Follow Us :              

Setahun Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Memimpin, Ekonomi Jateng Tumbuh dan Angka Kemiskinan Turun 

  20 February 2026  |   00:00:00  |   dibaca : 213 
Kategori :
Bagikan :


Setahun Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Memimpin, Ekonomi Jateng Tumbuh dan Angka Kemiskinan Turun 

20 February 2026 | 00:00:00 | dibaca : 213
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

SEMARANG – Tepat satu tahun Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Taj Yasin Maimoen memimpin Jawa Tengah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Periode 2025–2030. Selama setahun, banyak dinamika terjadi dan berbagai prestasi berhasil diraih. 

Berbagai dinamika yang cukup menyita perhatian pun muncul. Salah satunya, bencana hidrometeorologi yang melanda banyak daerah di Jateng, mulai dari longsor, tanah gerak, rob, hingga banjir. Beberapa bencana dengan skala besar, antara lain banjir bandang dan tanggul jebol di Demak, rob di Sayung Demak, longsor di Lereng Gunung Slamet (Banjarnegara dan Cilacap), tanah gerak di Kabupaten Tegal, dan lainnya. 

Dengan segala upaya dan kesigapannya, Pemerintah Provinsi Jateng melakukan langkah-langkah komprehensif untuk menangani berbagai bencana, mulai dari penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana yang dilakukan secara simultan dan berkelanjutan.

Terlepas dari terjadinya bencana alam, program yang digulirkan oleh Gubernur dan Wagub tetap terlaksana dengan baik. Program-program tersebut menghasilkan berbagai capaian serta mampu memajukan wilayah di berbagai sektor, seperti infrastruktur, investasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sebagainya. 

Tidak hanya itu, berbagai program yang berpihak kepada masyarakat pun terus dilakukan, seperti pemeriksaan kesehatan gratis melalui program Dokter Spesialis Keliling (Speling), pendidikan gratis melalui Sekolah Kemitraan, beasiswa santri, perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Rumah Rakyat, dan lainnya.

Upaya-upaya tersebut dilakukan demi pembangunan daerah dan kesejahteraan warga. Gubernur dan Wagub paham betul mengenai persoalan yang ada wilayahnya. Untuk mengetahui apa yang terjadi di daerah, keduanya terbuka dan menerima saran dari berbagai elemen melalui kanal-kanal yang telah disediakan. Mereka pun tak ragu menyambangi dan mengobrol dengan warganya agar mendapatkan masukan dan solusi dari setiap persoalan yang dikeluhkan. 

Selama satu tahun, Gubernur dan Wagub juga aktif menggandeng berbagai stakeholder, mulai dari bupati/wali kota, perguruan tinggi, pengusaha, investor, provinsi tetangga, negara-negara sahabat, organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, dan lainnya. Langkah ini yang disebut Gubernur sebagai collaborative government (pemerintahan kolaboratif). 

"Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah," ucapnya beberapa waktu lalu. 

Pemprov Jateng dan pemerintah kabupaten/kota tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Maka dari itu, dibutuhkan adanya kolaborasi dari semua pihak. Keterlibatan aktif dari seluruh elemen dalam memajukan dan mengembangkan wilayah menjadi sangat penting. Nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, kolaborasi, dan kerja sama tim menjadi nafas yang dimiliki Jateng dalam mengembangkan setiap sektor.

Ikhtiar tersebut telah membuahkan hasil. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan IV 2025 mencapai 5,37% (y-on-y). Bahkan, angka itu berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional (5,11%). Capaian ini menempatkan Jateng sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa. 

Nilai realisasi investasi Jateng tahun 2025 sebanyak Rp88,50 triliun, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun. Diketahui, angka ini menjadi capaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Adapun dari nilai investasi itu, sebanyak 105.078 proyek berhasil terealisasi, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang.

Tidak hanya sekadar angka makro, pertumbuhan ini terbukti berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat dengan turunnya angka kemiskinan secara signifikan. Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan di Jateng berhasil ditekan dari 9,48% pada Maret 2025 menjadi 9,39% pada September 2025. 

Jumlah penduduk miskin di Jateng pada September 2025 sebanyak 3,34 juta orang, atau mengalami penurunan sebanyak 21,87 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Angka ini pun turun 51,52 ribu orang dibandingkan September 2024 (3,40 juta orang).

Bukan hanya itu, rasio gini pada 2025 berada di angka 0,350. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan pendapatan penduduk semakin menyempit. 

Peningkatan ekonomi juga tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita masyarakat Jateng yang kini mencapai Rp50,82 juta, atau naik 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka (TPT) tetap berada pada angka 4,32% per November 2025.

Meskipun demikian, Pemprov Jateng menyadari masih ada pekerjaan rumah pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang saat ini berada pada angka 74,77. Sebagai informasi, IPM menjadi indikator untuk menilai capaian pembangunan kualitas hidup manusia di suatu wilayah.

"Angka kemiskinan kita bisa turunkan, kita semakin baik, maka (IPM) harus kita tingkatkan," ucap Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, beberapa waktu lalu. 

Ia menyatakan, pertumbuhan ekonomi Jateng yang berada di atas nasional ini harus terus dijaga dan diarahkan untuk program-program yang menyentuh masyarakat.

"Penurunan angka kemiskinan harus kita masifkan lagi. Anggaran harus mengarah kepada penurunan kemiskinan secara bersama-sama, termasuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi kelompok disabilitas, agar kualitas hidup mereka meningkat," tegasnya.

Angka-angka tersebut tidak hanya sebatas data, tetapi benar-benar terasa bagi warga. Pada Agustus 2025, sebanyak 2.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Brebes resmi keluar dari data kemiskinan. Mereka tidak lagi menjadi penerima bantuan sosial (bansos) dan siap hidup mandiri.  

Salah satu peserta graduasi kemiskinan di Brebes, Setia Puji, mengaku bahwa ia menerima bansos dari tahun 2020-2025. Ia sempat tidak memiliki penghasilan usai kembali dari ibu kota. Kemudian, Setia bertekad untuk mengembangkan usaha bakso keliling. Kini usahanya semakin berkembang, dan ia mampu mencukupi kebutuhan keluarganya sendiri. 

"Bantuan yang diberikan kemarin sangat meringankan beban kami. Akan tetapi, motivasi saya (harus) bisa mandiri. Kini ekonomi kami lebih mampu," katanya.

Berbagai upaya kolaboratif yang dilakukan oleh Gubernur dan Wagub dalam menggenjot investasi dan menumbuhkan ekonomi menuai banyak apresiasi. Salah satunya dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan. 

Luhut mengapresiasi kolaborasi dan kerja sama yang dilakukan oleh Gubernur dan Wagub dalam membangun daerah, menumbuhkan perekonomian, serta meningkatkan investasi. 

Menurutnya, berbagai upaya yang dilakukan mampu menjadikan Jateng sebagai magnet bagi para investor, bahkan mereka senang untuk berinvestasi di provinsi ini. 

Tak hanya itu, Pemprov Jateng meraih setidaknya 40 penghargaan dari berbagai lembaga selama tahun 2025. 

Meskipun demikian, Gubernur menegaskan bahwa sederet penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhirnya.

"Tetapi pengingat agar kebijakan yang kami jalankan benar-benar berdampak, melayani masyarakat, menjaga integritas, menstabilkan ekonomi, dan membuka ruang investasi seluas-luasnya," ucapnya. 

Ia menyampaikan, membangun Jateng adalah proses ngopeni (merawat). Ia menyadari bahwa masih ada lubang-lubang yang harus ditambal dan persoalan-persoalan yang harus diselesaikan bersama-sama. 

“Inilah alasan mengapa kolaborasi tidak boleh berhenti, karena tugas melayani rakyat adalah amanah yang tidak ada ujungnya,” ujarnya.


Bagikan :

SEMARANG – Tepat satu tahun Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Taj Yasin Maimoen memimpin Jawa Tengah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Periode 2025–2030. Selama setahun, banyak dinamika terjadi dan berbagai prestasi berhasil diraih. 

Berbagai dinamika yang cukup menyita perhatian pun muncul. Salah satunya, bencana hidrometeorologi yang melanda banyak daerah di Jateng, mulai dari longsor, tanah gerak, rob, hingga banjir. Beberapa bencana dengan skala besar, antara lain banjir bandang dan tanggul jebol di Demak, rob di Sayung Demak, longsor di Lereng Gunung Slamet (Banjarnegara dan Cilacap), tanah gerak di Kabupaten Tegal, dan lainnya. 

Dengan segala upaya dan kesigapannya, Pemerintah Provinsi Jateng melakukan langkah-langkah komprehensif untuk menangani berbagai bencana, mulai dari penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana yang dilakukan secara simultan dan berkelanjutan.

Terlepas dari terjadinya bencana alam, program yang digulirkan oleh Gubernur dan Wagub tetap terlaksana dengan baik. Program-program tersebut menghasilkan berbagai capaian serta mampu memajukan wilayah di berbagai sektor, seperti infrastruktur, investasi, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sebagainya. 

Tidak hanya itu, berbagai program yang berpihak kepada masyarakat pun terus dilakukan, seperti pemeriksaan kesehatan gratis melalui program Dokter Spesialis Keliling (Speling), pendidikan gratis melalui Sekolah Kemitraan, beasiswa santri, perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Rumah Rakyat, dan lainnya.

Upaya-upaya tersebut dilakukan demi pembangunan daerah dan kesejahteraan warga. Gubernur dan Wagub paham betul mengenai persoalan yang ada wilayahnya. Untuk mengetahui apa yang terjadi di daerah, keduanya terbuka dan menerima saran dari berbagai elemen melalui kanal-kanal yang telah disediakan. Mereka pun tak ragu menyambangi dan mengobrol dengan warganya agar mendapatkan masukan dan solusi dari setiap persoalan yang dikeluhkan. 

Selama satu tahun, Gubernur dan Wagub juga aktif menggandeng berbagai stakeholder, mulai dari bupati/wali kota, perguruan tinggi, pengusaha, investor, provinsi tetangga, negara-negara sahabat, organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, dan lainnya. Langkah ini yang disebut Gubernur sebagai collaborative government (pemerintahan kolaboratif). 

"Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah," ucapnya beberapa waktu lalu. 

Pemprov Jateng dan pemerintah kabupaten/kota tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Maka dari itu, dibutuhkan adanya kolaborasi dari semua pihak. Keterlibatan aktif dari seluruh elemen dalam memajukan dan mengembangkan wilayah menjadi sangat penting. Nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, kolaborasi, dan kerja sama tim menjadi nafas yang dimiliki Jateng dalam mengembangkan setiap sektor.

Ikhtiar tersebut telah membuahkan hasil. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan IV 2025 mencapai 5,37% (y-on-y). Bahkan, angka itu berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional (5,11%). Capaian ini menempatkan Jateng sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa. 

Nilai realisasi investasi Jateng tahun 2025 sebanyak Rp88,50 triliun, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun. Diketahui, angka ini menjadi capaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Adapun dari nilai investasi itu, sebanyak 105.078 proyek berhasil terealisasi, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang.

Tidak hanya sekadar angka makro, pertumbuhan ini terbukti berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat dengan turunnya angka kemiskinan secara signifikan. Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan di Jateng berhasil ditekan dari 9,48% pada Maret 2025 menjadi 9,39% pada September 2025. 

Jumlah penduduk miskin di Jateng pada September 2025 sebanyak 3,34 juta orang, atau mengalami penurunan sebanyak 21,87 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Angka ini pun turun 51,52 ribu orang dibandingkan September 2024 (3,40 juta orang).

Bukan hanya itu, rasio gini pada 2025 berada di angka 0,350. Hal ini mengindikasikan bahwa ketimpangan pendapatan penduduk semakin menyempit. 

Peningkatan ekonomi juga tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita masyarakat Jateng yang kini mencapai Rp50,82 juta, atau naik 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka (TPT) tetap berada pada angka 4,32% per November 2025.

Meskipun demikian, Pemprov Jateng menyadari masih ada pekerjaan rumah pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang saat ini berada pada angka 74,77. Sebagai informasi, IPM menjadi indikator untuk menilai capaian pembangunan kualitas hidup manusia di suatu wilayah.

"Angka kemiskinan kita bisa turunkan, kita semakin baik, maka (IPM) harus kita tingkatkan," ucap Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, beberapa waktu lalu. 

Ia menyatakan, pertumbuhan ekonomi Jateng yang berada di atas nasional ini harus terus dijaga dan diarahkan untuk program-program yang menyentuh masyarakat.

"Penurunan angka kemiskinan harus kita masifkan lagi. Anggaran harus mengarah kepada penurunan kemiskinan secara bersama-sama, termasuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi kelompok disabilitas, agar kualitas hidup mereka meningkat," tegasnya.

Angka-angka tersebut tidak hanya sebatas data, tetapi benar-benar terasa bagi warga. Pada Agustus 2025, sebanyak 2.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Brebes resmi keluar dari data kemiskinan. Mereka tidak lagi menjadi penerima bantuan sosial (bansos) dan siap hidup mandiri.  

Salah satu peserta graduasi kemiskinan di Brebes, Setia Puji, mengaku bahwa ia menerima bansos dari tahun 2020-2025. Ia sempat tidak memiliki penghasilan usai kembali dari ibu kota. Kemudian, Setia bertekad untuk mengembangkan usaha bakso keliling. Kini usahanya semakin berkembang, dan ia mampu mencukupi kebutuhan keluarganya sendiri. 

"Bantuan yang diberikan kemarin sangat meringankan beban kami. Akan tetapi, motivasi saya (harus) bisa mandiri. Kini ekonomi kami lebih mampu," katanya.

Berbagai upaya kolaboratif yang dilakukan oleh Gubernur dan Wagub dalam menggenjot investasi dan menumbuhkan ekonomi menuai banyak apresiasi. Salah satunya dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan. 

Luhut mengapresiasi kolaborasi dan kerja sama yang dilakukan oleh Gubernur dan Wagub dalam membangun daerah, menumbuhkan perekonomian, serta meningkatkan investasi. 

Menurutnya, berbagai upaya yang dilakukan mampu menjadikan Jateng sebagai magnet bagi para investor, bahkan mereka senang untuk berinvestasi di provinsi ini. 

Tak hanya itu, Pemprov Jateng meraih setidaknya 40 penghargaan dari berbagai lembaga selama tahun 2025. 

Meskipun demikian, Gubernur menegaskan bahwa sederet penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhirnya.

"Tetapi pengingat agar kebijakan yang kami jalankan benar-benar berdampak, melayani masyarakat, menjaga integritas, menstabilkan ekonomi, dan membuka ruang investasi seluas-luasnya," ucapnya. 

Ia menyampaikan, membangun Jateng adalah proses ngopeni (merawat). Ia menyadari bahwa masih ada lubang-lubang yang harus ditambal dan persoalan-persoalan yang harus diselesaikan bersama-sama. 

“Inilah alasan mengapa kolaborasi tidak boleh berhenti, karena tugas melayani rakyat adalah amanah yang tidak ada ujungnya,” ujarnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu