Follow Us :              

Kunjungan Wisata Nusantara di Jateng Surplus 100 Persen dari Target

  02 October 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 273 
Kategori :
Bagikan :


Kunjungan Wisata Nusantara di Jateng Surplus 100 Persen dari Target

02 October 2022 | 10:00:00 | dibaca : 273
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

PURBALINGGA - Kunjungan wisatawan nusantara di Jawa Tengah mencapai 26,5 juta hingga Agustus 2022. Jumlah ini surplus 15 juta dari target 11 juta. Data tersebut menjadi bukti kesungguhan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam melaksanaksn seruan Presiden RI Joko Widodo agar masyarakat berwisata di dalam negeri. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan sektor Sportourism, desa wisata dan berbagai event wisata serta pengembangan destinasi. Hal itu juga didukung dengan kebijakan pemerintah kabupaten atau pemerintah kota, yang kompak menarik wisatawan, dengan berbagai ajang. 

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disporapar Jawa Tengah Setyo Irawan mengatakan, jumlah ajang sportourism (olahraga berbasis wisata) yang telah digelar mencapai 121 event. Dua event besar macam Tour De Borobudur dan Borobudur Marathon juga sudah di depan mata. 

"Target wisatawan nusantara 2022 di Jateng (Jawa Tengah) sebesar 11 juta orang. Sampai Agustus itu sudah lebihi target yakni, 26 juta setengah untuk wisnus. Tentu ini sebuah prestasi tersendiri setelah Covid-19," ujarnya Sabtu (1/10/2022), saat pertemuan forum komunikasi Desa Wisata di D'Las Desa Serang, Purbalingga. 

Setyo menyebut, meskipun target telah dicapai, hal itu tidak membuat pihaknya berpuas diri. Mereka tetap berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi, seperti Borobudur, Dieng, Solo, Sangiran, Karimunjawa dan Solo serta beberapa tempat lain tetap meningkat. 

"Minat wisatawan ke Jateng untuk pariwisata tinggi sekalian kita genjot bisa melebihi atau minimal sama sebelum pandemi itu sekitar 49 juta. Untuk mengejar 13 juta di 2022 harapannya bisa atau sama seperti sebelum pandemi," paparnya. 

Jawa Tengah sendiri saat ini memiliki 1.235 destinasi wisata dan 818 desa wisata. Untuk desa wisata kategori maju bantuannya mencapai Rp1 miliar, sementara desa wisata berkembang Rp500 juta dan desa wisata rintisan mencapai Rp100 juta. Tahun 2022 ada 131 desa wisata yang memeroleh bantuan total Rp18,5 miliar. 

"Komunikasi kita dengan desa wisata per 3 bulan ada pertemuan rutin. Kami juga punya grup WA sebanyak 818 desa wisata yang berkomunikasi. Peningkatan SDM dengan bertukar informasi, menularkan pengalaman dari desa wisata yang sudah maju ke yang lain," ungkapnya. 

Kepala Disporapar Purbalingga Prayitno mengungkapkan hal serupa. Dengan bentang alam dan sejarah yang kaya, pengembangan dilakukan secara serius. 

"Kita branding wisata di Purbalingga sebagai tempat lahir Panglima Besar Jenderal Sudirman. Kami ada enam event, sportourism ada dua event di tanggal 1 dan 2 Oktober, ada Sudirman Run. Festival kopi besok tanggal 6 Oktober itu juga kita branding dengan tempat lahir Pak Sudirman," ujarnya. 

Prayitno mengatakan, pada 2022 kunjungan wisatawan 1.850.000 orang. Hingga Agustus 2022, jumlah Pelancong ke Purbalingga mencapai 1.607.000 orang. Adapun sumbangan sektor wisata  untuk Pendapatan Asli Daerah Purbalingga mencapai Rp16,5 miliar hingga Agustus 2022. 

"Sebelum Covid-19 malah Rp11,5 miliar (sumbangan PAD dari wisata). Pasca pandemi ternyata kunjungan bagus, sumbangan naik sekali. Kita optimis sampai akhir Desember semakin bagus (jumlah kunjungan). Untuk sportourism kita juga sedang membangun GOR Indoor yang bisa untuk wisata sekalian olahraga," urainya. 

Kepala Desa Serang, Sugito, mengatakan, desa yang terletak di lereng Gunung Slamet itu dulunya zona merah kemiskinan. Menyadari potensi alam yang dimiliki, Sugito dan perangkat Desa Serang pun melakukan program pembangunan pariwisata secara bertahap mulai dari 2010. 

"Dulu wilayah ini ya kebun saja. Kemudian mulai kita eksplorasi dan kita ubah menjadi desa wisata yang memiliki multiplier effect, mulai dari jualan, karyawan pemandu dan lainnya. Yang terlibat dalam  D'Las (Di Lembah Asri) mencapai 1000 orang dari desa," urainya. 

Sugito mengatakan, saat merintis Desa Wisata mulanya berawal dari modal Rp 9 juta dan tanah kas desa yang hanya 1,3 hektare. Kini, setelah 12 tahun berjuang Desa Wisata Serang dengan wisata unggulan D'Las memiliki aset seluas 22 hektare senilai Rp21 miliar.


Bagikan :

PURBALINGGA - Kunjungan wisatawan nusantara di Jawa Tengah mencapai 26,5 juta hingga Agustus 2022. Jumlah ini surplus 15 juta dari target 11 juta. Data tersebut menjadi bukti kesungguhan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam melaksanaksn seruan Presiden RI Joko Widodo agar masyarakat berwisata di dalam negeri. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan sektor Sportourism, desa wisata dan berbagai event wisata serta pengembangan destinasi. Hal itu juga didukung dengan kebijakan pemerintah kabupaten atau pemerintah kota, yang kompak menarik wisatawan, dengan berbagai ajang. 

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disporapar Jawa Tengah Setyo Irawan mengatakan, jumlah ajang sportourism (olahraga berbasis wisata) yang telah digelar mencapai 121 event. Dua event besar macam Tour De Borobudur dan Borobudur Marathon juga sudah di depan mata. 

"Target wisatawan nusantara 2022 di Jateng (Jawa Tengah) sebesar 11 juta orang. Sampai Agustus itu sudah lebihi target yakni, 26 juta setengah untuk wisnus. Tentu ini sebuah prestasi tersendiri setelah Covid-19," ujarnya Sabtu (1/10/2022), saat pertemuan forum komunikasi Desa Wisata di D'Las Desa Serang, Purbalingga. 

Setyo menyebut, meskipun target telah dicapai, hal itu tidak membuat pihaknya berpuas diri. Mereka tetap berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi, seperti Borobudur, Dieng, Solo, Sangiran, Karimunjawa dan Solo serta beberapa tempat lain tetap meningkat. 

"Minat wisatawan ke Jateng untuk pariwisata tinggi sekalian kita genjot bisa melebihi atau minimal sama sebelum pandemi itu sekitar 49 juta. Untuk mengejar 13 juta di 2022 harapannya bisa atau sama seperti sebelum pandemi," paparnya. 

Jawa Tengah sendiri saat ini memiliki 1.235 destinasi wisata dan 818 desa wisata. Untuk desa wisata kategori maju bantuannya mencapai Rp1 miliar, sementara desa wisata berkembang Rp500 juta dan desa wisata rintisan mencapai Rp100 juta. Tahun 2022 ada 131 desa wisata yang memeroleh bantuan total Rp18,5 miliar. 

"Komunikasi kita dengan desa wisata per 3 bulan ada pertemuan rutin. Kami juga punya grup WA sebanyak 818 desa wisata yang berkomunikasi. Peningkatan SDM dengan bertukar informasi, menularkan pengalaman dari desa wisata yang sudah maju ke yang lain," ungkapnya. 

Kepala Disporapar Purbalingga Prayitno mengungkapkan hal serupa. Dengan bentang alam dan sejarah yang kaya, pengembangan dilakukan secara serius. 

"Kita branding wisata di Purbalingga sebagai tempat lahir Panglima Besar Jenderal Sudirman. Kami ada enam event, sportourism ada dua event di tanggal 1 dan 2 Oktober, ada Sudirman Run. Festival kopi besok tanggal 6 Oktober itu juga kita branding dengan tempat lahir Pak Sudirman," ujarnya. 

Prayitno mengatakan, pada 2022 kunjungan wisatawan 1.850.000 orang. Hingga Agustus 2022, jumlah Pelancong ke Purbalingga mencapai 1.607.000 orang. Adapun sumbangan sektor wisata  untuk Pendapatan Asli Daerah Purbalingga mencapai Rp16,5 miliar hingga Agustus 2022. 

"Sebelum Covid-19 malah Rp11,5 miliar (sumbangan PAD dari wisata). Pasca pandemi ternyata kunjungan bagus, sumbangan naik sekali. Kita optimis sampai akhir Desember semakin bagus (jumlah kunjungan). Untuk sportourism kita juga sedang membangun GOR Indoor yang bisa untuk wisata sekalian olahraga," urainya. 

Kepala Desa Serang, Sugito, mengatakan, desa yang terletak di lereng Gunung Slamet itu dulunya zona merah kemiskinan. Menyadari potensi alam yang dimiliki, Sugito dan perangkat Desa Serang pun melakukan program pembangunan pariwisata secara bertahap mulai dari 2010. 

"Dulu wilayah ini ya kebun saja. Kemudian mulai kita eksplorasi dan kita ubah menjadi desa wisata yang memiliki multiplier effect, mulai dari jualan, karyawan pemandu dan lainnya. Yang terlibat dalam  D'Las (Di Lembah Asri) mencapai 1000 orang dari desa," urainya. 

Sugito mengatakan, saat merintis Desa Wisata mulanya berawal dari modal Rp 9 juta dan tanah kas desa yang hanya 1,3 hektare. Kini, setelah 12 tahun berjuang Desa Wisata Serang dengan wisata unggulan D'Las memiliki aset seluas 22 hektare senilai Rp21 miliar.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu