Follow Us :              

15 Hari Bertahan di Hutan Pinus Aceh, Penderes Getah Asal Jateng Dipulangkan ke Kampung Halaman

  29 December 2025  |   14:30:00  |   dibaca : 487 
Kategori :
Bagikan :


15 Hari Bertahan di Hutan Pinus Aceh, Penderes Getah Asal Jateng Dipulangkan ke Kampung Halaman

29 December 2025 | 14:30:00 | dibaca : 487
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

JAKARTA - Air muka Sarto nampak bahagia saat turun dari pesawat Hercules di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta pada Senin, 29 Desember 2025. Senyuman tersungging di wajah Warga Majenang, Kabupaten Cilacap itu, bahkan ia mengucap syukur berkali-kali saat mendarat di lokasi tersebut. 

Sarto bercerita, selama berhari-hari ia berada di pengungsian setelah terjadinya banjir di Aceh. Saat bencana terjadi, ia dan enam temannya sedang menderes getah pinus di hutan. Mereka pun terjebak selama 15 hari di tengah hutan pinus daerah Linge, Kabupaten Aceh Tengah. 

“Kami terjebak di hutan tidak bisa keluar, makan pun sulit,” ucapnya saat ditemui di Halim Perdanakusuma.

Saat banjir mereda, seluruh akses sudah tertutup longsor, bahkan rumah yang mereka tinggali juga rusak parah. Selama 15 hari, Sarto dan enam rekannya bertahan dengan kondisi dan logistik seadanya. Sebab, tempat tinggal dan harta bendanya sudah hancur diterjang banjir dan longsor.

"Tempat tinggal juga sudah hancur di sana, untung ada makanan sedikit untuk kita bertahan di sana," katanya.

Di tengah keterbatasan persediaan makanan, mereka mencoba keluar dari hutan dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk sampai di tempat pengungsian. Jalan yang dilalui pun sangat terjal, curam, dan dipenuhi material longsor.

"Kami jalan kaki, jalannya naik-turun, melewati longsoran, sulit untuk jalan. Selama 8 tahun kerja di sana, baru kali ini ada kejadian seperti itu," tutur Sarto.

Sesampainya di pengungsian, kesulitan masih dirasakan oleh tujuh penderes tersebut karena pasokan logistik sering terhambat akibat akses jalan yang tertutup air dan tanah. 

Pada saat ditemui, Sarto mengaku bersyukur bisa dipulangkan ke tanah kelahirannya di Jawa Tengah. 

“Alhamdulillah sekarang sudah sampai di Jakarta, nanti lanjut ke kampung di Majenang, Cilacap," ucapnya. 

Ia berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang sudah memberikan fasilitas untuk pulang ke kampung halamannya. Sarti mengatakan, ia akan tinggal dulu di kampung, sembari membuka usaha.

"Mungkin bertahan dulu di kampung karena di sana juga belum pulih, mungkin mau coba usaha dulu di kampung," imbuhnya.

Penderes lainnya, Sarna Parjono, mengaku baru tujuh bulan bekerja sebagai penderes pinus di Aceh. Ia bersyukur bisa selamat dari bencana, meskipun kecemasan masih sering ia rasakan.

"Alhamdulillah sekali bisa pulang. Apalagi pas kejadian saat itu lagi di tempat kerja sama teman-teman," katanya.

Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, Sarido, mengatakan, ada 18 warga asal Jawa Tengah yang dipulangkan dari Aceh Tengah karena terdampak banjir dan longsor. Mereka dipulangkan menggunakan pesawat Hercules menuju ke Lanud Halim Perdanakusuma, kemudian diantarkan ke daerahnya masing-masing.

Adapun, sebanyak 18 warga asal Jateng itu, terdiri dari 16 warga Cilacap, 1 warga Brebes, dan 1 warga Pemalang.

"Secara umum warganya sehat, mudah-mudahan nanti perjalanan juga lancar dan segera sampai di kampung halaman masing-masing. Kami juga terus berkoordinasi dengan BPBD Aceh, apakah masih ada warga asal Jateng di sana, terus akan kami update," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, Pemprov Jateng berkomitmen memberikan perlindungan kepada warganya di mana pun mereka berada, termasuk warga yang berada di perantauan dan terdampak bencana. 

"Semuanya kita bantu. Dari segi transportasi kita bantu, bahkan nanti kembali ke daerahnya kita kasih modal usaha biar nanti bisa berusaha. Minimal mereka nanti pulang ke kampung bisa recovery di wilayah masing-masing," katanya beberapa waktu lalu.


Bagikan :

JAKARTA - Air muka Sarto nampak bahagia saat turun dari pesawat Hercules di Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta pada Senin, 29 Desember 2025. Senyuman tersungging di wajah Warga Majenang, Kabupaten Cilacap itu, bahkan ia mengucap syukur berkali-kali saat mendarat di lokasi tersebut. 

Sarto bercerita, selama berhari-hari ia berada di pengungsian setelah terjadinya banjir di Aceh. Saat bencana terjadi, ia dan enam temannya sedang menderes getah pinus di hutan. Mereka pun terjebak selama 15 hari di tengah hutan pinus daerah Linge, Kabupaten Aceh Tengah. 

“Kami terjebak di hutan tidak bisa keluar, makan pun sulit,” ucapnya saat ditemui di Halim Perdanakusuma.

Saat banjir mereda, seluruh akses sudah tertutup longsor, bahkan rumah yang mereka tinggali juga rusak parah. Selama 15 hari, Sarto dan enam rekannya bertahan dengan kondisi dan logistik seadanya. Sebab, tempat tinggal dan harta bendanya sudah hancur diterjang banjir dan longsor.

"Tempat tinggal juga sudah hancur di sana, untung ada makanan sedikit untuk kita bertahan di sana," katanya.

Di tengah keterbatasan persediaan makanan, mereka mencoba keluar dari hutan dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk sampai di tempat pengungsian. Jalan yang dilalui pun sangat terjal, curam, dan dipenuhi material longsor.

"Kami jalan kaki, jalannya naik-turun, melewati longsoran, sulit untuk jalan. Selama 8 tahun kerja di sana, baru kali ini ada kejadian seperti itu," tutur Sarto.

Sesampainya di pengungsian, kesulitan masih dirasakan oleh tujuh penderes tersebut karena pasokan logistik sering terhambat akibat akses jalan yang tertutup air dan tanah. 

Pada saat ditemui, Sarto mengaku bersyukur bisa dipulangkan ke tanah kelahirannya di Jawa Tengah. 

“Alhamdulillah sekarang sudah sampai di Jakarta, nanti lanjut ke kampung di Majenang, Cilacap," ucapnya. 

Ia berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang sudah memberikan fasilitas untuk pulang ke kampung halamannya. Sarti mengatakan, ia akan tinggal dulu di kampung, sembari membuka usaha.

"Mungkin bertahan dulu di kampung karena di sana juga belum pulih, mungkin mau coba usaha dulu di kampung," imbuhnya.

Penderes lainnya, Sarna Parjono, mengaku baru tujuh bulan bekerja sebagai penderes pinus di Aceh. Ia bersyukur bisa selamat dari bencana, meskipun kecemasan masih sering ia rasakan.

"Alhamdulillah sekali bisa pulang. Apalagi pas kejadian saat itu lagi di tempat kerja sama teman-teman," katanya.

Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, Sarido, mengatakan, ada 18 warga asal Jawa Tengah yang dipulangkan dari Aceh Tengah karena terdampak banjir dan longsor. Mereka dipulangkan menggunakan pesawat Hercules menuju ke Lanud Halim Perdanakusuma, kemudian diantarkan ke daerahnya masing-masing.

Adapun, sebanyak 18 warga asal Jateng itu, terdiri dari 16 warga Cilacap, 1 warga Brebes, dan 1 warga Pemalang.

"Secara umum warganya sehat, mudah-mudahan nanti perjalanan juga lancar dan segera sampai di kampung halaman masing-masing. Kami juga terus berkoordinasi dengan BPBD Aceh, apakah masih ada warga asal Jateng di sana, terus akan kami update," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, Pemprov Jateng berkomitmen memberikan perlindungan kepada warganya di mana pun mereka berada, termasuk warga yang berada di perantauan dan terdampak bencana. 

"Semuanya kita bantu. Dari segi transportasi kita bantu, bahkan nanti kembali ke daerahnya kita kasih modal usaha biar nanti bisa berusaha. Minimal mereka nanti pulang ke kampung bisa recovery di wilayah masing-masing," katanya beberapa waktu lalu.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu