Follow Us :              

Inisiasi Gerakan Seribu Embung, Gubernur Bantu Atasi Bencana Kekeringan

  03 November 2022  |   11:00:00  |   dibaca : 152 
Kategori :
Bagikan :


Inisiasi Gerakan Seribu Embung, Gubernur Bantu Atasi Bencana Kekeringan

03 November 2022 | 11:00:00 | dibaca : 152
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

WONOGIRI - 500 kepala keluarga Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri tidak lagi dihantui bencana kekeringan dan kesulitan air bersih. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah membangun embung di wilayah tersebut pada 2016 silam. 

Kepala Desa Gudangharjo, Sriyono mengatakan bahwa embung mulai dibangun 2016 lalu. Saat ini bisa dimanfaatkan 95 persen warganya yang terdiri dari 8 dusun. "Ini dibangun dari anggaran APBD Provinsi Jateng. Ada 95 persen dari 500 kepala keluarga mendapat manfaatnya. Buat kebutuhan rumah tangga, ternak, tanaman dan perkebunan," jelasnya. 

Pembangunan embung di Desa Gudangharjo merupakan bagian dari Gerakan Seribu Embung yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Saat ini, ada 1.135 embung tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah. 

Keberadaan embung sangat disyukuri warga Desa Gudangharjo. Tiap pagi dan sore hari mereka bisa mengambil air di embung menggunakan jerigen. Selain untuk kebutuhan memasak, air dari embung itu juga digunakan untuk berbagai kebutuhan. "Manfaat dari embung betul-betul sangat membantu warga sekitar untuk air minum, wudhu di masjid dan buat minum ternak," ujar Endiyanto, seorang warga Desa Gudangharjo, Kamis (3/10/2022). 

Air embung yang melimpah sangat membantu meringankan perekonomiannya. Sebab, sebelumnya selama bertahun-tahun ia dan warga Desa Gudangharjo harus membeli air tangki. 

"Kalau dulu sebelum ada embung itu beli air tangki, sekarang sudah ada embung, ini sangat membantu. Warga sini senang sekali. Sekarang air sangat mudah," lanjutnya.

Yatno, warga yang lain menceritakan, sebelum ada embung warga harus menyisihkan ratusan ribu perbulan untuk mendapatkan air baku. Satu tangki seharga Rp150 ribu. "Satu tangki paling lama untuk dua minggu. Beda lagi mereka yang punya ternak. Karena dulu susah air terutama waktu kemarau," paparnya. "Embung ini membuat air baku, sekarang cukup mudah. Cara ambilnya pakai ember dan jerigen. Lebih irit, semuanya senang," imbuhnya.


Bagikan :

WONOGIRI - 500 kepala keluarga Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri tidak lagi dihantui bencana kekeringan dan kesulitan air bersih. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah membangun embung di wilayah tersebut pada 2016 silam. 

Kepala Desa Gudangharjo, Sriyono mengatakan bahwa embung mulai dibangun 2016 lalu. Saat ini bisa dimanfaatkan 95 persen warganya yang terdiri dari 8 dusun. "Ini dibangun dari anggaran APBD Provinsi Jateng. Ada 95 persen dari 500 kepala keluarga mendapat manfaatnya. Buat kebutuhan rumah tangga, ternak, tanaman dan perkebunan," jelasnya. 

Pembangunan embung di Desa Gudangharjo merupakan bagian dari Gerakan Seribu Embung yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Saat ini, ada 1.135 embung tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah. 

Keberadaan embung sangat disyukuri warga Desa Gudangharjo. Tiap pagi dan sore hari mereka bisa mengambil air di embung menggunakan jerigen. Selain untuk kebutuhan memasak, air dari embung itu juga digunakan untuk berbagai kebutuhan. "Manfaat dari embung betul-betul sangat membantu warga sekitar untuk air minum, wudhu di masjid dan buat minum ternak," ujar Endiyanto, seorang warga Desa Gudangharjo, Kamis (3/10/2022). 

Air embung yang melimpah sangat membantu meringankan perekonomiannya. Sebab, sebelumnya selama bertahun-tahun ia dan warga Desa Gudangharjo harus membeli air tangki. 

"Kalau dulu sebelum ada embung itu beli air tangki, sekarang sudah ada embung, ini sangat membantu. Warga sini senang sekali. Sekarang air sangat mudah," lanjutnya.

Yatno, warga yang lain menceritakan, sebelum ada embung warga harus menyisihkan ratusan ribu perbulan untuk mendapatkan air baku. Satu tangki seharga Rp150 ribu. "Satu tangki paling lama untuk dua minggu. Beda lagi mereka yang punya ternak. Karena dulu susah air terutama waktu kemarau," paparnya. "Embung ini membuat air baku, sekarang cukup mudah. Cara ambilnya pakai ember dan jerigen. Lebih irit, semuanya senang," imbuhnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu