Follow Us :              

Memotret Inklusivitas Perayaan Imlek di Pasar Semawis Semarang

  14 February 2026  |   20:00:00  |   dibaca : 372 
Kategori :
Bagikan :


Memotret Inklusivitas Perayaan Imlek di Pasar Semawis Semarang

14 February 2026 | 20:00:00 | dibaca : 372
Kategori :
Bagikan :

Foto : Sigit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Sigit (Humas Jateng)

SEMARANG — Imlek tidak hanya menjadi momen perayaan tahun baru bagi etnis Tionghoa, tetapi juga diramaikan oleh hampir seluruh etnis di Jawa Tengah maupun Nusantara. 

Hal itu sebagaimana terlihat dalam gelaran Pasar Imlek Semawis 2026 di Kawasan Pecinan, Kota Semarang, yang dikunjungi oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, pada Sabtu malam, 14 Februari 2026.

Pasar Imlek Semawis yang digelar di Jalan Gang Pinggir sampai ujung Jalan Wotgandul Timur itu dipenuhi oleh masyarakat, mulai dari pedagang sampai pengunjung dari berbagai etnis. Keberagaman memang menjadi konsep yang ditonjolkan pada gelaran Imlek tahun 2026, sebagai wujud kebersamaan dan kekuatan yang membuat Pasar Imlek Semawis Semarang terus hidup dan tumbuh hingga saat ini.

Pengurus Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim, menyatakan, gelaran Pasar Imlek Semawis bertujuan untuk menghidupkan kembali tradisi yang sudah ada sejak dulu di Kota Semarang.

"Dulu, orang Tionghoa saat menjelang Imlek itu belanja sampai malam, itu cuma semalam. Lalu dihidupkan kembali menjadi sebuah perayaan tiga hari, Pasar Imlek Semawis. Tidak cuma jajanan pasar saja, tetapi juga ada banyak kuliner dan UMKM, pernik-pernik, acara budaya dan sosial, yang menunjukkan keberagaman di Kota Semarang," katanya.

Dalam gelaran Pasar Imlek Semawis tahun ini, para panitia sengaja menghadirkan tokoh-tokoh mitos Tionghoa, seperti Sun Go Kong dan Dewi Kwan Im dipadukan dengan tokoh-tokoh wayang Jawa. Pada acara pembukaan juga disuguhkan makanan bagi muslim Tionghoa yang didatangkan dari Xinjiang.

"Tahun ini kami juga mengimbau (para pengunjung) untuk mengenakan kebaya. Tadi memang terlihat belum banyak, tetapi sudah ada juga yang mulai mengenakan kebaya kalau saya lihat," ujarnya.

Harjanto menuturkan, keberagaman etnis, agama, dan budaya di Pecinan Semarang sudah seperti Indonesia mini. Bahkan di kawasan Pecinan ada warung nasi ayam Bu Pini. Seorang penjual nasi ayam yang dulu menggunakan gendongan, hingga kini sudah mampu membeli ruko untuk warungnya. 

"Beliau Jawa dan bisa bersaing dengan orang Tionghoa di Pencinan. Jadi kalau enak dan harganya masuk akal ya pasti laku," tuturnya.

Keberagaman yang ada di Pasar Imlek Semawis membuat kagum Gubernur dan Wapres. Hal itu disampaikan langsung saat keduanya berkeliling di sepanjang Pasar Imlek Semawis.

Keduanya tampak menikmati suasana di Pasar Imlek Semawis. Mereka terlihat berbaur dengan para pengunjung, bahkan Wapres sempat berbelanja di beberapa stan serta melayani permintaan foto dari masyarakat.

"Beliau senang dengan kegiatan ini, karena bisa menghidupkan ekonomi rakyat. Keberagamannya juga terasa sekali. Beliau berpesan agar tradisi Pasar Imlek Semawis ini jangan sampai hilang. Tradisi ini kan susah untuk memulai, jadi kalau sudah berjalan ya dirawat, apalagi melihat keberagaman yang sudah terjadi di sini," ucap Harjanto.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan bahwa tradisi yang sudah ada harus terus dilestarikan. Ia memberikan dukungan terkait rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menyambut tahun baru Imlek, baik Pasar Imlek Semawis maupun kegiatan yang digelar di tempat lain, seperti Klenteng Sam Poo Kong.

Banyaknya event yang diselenggarakan akan sangat membantu pertumbuhan pariwisata di Kota Semarang dan Jawa Tengah. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menunjukkan adanya toleransi dan keberagaman yang sangat besar di Jateng, serta menjadi kekuatan dan nafas dari pembangunan wilayah.


Bagikan :

SEMARANG — Imlek tidak hanya menjadi momen perayaan tahun baru bagi etnis Tionghoa, tetapi juga diramaikan oleh hampir seluruh etnis di Jawa Tengah maupun Nusantara. 

Hal itu sebagaimana terlihat dalam gelaran Pasar Imlek Semawis 2026 di Kawasan Pecinan, Kota Semarang, yang dikunjungi oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, pada Sabtu malam, 14 Februari 2026.

Pasar Imlek Semawis yang digelar di Jalan Gang Pinggir sampai ujung Jalan Wotgandul Timur itu dipenuhi oleh masyarakat, mulai dari pedagang sampai pengunjung dari berbagai etnis. Keberagaman memang menjadi konsep yang ditonjolkan pada gelaran Imlek tahun 2026, sebagai wujud kebersamaan dan kekuatan yang membuat Pasar Imlek Semawis Semarang terus hidup dan tumbuh hingga saat ini.

Pengurus Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Harjanto Halim, menyatakan, gelaran Pasar Imlek Semawis bertujuan untuk menghidupkan kembali tradisi yang sudah ada sejak dulu di Kota Semarang.

"Dulu, orang Tionghoa saat menjelang Imlek itu belanja sampai malam, itu cuma semalam. Lalu dihidupkan kembali menjadi sebuah perayaan tiga hari, Pasar Imlek Semawis. Tidak cuma jajanan pasar saja, tetapi juga ada banyak kuliner dan UMKM, pernik-pernik, acara budaya dan sosial, yang menunjukkan keberagaman di Kota Semarang," katanya.

Dalam gelaran Pasar Imlek Semawis tahun ini, para panitia sengaja menghadirkan tokoh-tokoh mitos Tionghoa, seperti Sun Go Kong dan Dewi Kwan Im dipadukan dengan tokoh-tokoh wayang Jawa. Pada acara pembukaan juga disuguhkan makanan bagi muslim Tionghoa yang didatangkan dari Xinjiang.

"Tahun ini kami juga mengimbau (para pengunjung) untuk mengenakan kebaya. Tadi memang terlihat belum banyak, tetapi sudah ada juga yang mulai mengenakan kebaya kalau saya lihat," ujarnya.

Harjanto menuturkan, keberagaman etnis, agama, dan budaya di Pecinan Semarang sudah seperti Indonesia mini. Bahkan di kawasan Pecinan ada warung nasi ayam Bu Pini. Seorang penjual nasi ayam yang dulu menggunakan gendongan, hingga kini sudah mampu membeli ruko untuk warungnya. 

"Beliau Jawa dan bisa bersaing dengan orang Tionghoa di Pencinan. Jadi kalau enak dan harganya masuk akal ya pasti laku," tuturnya.

Keberagaman yang ada di Pasar Imlek Semawis membuat kagum Gubernur dan Wapres. Hal itu disampaikan langsung saat keduanya berkeliling di sepanjang Pasar Imlek Semawis.

Keduanya tampak menikmati suasana di Pasar Imlek Semawis. Mereka terlihat berbaur dengan para pengunjung, bahkan Wapres sempat berbelanja di beberapa stan serta melayani permintaan foto dari masyarakat.

"Beliau senang dengan kegiatan ini, karena bisa menghidupkan ekonomi rakyat. Keberagamannya juga terasa sekali. Beliau berpesan agar tradisi Pasar Imlek Semawis ini jangan sampai hilang. Tradisi ini kan susah untuk memulai, jadi kalau sudah berjalan ya dirawat, apalagi melihat keberagaman yang sudah terjadi di sini," ucap Harjanto.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan bahwa tradisi yang sudah ada harus terus dilestarikan. Ia memberikan dukungan terkait rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menyambut tahun baru Imlek, baik Pasar Imlek Semawis maupun kegiatan yang digelar di tempat lain, seperti Klenteng Sam Poo Kong.

Banyaknya event yang diselenggarakan akan sangat membantu pertumbuhan pariwisata di Kota Semarang dan Jawa Tengah. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menunjukkan adanya toleransi dan keberagaman yang sangat besar di Jateng, serta menjadi kekuatan dan nafas dari pembangunan wilayah.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu