Follow Us :              

Kolaborasi Pemprov Jateng dan Perguruan Tinggi, Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

  11 September 2025  |   09:30:00  |   dibaca : 1198 
Kategori :
Bagikan :


Kolaborasi Pemprov Jateng dan Perguruan Tinggi, Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

11 September 2025 | 09:30:00 | dibaca : 1198
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi di wilayahnya. Upaya ini dilakukan sejak masa pranikah, perencanaan kehamilan, selama kehamilan, persalinan, hingga perawatan bayi. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menyampaikan, pemerintah sudah memberikan sejumlah fasilitas untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, di antaranya dengan memberikan layanan pemeriksaan kehamilan sebanyak 6 kali, fasilitas USG secara gratis sebanyak 2 kali untuk ibu hamil, serta pendampingan khusus bagi kehamilan dengan risiko tinggi. 

“Angka kematian ibu dan anak itu bisa dicegah. Banyak unsurnya, seperti dari sisi fasilitas, SDM (sumber daya manusia), dan masyarakatnya,” ucapnya saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., beraudiensi dengan Dekan dan Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) di Kota Semarang pada Kamis, 11 September 2025

Ia mengungkapkan, angka kematian ibu dan bayi di Jateng pada tahun 2024 mencapai 427 jiwa. Sementara itu, hingga Agustus 2025, angka kematian ibu dan bayi tercatat sebanyak 270 jiwa. 

Meskipun angka tersebut menunjukkan penurunan, Ka Dinkes menyampaikan bahwa upaya pencegahan dan penanganan tetap harus dilakukan. 

“Sebetulnya dibandingkan tahun lalu sudah turun, tetapi belum signifikan menurut kami," katanya.

Ka Dinkes Jateng menjelaskan, penyebab kematian ibu dan bayi rata-rata disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pendarahan, infeksi, serta eklampsia atau kondisi kejang serius pada wanita hamil, yang merupakan komplikasi akhir dari preeklampsia (hipertensi/tekanan darah tinggi selama kehamilan) dan bisa terjadi sebelum, selama, atau setelah persalinan, yang mengancam keselamatan ibu dan janin, jika tidak segera ditangani.

Ia menilai, peran dari Fakultas Kedokteran Undip yang turun langsung ke lapangan dengan melibatkan ahli akan sangat membantu Dinkes Jateng. Menurutnya, data dan bukti yang diperoleh secara langsung bisa menjadi dasar dalam merumuskan langkah strategis untuk menekan angka kematian ibu dan anak. 

Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengapresiasi Fakultas Kedokteran Undip atas bantuan yang diberikan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Ia menyampaikan, upaya ini merupakan sumbangsih nyata bagi Jawa Tengah. 

Gubernur juga berkomitmen untuk meningkatkan layanan kesehatan di Jateng, salah satunya dengan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang digagasnya bersama Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen. Ia mengungkapkan, program ini sudah berjalan dengan baik. Akan tetapi, saat ini kendala utama yang sedang dihadapi adalah keterbatasan jumlah dokter spesialis yang tersedia di daerah. 

“Makanya, saya minta bantuan universitas yang memiliki dokter spesialis untuk turun,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Dekan Fakultas Kedokteran Undip, Yan Wisnu Prajoko, mengatakan, tujuannya berkunjung ke Kantor Gubernur adalah melaporkan berbagai upaya yang sudah dilakukan Undip untuk memperbaiki atau menurunkan angka kematian ibu dan bayi. 

Ia menyampaikan, tepat tiga hari yang lalu, tim Fakultas Kedokteran Undip sudah melakukan penelitian sekaligus pengamatan di Kabupaten Brebes. Penerjunan lapangan ini berkaitan dengan persoalan kesehatan, SDM, fasilitas, tenaga kesehatan, kecepatan respons darurat, dan lainnya. 

"Kita akan berputar, tidak hanya di Brebes tetapi juga di kabupaten lain, berdasarkan masukan dari Dinas Kesehatan. Setiap daerah itu punya problematika sendiri-sendiri. Maka dari itu, kami dari akademisi akan turun mencari problematika spesifik tersebut, dan mencoba mencari jalan keluarnya," ucapnya usai bertemu dengan Gubernur.

Pihaknya akan melakukan pendataan ulang seluruh dokter spesialis atau calon dokter spesialis yang dimiliki Undip. Kemudian, dokter-dokter tersebut akan diterjunkan langsung ke lapangan untuk melakukan penelitian. 

"Dokter spesialis maupun calon spesialis yang sudah siap turun ke lapangan, akan kami identifikasi dan kita lakukan semacam KKN (Kuliah Kerja Nyata) Tematik. Itu kita sebar ke daerah-daerah," katanya.


Bagikan :

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi di wilayahnya. Upaya ini dilakukan sejak masa pranikah, perencanaan kehamilan, selama kehamilan, persalinan, hingga perawatan bayi. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menyampaikan, pemerintah sudah memberikan sejumlah fasilitas untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, di antaranya dengan memberikan layanan pemeriksaan kehamilan sebanyak 6 kali, fasilitas USG secara gratis sebanyak 2 kali untuk ibu hamil, serta pendampingan khusus bagi kehamilan dengan risiko tinggi. 

“Angka kematian ibu dan anak itu bisa dicegah. Banyak unsurnya, seperti dari sisi fasilitas, SDM (sumber daya manusia), dan masyarakatnya,” ucapnya saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., beraudiensi dengan Dekan dan Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) di Kota Semarang pada Kamis, 11 September 2025

Ia mengungkapkan, angka kematian ibu dan bayi di Jateng pada tahun 2024 mencapai 427 jiwa. Sementara itu, hingga Agustus 2025, angka kematian ibu dan bayi tercatat sebanyak 270 jiwa. 

Meskipun angka tersebut menunjukkan penurunan, Ka Dinkes menyampaikan bahwa upaya pencegahan dan penanganan tetap harus dilakukan. 

“Sebetulnya dibandingkan tahun lalu sudah turun, tetapi belum signifikan menurut kami," katanya.

Ka Dinkes Jateng menjelaskan, penyebab kematian ibu dan bayi rata-rata disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pendarahan, infeksi, serta eklampsia atau kondisi kejang serius pada wanita hamil, yang merupakan komplikasi akhir dari preeklampsia (hipertensi/tekanan darah tinggi selama kehamilan) dan bisa terjadi sebelum, selama, atau setelah persalinan, yang mengancam keselamatan ibu dan janin, jika tidak segera ditangani.

Ia menilai, peran dari Fakultas Kedokteran Undip yang turun langsung ke lapangan dengan melibatkan ahli akan sangat membantu Dinkes Jateng. Menurutnya, data dan bukti yang diperoleh secara langsung bisa menjadi dasar dalam merumuskan langkah strategis untuk menekan angka kematian ibu dan anak. 

Pada kesempatan itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengapresiasi Fakultas Kedokteran Undip atas bantuan yang diberikan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Ia menyampaikan, upaya ini merupakan sumbangsih nyata bagi Jawa Tengah. 

Gubernur juga berkomitmen untuk meningkatkan layanan kesehatan di Jateng, salah satunya dengan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang digagasnya bersama Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen. Ia mengungkapkan, program ini sudah berjalan dengan baik. Akan tetapi, saat ini kendala utama yang sedang dihadapi adalah keterbatasan jumlah dokter spesialis yang tersedia di daerah. 

“Makanya, saya minta bantuan universitas yang memiliki dokter spesialis untuk turun,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Dekan Fakultas Kedokteran Undip, Yan Wisnu Prajoko, mengatakan, tujuannya berkunjung ke Kantor Gubernur adalah melaporkan berbagai upaya yang sudah dilakukan Undip untuk memperbaiki atau menurunkan angka kematian ibu dan bayi. 

Ia menyampaikan, tepat tiga hari yang lalu, tim Fakultas Kedokteran Undip sudah melakukan penelitian sekaligus pengamatan di Kabupaten Brebes. Penerjunan lapangan ini berkaitan dengan persoalan kesehatan, SDM, fasilitas, tenaga kesehatan, kecepatan respons darurat, dan lainnya. 

"Kita akan berputar, tidak hanya di Brebes tetapi juga di kabupaten lain, berdasarkan masukan dari Dinas Kesehatan. Setiap daerah itu punya problematika sendiri-sendiri. Maka dari itu, kami dari akademisi akan turun mencari problematika spesifik tersebut, dan mencoba mencari jalan keluarnya," ucapnya usai bertemu dengan Gubernur.

Pihaknya akan melakukan pendataan ulang seluruh dokter spesialis atau calon dokter spesialis yang dimiliki Undip. Kemudian, dokter-dokter tersebut akan diterjunkan langsung ke lapangan untuk melakukan penelitian. 

"Dokter spesialis maupun calon spesialis yang sudah siap turun ke lapangan, akan kami identifikasi dan kita lakukan semacam KKN (Kuliah Kerja Nyata) Tematik. Itu kita sebar ke daerah-daerah," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu