Follow Us :              

Penanganan Banjir Pemalang Terus Dilakukan, Pemprov Jateng Upayakan Pemulihan Psikologis Warga    

  25 January 2026  |   12:00:00  |   dibaca : 334 
Kategori :
Bagikan :


Penanganan Banjir Pemalang Terus Dilakukan, Pemprov Jateng Upayakan Pemulihan Psikologis Warga    

25 January 2026 | 12:00:00 | dibaca : 334
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Adit (Humas Jateng)

PEMALANG – Pemerintah provinsi Jawa Tengah melakukan berbagai upaya untuk menangani bencana banjir di Kabupaten Pemalang. 

Selain menyelamatkan warga yang terdampak, pemulihan psikologis warga juga terus diupayakan. Sebab, banyak warga yang masih trauma terhadap bencana banjir bandang yang melanda daerah tersebut. 

Saat meninjau lokasi bencana, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan, para warga menceritakan pengalaman saat banjir bandang datang secara mendadak. 

Arus deras yang membawa lumpur dan kayu membuat warga panik, dan berusaha menyelamatkan diri dalam kondisi serba terbatas.

“Banjir ini terjadi bebarengan, tidak hanya di Kabupaten Pemalang, tetapi juga di wilayah bawah Gunung Slamet, seperti Purbalingga, sebagian Tegal, dan Kabupaten Brebes,” ucapnya saat meninjau lokasi terparah banjir bandang di Kawasan Lereng Gunung Slamet, Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang pada Minggu, 25 Januari 2025.

Ia menegaskan, prioritas utama pemerintah adalah keselamatan masyarakat serta pemulihan kondisi psikologis warga.

“Mereka masih trauma. Kami melihat ketika ada pemantik sedikit saja, emosinya sudah meluap-luap. Ini yang harus kita redakan dulu,” katanya.

Wagub mengatakan, pemerintah akan memikirkan secara serius aspek kesehatan fisik dan mental warga, termasuk pendampingan dan trauma healing, sebelum masuk ke tahap evaluasi dan penanganan lanjutan setelah terjadi bencana.

“Kita pikirkan bagaimana kesehatannya, bagaimana mentalnya, trauma healing-nya supaya bisa pulih kembali. Setelah itu baru kita evaluasi bersama,” ucapnya. 

Warga Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Sulastri (27), menjadi salah satu pengungsi yang masih terpukul atas bencana tersebut. Di hadapan Wagub, ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan musibah yang merenggut nyawa sang suami, Tanto (33).

Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026 sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu, Sulastri berada di bagian belakang rumah, sedangkan suaminya berada di depan.

“Kejadian pas pukul 02.00 WIB. Itu yang paling besar menghantam rumah-rumah. Datangnya dari belakang rumah,” katanya. 

Meskipun sempat terbawa arus, Sulastri masih bisa berpegangan kayu, hingga akhirnya selamat dari musibah itu. Akan tetapi, sang suami mengalami nasib sebaliknya.

Sulastri menyampaikan terima kasih atas perhatian dari Pemprov Jateng melalui pemberian santunan sebesar Rp10 juta. Rencananya, bantuan tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup ke depan.

Sementara itu, warga Desa Penakir lain, Supinah (62), mengatakan, ia bersama  pengungsi lain memilih bertahan di posko pengungsian sejak Jumat malam. Meskipun banjir sudah surut, ia mengaku masih takut kembali ke rumahnya.

“Rumah masih kotor. Saya biarkan dulu, yang penting saya selamat,” ujarnya.

Ia mengatakan, selama berada di pengungsian semua kebutuhan dasar terpenuhi, mulai dari makanan hingga pakaian.

“Baju dikasih, makan sehari tiga kali, terus dikasih camilan,” katanya.

Supinah berharap, cuaca segera membaik agar warga bisa kembali ke rumah tanpa dibayangi rasa takut bahwa bencana akan terulang kembali.


Bagikan :

PEMALANG – Pemerintah provinsi Jawa Tengah melakukan berbagai upaya untuk menangani bencana banjir di Kabupaten Pemalang. 

Selain menyelamatkan warga yang terdampak, pemulihan psikologis warga juga terus diupayakan. Sebab, banyak warga yang masih trauma terhadap bencana banjir bandang yang melanda daerah tersebut. 

Saat meninjau lokasi bencana, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan, para warga menceritakan pengalaman saat banjir bandang datang secara mendadak. 

Arus deras yang membawa lumpur dan kayu membuat warga panik, dan berusaha menyelamatkan diri dalam kondisi serba terbatas.

“Banjir ini terjadi bebarengan, tidak hanya di Kabupaten Pemalang, tetapi juga di wilayah bawah Gunung Slamet, seperti Purbalingga, sebagian Tegal, dan Kabupaten Brebes,” ucapnya saat meninjau lokasi terparah banjir bandang di Kawasan Lereng Gunung Slamet, Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang pada Minggu, 25 Januari 2025.

Ia menegaskan, prioritas utama pemerintah adalah keselamatan masyarakat serta pemulihan kondisi psikologis warga.

“Mereka masih trauma. Kami melihat ketika ada pemantik sedikit saja, emosinya sudah meluap-luap. Ini yang harus kita redakan dulu,” katanya.

Wagub mengatakan, pemerintah akan memikirkan secara serius aspek kesehatan fisik dan mental warga, termasuk pendampingan dan trauma healing, sebelum masuk ke tahap evaluasi dan penanganan lanjutan setelah terjadi bencana.

“Kita pikirkan bagaimana kesehatannya, bagaimana mentalnya, trauma healing-nya supaya bisa pulih kembali. Setelah itu baru kita evaluasi bersama,” ucapnya. 

Warga Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Sulastri (27), menjadi salah satu pengungsi yang masih terpukul atas bencana tersebut. Di hadapan Wagub, ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan musibah yang merenggut nyawa sang suami, Tanto (33).

Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu, 17 Januari 2026 sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu, Sulastri berada di bagian belakang rumah, sedangkan suaminya berada di depan.

“Kejadian pas pukul 02.00 WIB. Itu yang paling besar menghantam rumah-rumah. Datangnya dari belakang rumah,” katanya. 

Meskipun sempat terbawa arus, Sulastri masih bisa berpegangan kayu, hingga akhirnya selamat dari musibah itu. Akan tetapi, sang suami mengalami nasib sebaliknya.

Sulastri menyampaikan terima kasih atas perhatian dari Pemprov Jateng melalui pemberian santunan sebesar Rp10 juta. Rencananya, bantuan tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup ke depan.

Sementara itu, warga Desa Penakir lain, Supinah (62), mengatakan, ia bersama  pengungsi lain memilih bertahan di posko pengungsian sejak Jumat malam. Meskipun banjir sudah surut, ia mengaku masih takut kembali ke rumahnya.

“Rumah masih kotor. Saya biarkan dulu, yang penting saya selamat,” ujarnya.

Ia mengatakan, selama berada di pengungsian semua kebutuhan dasar terpenuhi, mulai dari makanan hingga pakaian.

“Baju dikasih, makan sehari tiga kali, terus dikasih camilan,” katanya.

Supinah berharap, cuaca segera membaik agar warga bisa kembali ke rumah tanpa dibayangi rasa takut bahwa bencana akan terulang kembali.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu