Follow Us :              

Panen Raya Padi Serentak di Jateng, Diperkirakan 3,35 Juta Ton Tercapai pada Awal Tahun

  20 February 2026  |   07:00:00  |   dibaca : 87 
Kategori :
Bagikan :


Panen Raya Padi Serentak di Jateng, Diperkirakan 3,35 Juta Ton Tercapai pada Awal Tahun

20 February 2026 | 07:00:00 | dibaca : 87
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

KAB SEMARANG — Provinsi Jawa Tengah memulai panen raya padi secara serentak di 35 Kabupaten/Kota untuk periode Januari–Maret 2026. 

Panen raya yang secara simbolis dipusatkan di lahan sawah Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., pada Jumat, 20 Februari 2026.

Diperkirakan, panen raya padi di Jateng akan mencapai sekitar 3,35 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini meningkat sebesar 413.698 ton GKG atau sekitar 14% dari periode yang sama pada tahun 2025. Perkiraan ini merupakan hasil penghitungan dari Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah.

Pada kesempatan itu, Gubernur mengatakan, arah kebijakan Jateng tahun 2026 adalah mewujudkan swasembada pangan. 

Target luas tanam padi untuk seluruh wilayah Jateng periode Januari–Desember 2026 sekitar 2,38 Juta hektare. Realisasi hingga 18 Februari 2026, mencapai 216.098 hektare. 

Sementara itu, target produksi padi Jateng tahun 2026 sebesar 10,55 juta ton GKG, atau naik 12,22% dari realisasi tahun 2025 yang mencapai 9,3 juta ton.

"Tahun 2025 kemarin, kita bisa dapat kontribusi 15% untuk nasional, tahun 2026 harus meningkat," ucap Gubernur usai mengawali panen raya didampingi Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, dan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Jateng, Sri Muniati.

Guna memenuhi target tersebut, Gubernur menginstruksikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, untuk meningkatkan kolaborasi 35 kabupaten/kota di wilayahnya. 

Diketahui, pada Januari lalu sudah dilakukan penandatanganan komitmen bersama terkait Target Kinerja Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026, dengan seluruh bupati dan wali kota. 

"Konektivitas dengan 35 kabupaten/kota dalam mempertahankan lahan, mekanisasi terkait alat, serta tidak kalah pentingnya adalah Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) kita openi (bina), dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen," ucap Gubernur.

Dalam panen raya kali ini juga diperkenalkan sistem dan mekanisasi panen menggunakan mesin. Cara panen ini dikenal dengan sistem sepur yang dapat mempersingkat waktu panen dan tanam.

"Pakai alat tadi terbukti memang lebih cepat," ujar Gubernur.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, sistem sepur yang dimaksud adalah pemakaian alat panen, pengolahan sawah, dan mesin tanam dalam satu waktu. 

Cara kerjanya, bagian depan combine harvester digunakan untuk panen padi. Kemudian di belakangnya, berjarak 2-3 meter sudah berjalan mesin pengolah sawah dan drone untuk menyiram cairan dekomposer jerami untuk mempercepat proses pengubahan jerami menjadi bahan organik. Setelah itu, ada mesin rice transplanter untuk menanam padi ketika lahan sudah siap.

“Berurutan seperti sepur atau kereta. Ini mempersingkat waktu. Jadi panen-tanam, panen-tanam. Sistem ini untuk optimalisasi lahan. Petani di sini sudah kami latih," katanya.

Sistem sepur dapat mempersingkat serta menghemat waktu dan lahan sampai sekitar 90% dibandingkan dengan pengolahan manual. Misal untuk lahan seluas 2 hektare, pengolahan menggunakan sistem sepur dan alat mekanis ini bisa selesai dalam waktu satu hari, sedangkan saat menggunakan sistem manual bisa sampai 10 hari.

"Ubinan juga sudah kami lakukan dengan ukuran 25 meter persegi, hasil rata-rata 6 ton per kotak ubinan. Jika maksimal, 1 hektare (lahan) bisa mencapai rata-rata 9,6 ton. Ini tergantung dengan irigasi, pemupukan, dan pembibitan juga," jelasnya.


Bagikan :

KAB SEMARANG — Provinsi Jawa Tengah memulai panen raya padi secara serentak di 35 Kabupaten/Kota untuk periode Januari–Maret 2026. 

Panen raya yang secara simbolis dipusatkan di lahan sawah Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., pada Jumat, 20 Februari 2026.

Diperkirakan, panen raya padi di Jateng akan mencapai sekitar 3,35 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini meningkat sebesar 413.698 ton GKG atau sekitar 14% dari periode yang sama pada tahun 2025. Perkiraan ini merupakan hasil penghitungan dari Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah.

Pada kesempatan itu, Gubernur mengatakan, arah kebijakan Jateng tahun 2026 adalah mewujudkan swasembada pangan. 

Target luas tanam padi untuk seluruh wilayah Jateng periode Januari–Desember 2026 sekitar 2,38 Juta hektare. Realisasi hingga 18 Februari 2026, mencapai 216.098 hektare. 

Sementara itu, target produksi padi Jateng tahun 2026 sebesar 10,55 juta ton GKG, atau naik 12,22% dari realisasi tahun 2025 yang mencapai 9,3 juta ton.

"Tahun 2025 kemarin, kita bisa dapat kontribusi 15% untuk nasional, tahun 2026 harus meningkat," ucap Gubernur usai mengawali panen raya didampingi Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, dan Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) Jateng, Sri Muniati.

Guna memenuhi target tersebut, Gubernur menginstruksikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, untuk meningkatkan kolaborasi 35 kabupaten/kota di wilayahnya. 

Diketahui, pada Januari lalu sudah dilakukan penandatanganan komitmen bersama terkait Target Kinerja Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026, dengan seluruh bupati dan wali kota. 

"Konektivitas dengan 35 kabupaten/kota dalam mempertahankan lahan, mekanisasi terkait alat, serta tidak kalah pentingnya adalah Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) kita openi (bina), dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen," ucap Gubernur.

Dalam panen raya kali ini juga diperkenalkan sistem dan mekanisasi panen menggunakan mesin. Cara panen ini dikenal dengan sistem sepur yang dapat mempersingkat waktu panen dan tanam.

"Pakai alat tadi terbukti memang lebih cepat," ujar Gubernur.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, sistem sepur yang dimaksud adalah pemakaian alat panen, pengolahan sawah, dan mesin tanam dalam satu waktu. 

Cara kerjanya, bagian depan combine harvester digunakan untuk panen padi. Kemudian di belakangnya, berjarak 2-3 meter sudah berjalan mesin pengolah sawah dan drone untuk menyiram cairan dekomposer jerami untuk mempercepat proses pengubahan jerami menjadi bahan organik. Setelah itu, ada mesin rice transplanter untuk menanam padi ketika lahan sudah siap.

“Berurutan seperti sepur atau kereta. Ini mempersingkat waktu. Jadi panen-tanam, panen-tanam. Sistem ini untuk optimalisasi lahan. Petani di sini sudah kami latih," katanya.

Sistem sepur dapat mempersingkat serta menghemat waktu dan lahan sampai sekitar 90% dibandingkan dengan pengolahan manual. Misal untuk lahan seluas 2 hektare, pengolahan menggunakan sistem sepur dan alat mekanis ini bisa selesai dalam waktu satu hari, sedangkan saat menggunakan sistem manual bisa sampai 10 hari.

"Ubinan juga sudah kami lakukan dengan ukuran 25 meter persegi, hasil rata-rata 6 ton per kotak ubinan. Jika maksimal, 1 hektare (lahan) bisa mencapai rata-rata 9,6 ton. Ini tergantung dengan irigasi, pemupukan, dan pembibitan juga," jelasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu