Follow Us :              

Mageri Segoro, Upaya Bersama Jaga Masa Depan Kawasan Pesisir Jawa Tengah

  06 June 2026  |   06:30:00  |   dibaca : 5102 
Kategori :
Bagikan :


Mageri Segoro, Upaya Bersama Jaga Masa Depan Kawasan Pesisir Jawa Tengah

06 June 2026 | 06:30:00 | dibaca : 5102
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SEMARANG — Di tengah harmoni alam yang tenang, riuh langkah kaki mulai terdengar. Puluhan orang berkumpul membawa harapan baru, bersiap menanam bibit-bibit pohon cemara laut dan mangrove demi menjaga kelestarian pantai. 

Pagi itu, orang-orang berkumpul tidak hanya untuk menanam pohon, tetapi untuk menjamin masa depan pesisir yang lebih abadi. Kegiatan menanam bibit pohon ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. 

Kegiatan yang digelar pada Sabtu pagi, 6 Juni 2026 di Pantai Tirang, Kota Semarang ini dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Penanaman pohon itu dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K.

Sebanyak 200 batang cemara laut dan 2.750 batang mangrove ditanam di lokasi tersebut. Selain melakukan penanaman pohon, juga dilakukan gerakan bersih-bersih pantai bersama-sama. Di hari yang sama, penanaman mangrove dan tanaman pesisir juga dilakukan secara serentak di 16 kabupaten/kota pesisir di Jateng dengan total 92.290 bibit.

Dalam kesempatan itu, Gubernur mengatakan bahwa menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Ia menegaskan, persoalan lingkungan harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama dan membutuhkan kesadaran kolektif.

Ia menjelaskan, kegiatan  penanaman pohon di kawasan pesisir menjadi bagian dari program Gerakan Mageri Segoro, yang dimaknai sebagai upaya melindungi laut dan kawasan pesisir dari ancaman rob dan abrasi.

“Mageri Segoro itu segoro yang dikasih pager. Artinya, laut kita itu harus kita pagari,” katanya.

Gubernur mencontohkan, sejumlah kawasan pantai utara yang mengalami tekanan serius akibat abrasi. Oleh karena itu, penanaman mangrove dan tanaman pesisir harus dilihat sebagai upaya jangka panjang untuk menjaga garis pantai.

Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa menanam saja tidak cukup. Tanaman yang sudah ditanam harus dirawat dan benar-benar memberi manfaat bagi kawasan pesisir. Oleh karena itu, ia juga meminta dinas terkait, para pegiat lingkungan, hingga kawasan industri bersama-sama menjaga tanaman-tanaman tersebut. Terlebih, penanaman dilakukan menjelang musim kemarau, sehingga perlu dilakukan pemantauan rutin.

“Tiga hari sekali minimal dilakukan pengecekan,” ucapnya. 

Selain soal abrasi dan rob, Gubernur juga menyoroti persoalan pengambilan air tanah. Ia meminta evaluasi kebijakan pengambilan air tanah dilakukan lebih rutin sebagai langkah untuk mencegah penurunan muka tanah, khususnya di wilayah pesisir.

Menurutnya, masyarakat pun harus diberikan edukasi agar tidak sembarangan mengambil air tanah. Pemerintah daerah perlu memperkuat layanan Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM melalui BUMD. Selain itu, teknologi desalinasi juga didorong untuk kawasan pesisir, terutama bagi nelayan dan masyarakat di pesisir.

Pada kesempatan itu, Gubernur juga menegaskan bahwa sampah menjadi bagian penting dari persoalan lingkungan. Ia menyebut, sesuai arahan Presiden, Indonesia menargetkan zero waste pada 2029, termasuk di seluruh daerah.

Ia menjelaskan, Pemprov Jateng telah memetakan persoalan sampah di seluruh kabupaten/kota. Daerah dengan timbulan sampah sekitar 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan skema aglomerasi atau pengolahan sampah yang dilakukan bersama-sama antardaerah berskala regional. Skema ini disiapkan untuk kawasan Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. 

Sementara itu, daerah dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari diarahkan menerapkan teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif refuse-derived fuel (RDF), yang dapat dimanfaatkan oleh pabrik semen.
 
Sebagai informasi, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jawa Tengah mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”. Tema itu dinilai relevan bagi Jawa Tengah dengan berbagai dampak perubahan iklim yang terjadi, termasuk adanya bencana hidrometeorologi yang mendominasi kejadian bencana alam di provinsi ini.

Seorang peserta dari Saka Kalpataru, Aisyah, berharap penanaman mangrove dapat menjaga keberlanjutan kawasan pesisir Pantai Tirang.

“Harapan saya, semoga Pantai Tirang ini jangan sampai terkikis oleh air laut,” ucapnya.


Bagikan :

SEMARANG — Di tengah harmoni alam yang tenang, riuh langkah kaki mulai terdengar. Puluhan orang berkumpul membawa harapan baru, bersiap menanam bibit-bibit pohon cemara laut dan mangrove demi menjaga kelestarian pantai. 

Pagi itu, orang-orang berkumpul tidak hanya untuk menanam pohon, tetapi untuk menjamin masa depan pesisir yang lebih abadi. Kegiatan menanam bibit pohon ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintah, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. 

Kegiatan yang digelar pada Sabtu pagi, 6 Juni 2026 di Pantai Tirang, Kota Semarang ini dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Penanaman pohon itu dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K.

Sebanyak 200 batang cemara laut dan 2.750 batang mangrove ditanam di lokasi tersebut. Selain melakukan penanaman pohon, juga dilakukan gerakan bersih-bersih pantai bersama-sama. Di hari yang sama, penanaman mangrove dan tanaman pesisir juga dilakukan secara serentak di 16 kabupaten/kota pesisir di Jateng dengan total 92.290 bibit.

Dalam kesempatan itu, Gubernur mengatakan bahwa menjaga lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Ia menegaskan, persoalan lingkungan harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama dan membutuhkan kesadaran kolektif.

Ia menjelaskan, kegiatan  penanaman pohon di kawasan pesisir menjadi bagian dari program Gerakan Mageri Segoro, yang dimaknai sebagai upaya melindungi laut dan kawasan pesisir dari ancaman rob dan abrasi.

“Mageri Segoro itu segoro yang dikasih pager. Artinya, laut kita itu harus kita pagari,” katanya.

Gubernur mencontohkan, sejumlah kawasan pantai utara yang mengalami tekanan serius akibat abrasi. Oleh karena itu, penanaman mangrove dan tanaman pesisir harus dilihat sebagai upaya jangka panjang untuk menjaga garis pantai.

Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa menanam saja tidak cukup. Tanaman yang sudah ditanam harus dirawat dan benar-benar memberi manfaat bagi kawasan pesisir. Oleh karena itu, ia juga meminta dinas terkait, para pegiat lingkungan, hingga kawasan industri bersama-sama menjaga tanaman-tanaman tersebut. Terlebih, penanaman dilakukan menjelang musim kemarau, sehingga perlu dilakukan pemantauan rutin.

“Tiga hari sekali minimal dilakukan pengecekan,” ucapnya. 

Selain soal abrasi dan rob, Gubernur juga menyoroti persoalan pengambilan air tanah. Ia meminta evaluasi kebijakan pengambilan air tanah dilakukan lebih rutin sebagai langkah untuk mencegah penurunan muka tanah, khususnya di wilayah pesisir.

Menurutnya, masyarakat pun harus diberikan edukasi agar tidak sembarangan mengambil air tanah. Pemerintah daerah perlu memperkuat layanan Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM melalui BUMD. Selain itu, teknologi desalinasi juga didorong untuk kawasan pesisir, terutama bagi nelayan dan masyarakat di pesisir.

Pada kesempatan itu, Gubernur juga menegaskan bahwa sampah menjadi bagian penting dari persoalan lingkungan. Ia menyebut, sesuai arahan Presiden, Indonesia menargetkan zero waste pada 2029, termasuk di seluruh daerah.

Ia menjelaskan, Pemprov Jateng telah memetakan persoalan sampah di seluruh kabupaten/kota. Daerah dengan timbulan sampah sekitar 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan skema aglomerasi atau pengolahan sampah yang dilakukan bersama-sama antardaerah berskala regional. Skema ini disiapkan untuk kawasan Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. 

Sementara itu, daerah dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari diarahkan menerapkan teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif refuse-derived fuel (RDF), yang dapat dimanfaatkan oleh pabrik semen.
 
Sebagai informasi, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jawa Tengah mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”. Tema itu dinilai relevan bagi Jawa Tengah dengan berbagai dampak perubahan iklim yang terjadi, termasuk adanya bencana hidrometeorologi yang mendominasi kejadian bencana alam di provinsi ini.

Seorang peserta dari Saka Kalpataru, Aisyah, berharap penanaman mangrove dapat menjaga keberlanjutan kawasan pesisir Pantai Tirang.

“Harapan saya, semoga Pantai Tirang ini jangan sampai terkikis oleh air laut,” ucapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu