Follow Us :              

Tidak Sampai Sehari, Gubernur Jateng Tangani Tuntutan Warga di Flyover Ganefo

  14 October 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 186 
Kategori :
Bagikan :


Tidak Sampai Sehari, Gubernur Jateng Tangani Tuntutan Warga di Flyover Ganefo

14 October 2022 | 10:00:00 | dibaca : 186
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

SEMARANG - Hanya beberapa jam di hari yang sama, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berhasil menyelesaikan usulan dari pengunjuk rasa di Flyover Ganefo, Mranggen, Kabupaten Demak. Malam hari setelah menerima aduan, ia langsung mendapat kepastian Menteri Perhubungan dan instansi. 

"Alhamdulillah tadi saya kontak Menteri Perhubungan, beliau langsung merespons, mana nomor telepon bupatinya, nanti Dirjen saya langsung urus ke sana. Jadi dengan cara itu kan beres, tidak perlu pakai marah-marah atau ngamuk," kata Ganjar ditemui usai menghadiri acara Rakornas ke-13 Komisi Informasi se-Indonesia di Gedung Weeskamer, Kotalama, Semarang, Kamis (13/10/2022) malam. 

Gubernur berharap lewat kejadian ini, masyarakat dapat mengambil pelajaran bahwa setiap persoalan sebenarnya bisa ditemukan solusinya, jika dikomunikasikan atau didialogkan tanpa harus protes dengan demonstrasi atau unjuk rasa. 

Pasca menemui warga yang unjuk rasa di peresmian Flyover Ganefo Mranggen, Gubernur meminta penanggung jawab unjuk rasa, yang ternyata seorang anggota DPRD, untuk mengirimkan surat-surat yang pernah dikirim, ke Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. 

"Alhamdulillah tadi saya selesaikan. Tadi saya minta dari anggota DPRD-nya, mana surat-surat yang sudah dikirim, dikasih ke saya. Begitu dikasih langsung saya minta ngecek di pemerintahnya. Prinsipnya bisa, tinggal dikasih saja penjaga pintu kereta api maka masyarakat bisa memanfaatkan itu (jalan desa). Itu kan sederhana. Sehingga sesuatu yang ingin diusulkan itu dikawal, ditanyakan, dan kemudian ada clearance-nya," jelas Ganjar. 

Ganjar sendiri menyayangkan adanya aksi unjuk rasa dengan mengerahkan warga itu terjadi, meskipun ia tidak melarang adanya penyampaian aspirasi melalui aksi tersebut. Sebab sebelum aksi itu terjadi, tidak ada seorang pun yang berkomunikasi kepada Ganjar mengenai apa yang menjadi usulan atau keluhan warga. 

"Sebenarnya itu hanya butuh komunikasi saja. Sayangnya tidak ada yang ngontak saya," ujarnya. 

Informasi yang diperoleh, komunikasi terkait persoalan penutupan jalan di perlintasan kereta api, bawah Flyover Ganefo itu dilakukan dengan mengirim surat langsung ke Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Menurutnya cara lama itu kecil kemungkinan untuk cepat mendapatkan respons. Apalagi jika di instansi yang disurati itu juga terdapat banyak surat yang menumpuk. Padahal di Jawa Tengah ada kanal aduan yang lebih efektif. 

"Nah surat ini belum tentu (cepat) dibaca, padahal kalau di Jawa Tengah dalam konteks hal semacam ini, complain system handling-nya itu jauh lebih gampang. Pakai medsos bisa, pakai aplikasi laporgub bisa, atau pakai nomor handphone saya yang beberapa orang sudah tahu. Tapi tadi saya senang dengan masyarakat, spanduknya turunkan lalu kita ngobrol," katanya. 

Selain kurangnya komunikasi, Ganjar juga menyayangkan aksi unjuk rasa di Flyover Ganefo itu juga melibatkan anak-anak. Saat bertemu di lokasi, Ganjar juga sempat mengingatkan kepada penanggung jawab dan warga untuk tidak melibatkan atau mengajak anak-anak ikut unjuk rasa. 

"Tadi saya protes juga pada penanggung jawabnya. Nggak boleh mengajak anak-anak kalau mau demo," kata Ganjar. 

Diketahui, aksi unjuk rasa itu terjadi saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hendak meresmikan Flyover Ganefo. Warga menuntut agar akses jalan di sekitar perlintasan kereta api di bawah Flyover Ganefo dibuka kembali.


Bagikan :

SEMARANG - Hanya beberapa jam di hari yang sama, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berhasil menyelesaikan usulan dari pengunjuk rasa di Flyover Ganefo, Mranggen, Kabupaten Demak. Malam hari setelah menerima aduan, ia langsung mendapat kepastian Menteri Perhubungan dan instansi. 

"Alhamdulillah tadi saya kontak Menteri Perhubungan, beliau langsung merespons, mana nomor telepon bupatinya, nanti Dirjen saya langsung urus ke sana. Jadi dengan cara itu kan beres, tidak perlu pakai marah-marah atau ngamuk," kata Ganjar ditemui usai menghadiri acara Rakornas ke-13 Komisi Informasi se-Indonesia di Gedung Weeskamer, Kotalama, Semarang, Kamis (13/10/2022) malam. 

Gubernur berharap lewat kejadian ini, masyarakat dapat mengambil pelajaran bahwa setiap persoalan sebenarnya bisa ditemukan solusinya, jika dikomunikasikan atau didialogkan tanpa harus protes dengan demonstrasi atau unjuk rasa. 

Pasca menemui warga yang unjuk rasa di peresmian Flyover Ganefo Mranggen, Gubernur meminta penanggung jawab unjuk rasa, yang ternyata seorang anggota DPRD, untuk mengirimkan surat-surat yang pernah dikirim, ke Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. 

"Alhamdulillah tadi saya selesaikan. Tadi saya minta dari anggota DPRD-nya, mana surat-surat yang sudah dikirim, dikasih ke saya. Begitu dikasih langsung saya minta ngecek di pemerintahnya. Prinsipnya bisa, tinggal dikasih saja penjaga pintu kereta api maka masyarakat bisa memanfaatkan itu (jalan desa). Itu kan sederhana. Sehingga sesuatu yang ingin diusulkan itu dikawal, ditanyakan, dan kemudian ada clearance-nya," jelas Ganjar. 

Ganjar sendiri menyayangkan adanya aksi unjuk rasa dengan mengerahkan warga itu terjadi, meskipun ia tidak melarang adanya penyampaian aspirasi melalui aksi tersebut. Sebab sebelum aksi itu terjadi, tidak ada seorang pun yang berkomunikasi kepada Ganjar mengenai apa yang menjadi usulan atau keluhan warga. 

"Sebenarnya itu hanya butuh komunikasi saja. Sayangnya tidak ada yang ngontak saya," ujarnya. 

Informasi yang diperoleh, komunikasi terkait persoalan penutupan jalan di perlintasan kereta api, bawah Flyover Ganefo itu dilakukan dengan mengirim surat langsung ke Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Menurutnya cara lama itu kecil kemungkinan untuk cepat mendapatkan respons. Apalagi jika di instansi yang disurati itu juga terdapat banyak surat yang menumpuk. Padahal di Jawa Tengah ada kanal aduan yang lebih efektif. 

"Nah surat ini belum tentu (cepat) dibaca, padahal kalau di Jawa Tengah dalam konteks hal semacam ini, complain system handling-nya itu jauh lebih gampang. Pakai medsos bisa, pakai aplikasi laporgub bisa, atau pakai nomor handphone saya yang beberapa orang sudah tahu. Tapi tadi saya senang dengan masyarakat, spanduknya turunkan lalu kita ngobrol," katanya. 

Selain kurangnya komunikasi, Ganjar juga menyayangkan aksi unjuk rasa di Flyover Ganefo itu juga melibatkan anak-anak. Saat bertemu di lokasi, Ganjar juga sempat mengingatkan kepada penanggung jawab dan warga untuk tidak melibatkan atau mengajak anak-anak ikut unjuk rasa. 

"Tadi saya protes juga pada penanggung jawabnya. Nggak boleh mengajak anak-anak kalau mau demo," kata Ganjar. 

Diketahui, aksi unjuk rasa itu terjadi saat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hendak meresmikan Flyover Ganefo. Warga menuntut agar akses jalan di sekitar perlintasan kereta api di bawah Flyover Ganefo dibuka kembali.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu