Follow Us :              

Perkuat Ketahanan Energi dan Ekonomi di Jateng, Wagub Dorong Pemerataan EBT

  12 August 2026  |   13:00:00  |   dibaca : 159 
Kategori :
Bagikan :

Perkuat Ketahanan Energi dan Ekonomi di Jateng, Wagub Dorong Pemerataan EBT

12 August 2026 | 13:00:00 | dibaca : 159
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Perkuat Ketahanan Energi dan Ekonomi di Jateng, Wagub Dorong Pemerataan EBT
Perkuat Ketahanan Energi dan Ekonomi di Jateng, Wagub Dorong Pemerataan EBT
Perkuat Ketahanan Energi dan Ekonomi di Jateng, Wagub Dorong Pemerataan EBT
Perkuat Ketahanan Energi dan Ekonomi di Jateng, Wagub Dorong Pemerataan EBT
Perkuat Ketahanan Energi dan Ekonomi di Jateng, Wagub Dorong Pemerataan EBT

Foto : Mizan (Humas Jateng)

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mendorong pemerataan dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di wilayahnya. Pengembangan itu  bukan hanya untuk memperkuat ketahanan energi, melainkan juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, pengembangan EBT perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan investasi dan industri di Jawa Tengah, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.

“Kami butuh energi terbarukan itu benar-benar bisa merata di Jawa Tengah. Kita butuh ekosistem di Jawa Tengah tumbuh, tetapi tidak merusak lingkungan,” ucap Wagub dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertema Penguatan Ketahanan Energi Nasional: Menjawab Tantangan Saat Ini dan Masa Depan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang pada Rabu, 12 Agustus 2026. 

Wagub menekankan, pembahasan EBT tidak cukup hanya melihat ketersediaan sumber energi, tetapi pengembangannya juga harus mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri maupun sumber energi.

Ia mengungkapkan, saat ini Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang menarik bagi investor. Sejumlah perusahaan datang untuk mengembangkan usaha dan industri. Oleh karena itu, pertumbuhan investasi dan industri perlu diarahkan agar tetap menciptakan aktivitas ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan.

Sejalan dengan itu, bauran energi terbarukan Jawa Tengah pada 2025 mencapai 22,33%. Capaian tersebut telah melampaui target dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Jawa Tengah sebesar 21,32%. 

Sebagai informasi, bauran energi terbarukan adalah perbandingan jumlah pemakaian energi bersih dari alam, seperti panas bumi, air, dan surya, dibandingkan dengan total pemakaian seluruh jenis energi di suatu negara.

Capaian tersebut menjadi modal bagi Pemprov Jateng untuk memperluas pemanfaatan EBT. Apalagi, Jawa Tengah memiliki berbagai potensi energi terbarukan, antara lain energi surya, panas bumi, hidro, biomassa, dan biogas.

Pengembangannya juga diarahkan untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat, antara lain memfasilitasi pengembangan Pembangkit listrik Tenaga Surya (PLTS), PLTS terapung, panas bumi, Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), serta energi berbasis limbah dan biomassa di sektor industri maupun pedesaan.

Pemanfaatan energi lokal juga dikembangkan melalui Desa Mandiri Energi, pompa air tenaga surya untuk irigasi, biogas dari limbah peternakan dan industri kecil, serta Eco Pesantren berbasis PLTS dan biogas.

Pengembangan energi tersebut diharapkan tidak hanya menambah pasokan energi, tetapi juga membuka ruang investasi, memperkuat daya saing industri, menciptakan lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi masyarakat.

Capaian ini menjadi hal penting di tengah tantangan ketahanan energi nasional yang masih menghadapi ketergantungan terhadap energi impor.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menyoroti tantangan ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber energi fosil maupun energi terbarukan yang melimpah, tetapi masih menghadapi ketergantungan terhadap impor energi.

Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya mempercepat pemanfaatan sumber energi terbarukan yang tersedia di dalam negeri, mulai dari energi surya, angin, air, hingga panas bumi.

“Kita tingkatkan sumber energi terbarukan supaya kita punya pembangunan berkelanjutan, tidak merusak lingkungan, seperti yang disampaikan Pak Wagub,” ujarnya.

Eddy menyampaikan, pengembangan EBT dapat menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Kalau kita kembangkan sumber-sumber energi terbarukan yang ada di seluruh Indonesia, rasanya kita enggak perlu impor lagi. Rasanya ketahanan energi kita bisa kita kuatkan,” pungkasnya.


Bagikan :

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mendorong pemerataan dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di wilayahnya. Pengembangan itu  bukan hanya untuk memperkuat ketahanan energi, melainkan juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, pengembangan EBT perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan investasi dan industri di Jawa Tengah, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.

“Kami butuh energi terbarukan itu benar-benar bisa merata di Jawa Tengah. Kita butuh ekosistem di Jawa Tengah tumbuh, tetapi tidak merusak lingkungan,” ucap Wagub dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertema Penguatan Ketahanan Energi Nasional: Menjawab Tantangan Saat Ini dan Masa Depan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang pada Rabu, 12 Agustus 2026. 

Wagub menekankan, pembahasan EBT tidak cukup hanya melihat ketersediaan sumber energi, tetapi pengembangannya juga harus mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri maupun sumber energi.

Ia mengungkapkan, saat ini Jawa Tengah menjadi salah satu daerah yang menarik bagi investor. Sejumlah perusahaan datang untuk mengembangkan usaha dan industri. Oleh karena itu, pertumbuhan investasi dan industri perlu diarahkan agar tetap menciptakan aktivitas ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan.

Sejalan dengan itu, bauran energi terbarukan Jawa Tengah pada 2025 mencapai 22,33%. Capaian tersebut telah melampaui target dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Jawa Tengah sebesar 21,32%. 

Sebagai informasi, bauran energi terbarukan adalah perbandingan jumlah pemakaian energi bersih dari alam, seperti panas bumi, air, dan surya, dibandingkan dengan total pemakaian seluruh jenis energi di suatu negara.

Capaian tersebut menjadi modal bagi Pemprov Jateng untuk memperluas pemanfaatan EBT. Apalagi, Jawa Tengah memiliki berbagai potensi energi terbarukan, antara lain energi surya, panas bumi, hidro, biomassa, dan biogas.

Pengembangannya juga diarahkan untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat, antara lain memfasilitasi pengembangan Pembangkit listrik Tenaga Surya (PLTS), PLTS terapung, panas bumi, Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), serta energi berbasis limbah dan biomassa di sektor industri maupun pedesaan.

Pemanfaatan energi lokal juga dikembangkan melalui Desa Mandiri Energi, pompa air tenaga surya untuk irigasi, biogas dari limbah peternakan dan industri kecil, serta Eco Pesantren berbasis PLTS dan biogas.

Pengembangan energi tersebut diharapkan tidak hanya menambah pasokan energi, tetapi juga membuka ruang investasi, memperkuat daya saing industri, menciptakan lapangan kerja, serta menggerakkan ekonomi masyarakat.

Capaian ini menjadi hal penting di tengah tantangan ketahanan energi nasional yang masih menghadapi ketergantungan terhadap energi impor.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menyoroti tantangan ketahanan energi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber energi fosil maupun energi terbarukan yang melimpah, tetapi masih menghadapi ketergantungan terhadap impor energi.

Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya mempercepat pemanfaatan sumber energi terbarukan yang tersedia di dalam negeri, mulai dari energi surya, angin, air, hingga panas bumi.

“Kita tingkatkan sumber energi terbarukan supaya kita punya pembangunan berkelanjutan, tidak merusak lingkungan, seperti yang disampaikan Pak Wagub,” ujarnya.

Eddy menyampaikan, pengembangan EBT dapat menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Kalau kita kembangkan sumber-sumber energi terbarukan yang ada di seluruh Indonesia, rasanya kita enggak perlu impor lagi. Rasanya ketahanan energi kita bisa kita kuatkan,” pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu