigasi sampai saat ini. Dengan representasinya adalah menjaga, merawat dan memelihara jaringan irigasi. Maka tidak heran jika kondisi irigasi saat ini mencapai 82,60 persen. 

Pihaknya menyampaikan, daerah irigasi yang menjadi kewenangan Pemprov Jateng mencapai 108 daerah irigasi.  Dengan rincian terdiri dari bendung 142 buah, saluran induk sepanjang 305,42 km,  saluran sekundernya adalah 2.044,68 km, bangunan air 2.489 buah, dan bangunan pelengkap 6.581 buah. 

Dia menjelaskan, secara umum fungsi irigasi di Jateng adalah menaikkan permukaan air tertentu untuk melayani areal irigasi tertinggi. Dengan maksud membawa air dari sungai yang ditangkap melalui bendung, kemudian disalurkan melalui saluran induk, saluran sekunder, tersier dan kuarter untuk sampai ke petak sawah petani. 

"Fungsi utamanya adalah, bagaimana menjamin air ke petani, mulai dari sungai ke dalam sebuah sistem jaringan irigasi untuk melayani areal irigasi petani kita, " jelasnya. Dari kalkulasinya melalui pendekatan estimasi kepemilikan lahan yaitu seperempat hektare per 1 KK maka tercatat ada sekitar kurang lebih 347.500 KK atau petani bisa terbantu lahannya. 

"Bisa bayangkan bagaimana peran Pemerintah Provinsi Jateng sangat strategis agar daya tahan sektor pertanian dalam arti luas tetap terjaga dalam mendukung upaya  baik ketahanan pangan maupun kedaulatan pangan," ujarnya. 

Salah satu daerah irigasi yang terpantau dalam kondisi baik selain DI. Sucen Salatiga, juga DI. Logung di Kabupaten Kudus. Tercatat dalam Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Serang Lusi Juana (Seluna) Dinas Pusdataru Jateng, kondisinya bagus. 

Kepala BPSDA Seluna Agus Purwanto menilai kondisi DI. Logung dalam keadaan baik,  dan sampai saat ini mampu melayani 2.821 Ha yang memanjang di Kecamatan Jekulo dan Mejobo. Pada pengairan ini terdapat jaringan saluran induk 4,8 km, sekundernya 19,5 km. Selain pada irigasi ini terdapat pula jaringan  induk barat dan induk timur. Secara umum DI. Logung kondisinya terawat, tercatat ada ribuan petani yang menerima manfaat air irigasinya. 

"Alhamdulillah,  selama ini walaupun musim kering seperti ini, air selalu  tersedia. Ketersediaan air kita selalu terpenuhi. Memang kita punya waduk (Waduk Logung). Waduk itu dari sisi suplai airnya berlebihan," jelasnya. 

Petani asal Desa Glawan, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Kudarso, mengaku di era kepemimpinan Ganjar memang irigasi terjaga baik dan teratur. Sehingga tidak menutup kemungkinan petani bisa menanam padi sampai tiga kali dalam satu tahun dengan panennya bisa untuk peningkatan ekonomi keluarganya. 

"Bisa dirasakan dampaknya akhir-akhir ini. Kalau dulu kan bangunannya saat itu sering bocor. Dengan pemerintahan ini (Ganjar Pranowo) sekarang bisa dikendalikan," kata Kudarso. 

Sejurus dengan Kudarto, Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Logung Tirta Jaya Kudus, Suwandi, juga mengatakan, sepanjang masa Gubernur Ganjar Pranowo, dirinya sudah tidak ditemukan lagi adanya kasus rebutan air di wilayahnya. "Hasil produksi padi sekarang bisa mencapai 8  ton. Dulu 4,5,6 ton. Saya terima kasih pada pak Ganjar," ucap ketua organisasi yang membawahi lebih dari 5 ribu petani ini.


Bagikan :

SALATIGA - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng), gencar peduli membangun irigasi di wilayahnya. Tercatat, ada sekitar 108 Daerah Irigasi (DI.) berkondisi bagus, sehingga sebagian besar lahan sawah petani mendapatkan kecukupan air. 

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang  (Pusdataru) Provinsi Jateng, Eko Yunianto mengatakan, sesuai kewenangannya Pemprov Jateng mengampu 108 DI yang mengairi mayoritas lahan di Jateng. Total luas lahan pertanian 1,70 juta Ha. 

"Kondisi pada 2013 sampai nanti 2023 (periode kepemimpinan Ganjar Pranowo), kita berbicara data. Kondisi pada tahun 2013 kondisi fisik jaringan irigasi kita adalah 72 persen dalam kondisi baik. Data kami di akhir tahun 2021 ada peningkatan, berkinerja baik atau berkondisi baik menjadi 82,60 persen. Jadi  kenaikannya adalah 10, 60 persen selama periode 2013-2021," kata Kepala Pusdataru Jaten saat meninjau DI Sucen, Kota Salatiga,  Sabtu (27/8/2022). 

Menurutnya, hal itu menunjukkan upaya secara berkelanjutan Pemprov Jateng dalam menyikapi  kondisi di lapangan. Terdapat kebijakan yang telah ditetapkan untuk meningkatkan kinerja irigasi, mulai dari Operasi dan Pemeliharaan jaringan irigasi, Optimalisasi jaringan irigasi, dan Rehabilitasi jaringan irigasi (OPOR). 

Pemprov pun berupaya mempertahankan fungsi layanan irigasi sampai saat ini. Dengan representasinya adalah menjaga, merawat dan memelihara jaringan irigasi. Maka tidak heran jika kondisi irigasi saat ini mencapai 82,60 persen. 

Pihaknya menyampaikan, daerah irigasi yang menjadi kewenangan Pemprov Jateng mencapai 108 daerah irigasi.  Dengan rincian terdiri dari bendung 142 buah, saluran induk sepanjang 305,42 km,  saluran sekundernya adalah 2.044,68 km, bangunan air 2.489 buah, dan bangunan pelengkap 6.581 buah. 

Dia menjelaskan, secara umum fungsi irigasi di Jateng adalah menaikkan permukaan air tertentu untuk melayani areal irigasi tertinggi. Dengan maksud membawa air dari sungai yang ditangkap melalui bendung, kemudian disalurkan melalui saluran induk, saluran sekunder, tersier dan kuarter untuk sampai ke petak sawah petani. 

"Fungsi utamanya adalah, bagaimana menjamin air ke petani, mulai dari sungai ke dalam sebuah sistem jaringan irigasi untuk melayani areal irigasi petani kita, " jelasnya. Dari kalkulasinya melalui pendekatan estimasi kepemilikan lahan yaitu seperempat hektare per 1 KK maka tercatat ada sekitar kurang lebih 347.500 KK atau petani bisa terbantu lahannya. 

"Bisa bayangkan bagaimana peran Pemerintah Provinsi Jateng sangat strategis agar daya tahan sektor pertanian dalam arti luas tetap terjaga dalam mendukung upaya  baik ketahanan pangan maupun kedaulatan pangan," ujarnya. 

Salah satu daerah irigasi yang terpantau dalam kondisi baik selain DI. Sucen Salatiga, juga DI. Logung di Kabupaten Kudus. Tercatat dalam Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Serang Lusi Juana (Seluna) Dinas Pusdataru Jateng, kondisinya bagus. 

Kepala BPSDA Seluna Agus Purwanto menilai kondisi DI. Logung dalam keadaan baik,  dan sampai saat ini mampu melayani 2.821 Ha yang memanjang di Kecamatan Jekulo dan Mejobo. Pada pengairan ini terdapat jaringan saluran induk 4,8 km, sekundernya 19,5 km. Selain pada irigasi ini terdapat pula jaringan  induk barat dan induk timur. Secara umum DI. Logung kondisinya terawat, tercatat ada ribuan petani yang menerima manfaat air irigasinya. 

"Alhamdulillah,  selama ini walaupun musim kering seperti ini, air selalu  tersedia. Ketersediaan air kita selalu terpenuhi. Memang kita punya waduk (Waduk Logung). Waduk itu dari sisi suplai airnya berlebihan," jelasnya. 

Petani asal Desa Glawan, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Kudarso, mengaku di era kepemimpinan Ganjar memang irigasi terjaga baik dan teratur. Sehingga tidak menutup kemungkinan petani bisa menanam padi sampai tiga kali dalam satu tahun dengan panennya bisa untuk peningkatan ekonomi keluarganya. 

"Bisa dirasakan dampaknya akhir-akhir ini. Kalau dulu kan bangunannya saat itu sering bocor. Dengan pemerintahan ini (Ganjar Pranowo) sekarang bisa dikendalikan," kata Kudarso. 

Sejurus dengan Kudarto, Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Logung Tirta Jaya Kudus, Suwandi, juga mengatakan, sepanjang masa Gubernur Ganjar Pranowo, dirinya sudah tidak ditemukan lagi adanya kasus rebutan air di wilayahnya. "Hasil produksi padi sekarang bisa mencapai 8  ton. Dulu 4,5,6 ton. Saya terima kasih pada pak Ganjar," ucap ketua organisasi yang membawahi lebih dari 5 ribu petani ini.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu