Follow Us :              

Tandai Hadirnya Ramadan, Dugderan Jadi Tradisi Sarat Makna Spiritual dan Sosial

  16 February 2026  |   16:00:00  |   dibaca : 159 
Kategori :
Bagikan :


Tandai Hadirnya Ramadan, Dugderan Jadi Tradisi Sarat Makna Spiritual dan Sosial

16 February 2026 | 16:00:00 | dibaca : 159
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Mizan (Humas Jateng)

SEMARANG – Dentuman bedug dan gelegar meriam Kolontoko kembali menandai hadirnya Ramadan di Kota Semarang. Pada akhir Sya’ban 1447 Hijriah, tradisi untuk menyongsong bulan suci itu kembali digelar meriah dengan Kirab Dugderan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) pada Senin, 16 Februari 2026.

Tradisi yang sudah ada sejak 1881 ini kembali menghadirkan nuansa khas budaya Semarang. Dalam kirab ini, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, berperan sebagai Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawirapradja. Sementara Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, tampil sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbadiningrum.

Sesaat sebelum bedug ditabuh, Suhuf Halaqah dibacakan oleh Sekda setelah diterima secara simbolis dari Wali Kota Semarang. Bedug Ijo Mangunsari sepanjang 3,1 meter dengan diameter 2,2 meter pun ditabuh, diiringi bunyi meriam Kolontoko yang memecah langit Semarang.

Tak ayal, tradisi Dugderan ini menyedot perhatian masyarakat. Sepanjang perjalanan kirab, banyak warga antusias menyaksikan acara tersebut.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan tradisi yang sarat akan makna spiritual dan sosial.

“Ini adalah tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan. Dugderan menjadi bagian dari kesiapan kita menghadapi bulan Ramadan. Harapannya, kita semua bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan sebaik-baiknya, meningkatkan ketakwaan kepada Allah,” ujarnya di sela acara. 

Ia juga menyampaikan harapan agar Ramadan membawa keberkahan bagi Jawa Tengah.

“Kami berharap Jawa Tengah terhindar dari bencana dan kesejahteraan masyarakat semakin baik,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyebut Dugderan tahun ini terasa lebih semarak. Ia menekankan filosofi unik yang selalu menjadi daya tarik tradisi tersebut.

“Yang unik hari ini, semua warak wajib ngendok. Kalau warak tidak ngendok, nanti bisa congkrah, bisa bertengkar, tidak ada rezeki yang dibagi,” tuturnya.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi. Maka dari itu, anak-anak muda harus meneruskan dan melestarikan budaya tersebut.

“Saya senang tadi anak-anak kecil mulai ikut menari. Ini menjadi transfer pengetahuan dan tradisi. Mereka adalah generasi penerus kita,” katanya.

Menariknya, Dugderan tahun ini bertepatan dengan perayaan Imlek serta masa puasa Paskah bagi umat Kristen. Momentum ini dinilai semakin memperkuat harmoni keberagaman di Kota Semarang.

“Harmoni ini akan terjalin lebih erat. Kalau Semarang damai, wisatawan akan lebih banyak berkunjung dan investasi pun meningkat,” ucap Agustina.


Bagikan :

SEMARANG – Dentuman bedug dan gelegar meriam Kolontoko kembali menandai hadirnya Ramadan di Kota Semarang. Pada akhir Sya’ban 1447 Hijriah, tradisi untuk menyongsong bulan suci itu kembali digelar meriah dengan Kirab Dugderan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) pada Senin, 16 Februari 2026.

Tradisi yang sudah ada sejak 1881 ini kembali menghadirkan nuansa khas budaya Semarang. Dalam kirab ini, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, berperan sebagai Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawirapradja. Sementara Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, tampil sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbadiningrum.

Sesaat sebelum bedug ditabuh, Suhuf Halaqah dibacakan oleh Sekda setelah diterima secara simbolis dari Wali Kota Semarang. Bedug Ijo Mangunsari sepanjang 3,1 meter dengan diameter 2,2 meter pun ditabuh, diiringi bunyi meriam Kolontoko yang memecah langit Semarang.

Tak ayal, tradisi Dugderan ini menyedot perhatian masyarakat. Sepanjang perjalanan kirab, banyak warga antusias menyaksikan acara tersebut.

Pada kesempatan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan tradisi yang sarat akan makna spiritual dan sosial.

“Ini adalah tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan. Dugderan menjadi bagian dari kesiapan kita menghadapi bulan Ramadan. Harapannya, kita semua bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan sebaik-baiknya, meningkatkan ketakwaan kepada Allah,” ujarnya di sela acara. 

Ia juga menyampaikan harapan agar Ramadan membawa keberkahan bagi Jawa Tengah.

“Kami berharap Jawa Tengah terhindar dari bencana dan kesejahteraan masyarakat semakin baik,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyebut Dugderan tahun ini terasa lebih semarak. Ia menekankan filosofi unik yang selalu menjadi daya tarik tradisi tersebut.

“Yang unik hari ini, semua warak wajib ngendok. Kalau warak tidak ngendok, nanti bisa congkrah, bisa bertengkar, tidak ada rezeki yang dibagi,” tuturnya.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi. Maka dari itu, anak-anak muda harus meneruskan dan melestarikan budaya tersebut.

“Saya senang tadi anak-anak kecil mulai ikut menari. Ini menjadi transfer pengetahuan dan tradisi. Mereka adalah generasi penerus kita,” katanya.

Menariknya, Dugderan tahun ini bertepatan dengan perayaan Imlek serta masa puasa Paskah bagi umat Kristen. Momentum ini dinilai semakin memperkuat harmoni keberagaman di Kota Semarang.

“Harmoni ini akan terjalin lebih erat. Kalau Semarang damai, wisatawan akan lebih banyak berkunjung dan investasi pun meningkat,” ucap Agustina.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu