Follow Us :              

Gubernur Dorong Semua Pihak Turun Tangan Bantu Tingkatkan Kembali Produktivitas Bawang Merah

  14 September 2022  |   11:00:00  |   dibaca : 167 
Kategori :
Bagikan :


Gubernur Dorong Semua Pihak Turun Tangan Bantu Tingkatkan Kembali Produktivitas Bawang Merah

14 September 2022 | 11:00:00 | dibaca : 167
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

BREBES - Penurunan produktivitas komoditas bawang merah dinilai menjadi salah satu penyebab harga bawang merah di pasar tinggi dan akhirnya berkontribusi pada inflasi di Jateng. Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta seluruh pihak turun tangan ikut mengatasi masalah ini. 

"Ini saya cek kenapa harga bawang merah ini kontribusi pada inflasinya tinggi sekali. Ternyata produksinya di sini juga tidak terlalu optimal," ungkapnya usai melihat lahan bawang merah dan berdialog dengan Gapoktan Umbul Makmur Wiyono, Desa Krasak, Brebes, Rabu (14/9/2022). 

Saat berdialog dengan para petani, diketahui ternyata penurunan produktivitas disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya kerusakan tanah pada lahan pertanian seperti berkurangnya unsur hara pada tanah sehingga tanah menjadi keras, terlalu banyak penggunaan pupuk kimia dan pestisida, serta faktor cuaca. 

"Tadi sudah kita cek, tapi dari pengakuan kawan-kawan semua sudah menyadari dan menyampaikan informasi kayaknya berkurang produktivitasnya. Maka tugas kita sekarang mengembalikan unsur hara tanah," ujar Gubernur. 

Pengembalian kesuburan tanah agar produktivitas kembali meningkatkan menjadi pekerjaan rumah seluruh elemen terkait. Terkait hal ini Gubernur langsung meminta kepada Dinas Pertanian, baik tingkat provinsi maupun kabupaten, untuk terus melakukan pendampingan. Pihak swasta juga diminat untuk ikut berpartisipasi untuk membantu para petani memulihkan lahannya. 

"Kita harapkan nanti kampus juga kita libatkan. Jadi bagaimana mengembalikan tanah ini agar subur. Nanti generasi mudanya, Poktan, dan Gapoktan kita siap untuk melatih mereka. Tujuannya agar kemudian tanah ini bisa dijadikan lahan pertanian pangan berkelanjutan, bisa padi, bisa bawang merah," jelasnya. 

Terkait pertanian berkelanjutan, para petani Desa Krasak, Brebes, sebenarnya sudah memiliki pola tanam dalam satu tahun. Komoditas yang ditanam adalah bawang merah dan padi. 

"Polanya tadi bawang, bawang, padi. Bahkan ada yang sampai empat kali di sini. Maka sudah bagus banget itu. Tinggal kita kasih teknologi dan pengetahuan agar bisa jalan," katanya. 

Guna mengurangi kerusakan tanah, Gubernur juga mengingatkan agar petani tidak berlebihan dalam menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Sebab selain memperburuk tanah, penggunaan pupuk yang berlebihan juga akan berdampak pada hal lain seperti kesehatan dan stunting. 

"Hati-hati kalau pestisida berlebih bahaya buat nanti anak-anak. Kalau pestisida kena air, nanti bisa membuat stunting dan (penyakit) gondok," katanya. 

Selain mendorong pemulihan lahan pertanian bawang merah, Gubernur menginformasikan, Pemerintah Provinsi Jateng juga sudah menyiapkan formula bantuan untuk menekan inflasi. Khususnya terkait distribusi bawang merah. Bantuan itu berupa subsidi untuk menekan ongkos kirim komoditas sebesar Rp1.500 per kilogram. 

"Sekarang kita sedang menyiapkan formasi datanya. Maka kalau hari ini ternyata belum panen. Nanti kita cek dari gudang, berapa ongkos kirim, apakah ada gangguan apa tidak, jika iya maka sebenarnya itu bagian dari objek yang bisa kita jadikan sasaran bantuan," pungkasnya.


Bagikan :

BREBES - Penurunan produktivitas komoditas bawang merah dinilai menjadi salah satu penyebab harga bawang merah di pasar tinggi dan akhirnya berkontribusi pada inflasi di Jateng. Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, meminta seluruh pihak turun tangan ikut mengatasi masalah ini. 

"Ini saya cek kenapa harga bawang merah ini kontribusi pada inflasinya tinggi sekali. Ternyata produksinya di sini juga tidak terlalu optimal," ungkapnya usai melihat lahan bawang merah dan berdialog dengan Gapoktan Umbul Makmur Wiyono, Desa Krasak, Brebes, Rabu (14/9/2022). 

Saat berdialog dengan para petani, diketahui ternyata penurunan produktivitas disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya kerusakan tanah pada lahan pertanian seperti berkurangnya unsur hara pada tanah sehingga tanah menjadi keras, terlalu banyak penggunaan pupuk kimia dan pestisida, serta faktor cuaca. 

"Tadi sudah kita cek, tapi dari pengakuan kawan-kawan semua sudah menyadari dan menyampaikan informasi kayaknya berkurang produktivitasnya. Maka tugas kita sekarang mengembalikan unsur hara tanah," ujar Gubernur. 

Pengembalian kesuburan tanah agar produktivitas kembali meningkatkan menjadi pekerjaan rumah seluruh elemen terkait. Terkait hal ini Gubernur langsung meminta kepada Dinas Pertanian, baik tingkat provinsi maupun kabupaten, untuk terus melakukan pendampingan. Pihak swasta juga diminat untuk ikut berpartisipasi untuk membantu para petani memulihkan lahannya. 

"Kita harapkan nanti kampus juga kita libatkan. Jadi bagaimana mengembalikan tanah ini agar subur. Nanti generasi mudanya, Poktan, dan Gapoktan kita siap untuk melatih mereka. Tujuannya agar kemudian tanah ini bisa dijadikan lahan pertanian pangan berkelanjutan, bisa padi, bisa bawang merah," jelasnya. 

Terkait pertanian berkelanjutan, para petani Desa Krasak, Brebes, sebenarnya sudah memiliki pola tanam dalam satu tahun. Komoditas yang ditanam adalah bawang merah dan padi. 

"Polanya tadi bawang, bawang, padi. Bahkan ada yang sampai empat kali di sini. Maka sudah bagus banget itu. Tinggal kita kasih teknologi dan pengetahuan agar bisa jalan," katanya. 

Guna mengurangi kerusakan tanah, Gubernur juga mengingatkan agar petani tidak berlebihan dalam menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Sebab selain memperburuk tanah, penggunaan pupuk yang berlebihan juga akan berdampak pada hal lain seperti kesehatan dan stunting. 

"Hati-hati kalau pestisida berlebih bahaya buat nanti anak-anak. Kalau pestisida kena air, nanti bisa membuat stunting dan (penyakit) gondok," katanya. 

Selain mendorong pemulihan lahan pertanian bawang merah, Gubernur menginformasikan, Pemerintah Provinsi Jateng juga sudah menyiapkan formula bantuan untuk menekan inflasi. Khususnya terkait distribusi bawang merah. Bantuan itu berupa subsidi untuk menekan ongkos kirim komoditas sebesar Rp1.500 per kilogram. 

"Sekarang kita sedang menyiapkan formasi datanya. Maka kalau hari ini ternyata belum panen. Nanti kita cek dari gudang, berapa ongkos kirim, apakah ada gangguan apa tidak, jika iya maka sebenarnya itu bagian dari objek yang bisa kita jadikan sasaran bantuan," pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu