Foto : Sigit (Humas Jateng)
Foto : Sigit (Humas Jateng)
MAGELANG — Gelaran Borobudur Indonesia Expo 2026 di Alun-alun Kota Magelang pada 17-20 September 2026 diharapkan mampu menjadi pengungkit perekonomian daerah setempat.
Dalam gelaran yang dibuka pada Kamis, 17 September 2016 itu, Pemerintah Kota Magelang menyediakan 150 stan pameran UMKM. Acara ini ditargetkan mampu mendatangkan hingga 40.000 pengunjung dan transaksinya mencapai Rp2 miliar.
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, mengatakan, penyelenggaraan event ini menjadi salah satu strategi Pemerintah Kota Magelang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Ia menyebut, Kota Magelang memiliki keterbatasan sumber daya alam. Oleh karena itu, kekuatan kota diarahkan pada sumber daya manusia, inovasi, kreativitas, serta sektor jasa dan ekonomi kreatif.
“Tidak ada tambang, tidak ada hutan, tidak ada kebun, tidak ada pabrik. Adanya sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai kualitas tinggi, SDM yang mempunyai inovasi, kreativitas tinggi,” ucapnya.
Wali Kota Magelang mengatakan, hampir setiap pekan terdapat event di Kota Magelang, baik yang berskala lokal, regional, nasional, maupun internasional.
“Karena saya meyakini bahwa dengan event, pertumbuhan ekonomi ini akan bergerak tumbuh dengan baik,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa capaian transaksi bukan satu-satunya tujuan. Harapannya, event-event yang terselenggara mampu menghasilkan kerja sama baru, membuka pasar bagi produk UMKM, mempertemukan pelaku usaha dengan mitra, serta menciptakan peluang baru bagi koperasi.
Borobudur Indonesia Expo 2026 juga diarahkan menjadi ruang promosi bagi potensi ekonomi kawasan penyangga destinasi pariwisata Borobudur. Maka dari itu, Pemkot Magelang melibatkan wilayah Purwomanggung, yang terdiri dari Kabupaten Purworejo, Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Temanggung.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan event tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan event ini dinilai penting, karena sektor jasa, pariwisata, dan ekonomi kreatif memiliki peran besar dalam menggerakkan aktivitas ekonomi daerah.
“Kalau kita lihat di Jawa Tengah, pertumbuhan ekonomi kita juga banyak ditopang dari sektor konsumsi. Untuk meningkatkan konsumsi, pintunya adalah pariwisata,” ucapnya.
Ia menambahkan, pariwisata tidak dapat dipisahkan dari pengembangan ekonomi kreatif. Melalui berbagai event, produk UMKM dan ekonomi kreatif dapat ditampilkan dan diperkenalkan kepada masyarakat, bahkan acara seperti ini bisa mempertemukan pelaku usaha dengan pasar.
Sekda menyebut, kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Magelang cukup besar. Oleh karena itu, diperlukan lebih banyak kegiatan yang mampu mendatangkan masyarakat ke Kota Magelang untuk berbelanja produk UMKM dan ekonomi kreatif.
Ia berharap, berbagai event di Kota Magelang tidak hanya mampu meningkatkan aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga membuka jejaring antarpelaku UMKM di Kota Magelang dengan daerah-daerah lain di Jawa Tengah.
Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat, baik di Kota Magelang maupun Jawa Tengah.
Sementara itu, Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mendorong pelaku UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata di Kota Magelang serta Jawa Tengah untuk membentuk badan usaha koperasi. Sebab, sebagian besar pelaku UMKM masih menjalankan usaha secara perorangan sehingga mereka sering kali menghadapi keterbatasan dalam berbagai hal.
“Sehingga nanti proses transformasi dari usaha yang sebelumnya perorangan menjadi punya badan usaha, mereka nanti bisa lebih mudah mengakses modal, mengakses pasar, mengakses teknologi, dan lain sebagainya,” ucapnya..
Ia mengungkapkan, Kementerian Koperasi siap memberikan pendampingan, inkubasi hingga pembiayaan bagi badan usaha koperasi yang dibentuk oleh para pelaku usaha.
Menurutnya, sektor ekonomi kreatif memiliki peluang untuk dikembangkan melalui koperasi, termasuk bagi ilustrator, konten kreator, animator, pelaku fesyen, kerajinan, hingga produk wastra khas daerah.
MAGELANG — Gelaran Borobudur Indonesia Expo 2026 di Alun-alun Kota Magelang pada 17-20 September 2026 diharapkan mampu menjadi pengungkit perekonomian daerah setempat.
Dalam gelaran yang dibuka pada Kamis, 17 September 2016 itu, Pemerintah Kota Magelang menyediakan 150 stan pameran UMKM. Acara ini ditargetkan mampu mendatangkan hingga 40.000 pengunjung dan transaksinya mencapai Rp2 miliar.
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, mengatakan, penyelenggaraan event ini menjadi salah satu strategi Pemerintah Kota Magelang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Ia menyebut, Kota Magelang memiliki keterbatasan sumber daya alam. Oleh karena itu, kekuatan kota diarahkan pada sumber daya manusia, inovasi, kreativitas, serta sektor jasa dan ekonomi kreatif.
“Tidak ada tambang, tidak ada hutan, tidak ada kebun, tidak ada pabrik. Adanya sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai kualitas tinggi, SDM yang mempunyai inovasi, kreativitas tinggi,” ucapnya.
Wali Kota Magelang mengatakan, hampir setiap pekan terdapat event di Kota Magelang, baik yang berskala lokal, regional, nasional, maupun internasional.
“Karena saya meyakini bahwa dengan event, pertumbuhan ekonomi ini akan bergerak tumbuh dengan baik,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa capaian transaksi bukan satu-satunya tujuan. Harapannya, event-event yang terselenggara mampu menghasilkan kerja sama baru, membuka pasar bagi produk UMKM, mempertemukan pelaku usaha dengan mitra, serta menciptakan peluang baru bagi koperasi.
Borobudur Indonesia Expo 2026 juga diarahkan menjadi ruang promosi bagi potensi ekonomi kawasan penyangga destinasi pariwisata Borobudur. Maka dari itu, Pemkot Magelang melibatkan wilayah Purwomanggung, yang terdiri dari Kabupaten Purworejo, Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Temanggung.
Pada kesempatan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan event tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan event ini dinilai penting, karena sektor jasa, pariwisata, dan ekonomi kreatif memiliki peran besar dalam menggerakkan aktivitas ekonomi daerah.
“Kalau kita lihat di Jawa Tengah, pertumbuhan ekonomi kita juga banyak ditopang dari sektor konsumsi. Untuk meningkatkan konsumsi, pintunya adalah pariwisata,” ucapnya.
Ia menambahkan, pariwisata tidak dapat dipisahkan dari pengembangan ekonomi kreatif. Melalui berbagai event, produk UMKM dan ekonomi kreatif dapat ditampilkan dan diperkenalkan kepada masyarakat, bahkan acara seperti ini bisa mempertemukan pelaku usaha dengan pasar.
Sekda menyebut, kontribusi konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Magelang cukup besar. Oleh karena itu, diperlukan lebih banyak kegiatan yang mampu mendatangkan masyarakat ke Kota Magelang untuk berbelanja produk UMKM dan ekonomi kreatif.
Ia berharap, berbagai event di Kota Magelang tidak hanya mampu meningkatkan aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga membuka jejaring antarpelaku UMKM di Kota Magelang dengan daerah-daerah lain di Jawa Tengah.
Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian masyarakat, baik di Kota Magelang maupun Jawa Tengah.
Sementara itu, Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mendorong pelaku UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata di Kota Magelang serta Jawa Tengah untuk membentuk badan usaha koperasi. Sebab, sebagian besar pelaku UMKM masih menjalankan usaha secara perorangan sehingga mereka sering kali menghadapi keterbatasan dalam berbagai hal.
“Sehingga nanti proses transformasi dari usaha yang sebelumnya perorangan menjadi punya badan usaha, mereka nanti bisa lebih mudah mengakses modal, mengakses pasar, mengakses teknologi, dan lain sebagainya,” ucapnya..
Ia mengungkapkan, Kementerian Koperasi siap memberikan pendampingan, inkubasi hingga pembiayaan bagi badan usaha koperasi yang dibentuk oleh para pelaku usaha.
Menurutnya, sektor ekonomi kreatif memiliki peluang untuk dikembangkan melalui koperasi, termasuk bagi ilustrator, konten kreator, animator, pelaku fesyen, kerajinan, hingga produk wastra khas daerah.
Berita Terbaru