Follow Us :              

75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng

  29 September 2026  |   00:00:00  |   dibaca : 94 
Kategori :
Bagikan :

75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng

29 September 2026 | 00:00:00 | dibaca : 94
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng
75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng
75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng
75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng
75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng

Foto : Adit (Humas Jateng)

SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kekeringan pada musim kemarau 2026 di wilayahnya. Salah satunya berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, perusahaan, TNI, Polri, dan pihak lainnya untuk menyalurkan bantuan air bersih di daerah-daerah kekeringan. 

Berdasarkan data Badan dari Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, selama periode 5 Juni-28 September 2026, total 75.463.000 liter air bersih terdistribusi ke 33 Kabupaten/Kota terdampak kekeringan di Jateng. Adapun total penerima manfaatnya mencapai 1.557.333 KK atau 2.341.548 jiwa yang tersebar di 255 Kecamatan dan 784 Desa/Kelurahan.

Puluhan juta liter air bersih yang terdistribusi terdiri dari 36.448.900 liter air bersumber dari dukungan ketersediaan air bersih APBD Pemprov Jateng dan pemerintah kabupaten/kota, 259.000 liter bersumber dari APBN, dan 38.755.100 liter dari CSR perusahaan maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). 

Beberapa daerah dengan distribusi air bersih tertinggi di Jawa Tengah, meliputi Kabupaten Klaten, Pemalang, Purbalingga, Boyolali, Grobogan, Banyumas, Sragen, Cilacap, Blora, dan Banjarnegara.

"Kekeringan sudah kita petakan. Semua komponen bergerak. BPBD bergerak, PMI bergerak, Pemerintah Provinsi (Jateng) dan kabupaten/kota bergerak, TNI dan Polri bergerak. Untuk masyarakat kita salurkan air bersih," ucap Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di Kota Semarang pada Rabu, 30 September 2026.

Ia menjelaskan, penanganan dampak kekeringan tidak hanya untuk masyarakat yang membutuhkan air bersih. Namun, hal ini juga terkait dengan lahan pertanian untuk menjaga produktivitas komoditas pangan dan ketahanan pangan.

Maka dari itu, Gubernur juga meminta Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah untuk berkoordinasi dengan seluruh bupati/wali kota beserta jajaran dan TNI untuk melakukan pemetaan dan intervensi kebutuhan air bagi petani.

"Untuk sawah itu ada dua macam, yaitu sawah tadah hujan dan sawah irigasi. Ini sudah kita koordinasikan juga dengan TNI melalui sumurisasi dan pipanisasi. Semoga target produksi padi dan komoditas pangan tidak meleset," ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengimbau dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap waspada terkait dampak kekeringan pada musim kemarau kali ini, termasuk mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih.

Ia juga menyampaikan bahwa permintaan modifikasi cuaca dari Pemprov Jateng kepada BNPB akan dilakukan apabila kondisi semakin parah. Langkah lain yang perlu dilakukan adalah percepatan pembuatan dan perkuatan tanggul dan bendungan, sehingga dapat menampung lebih banyak air saat hujan tiba.

"Untuk antisipasi dampak kekeringan bagi petani juga sudah disiapkan asuransi gagal panen," katanya.


Bagikan :

SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kekeringan pada musim kemarau 2026 di wilayahnya. Salah satunya berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, perusahaan, TNI, Polri, dan pihak lainnya untuk menyalurkan bantuan air bersih di daerah-daerah kekeringan. 

Berdasarkan data Badan dari Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, selama periode 5 Juni-28 September 2026, total 75.463.000 liter air bersih terdistribusi ke 33 Kabupaten/Kota terdampak kekeringan di Jateng. Adapun total penerima manfaatnya mencapai 1.557.333 KK atau 2.341.548 jiwa yang tersebar di 255 Kecamatan dan 784 Desa/Kelurahan.

Puluhan juta liter air bersih yang terdistribusi terdiri dari 36.448.900 liter air bersumber dari dukungan ketersediaan air bersih APBD Pemprov Jateng dan pemerintah kabupaten/kota, 259.000 liter bersumber dari APBN, dan 38.755.100 liter dari CSR perusahaan maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). 

Beberapa daerah dengan distribusi air bersih tertinggi di Jawa Tengah, meliputi Kabupaten Klaten, Pemalang, Purbalingga, Boyolali, Grobogan, Banyumas, Sragen, Cilacap, Blora, dan Banjarnegara.

"Kekeringan sudah kita petakan. Semua komponen bergerak. BPBD bergerak, PMI bergerak, Pemerintah Provinsi (Jateng) dan kabupaten/kota bergerak, TNI dan Polri bergerak. Untuk masyarakat kita salurkan air bersih," ucap Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di Kota Semarang pada Rabu, 30 September 2026.

Ia menjelaskan, penanganan dampak kekeringan tidak hanya untuk masyarakat yang membutuhkan air bersih. Namun, hal ini juga terkait dengan lahan pertanian untuk menjaga produktivitas komoditas pangan dan ketahanan pangan.

Maka dari itu, Gubernur juga meminta Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah untuk berkoordinasi dengan seluruh bupati/wali kota beserta jajaran dan TNI untuk melakukan pemetaan dan intervensi kebutuhan air bagi petani.

"Untuk sawah itu ada dua macam, yaitu sawah tadah hujan dan sawah irigasi. Ini sudah kita koordinasikan juga dengan TNI melalui sumurisasi dan pipanisasi. Semoga target produksi padi dan komoditas pangan tidak meleset," ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengimbau dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap waspada terkait dampak kekeringan pada musim kemarau kali ini, termasuk mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih.

Ia juga menyampaikan bahwa permintaan modifikasi cuaca dari Pemprov Jateng kepada BNPB akan dilakukan apabila kondisi semakin parah. Langkah lain yang perlu dilakukan adalah percepatan pembuatan dan perkuatan tanggul dan bendungan, sehingga dapat menampung lebih banyak air saat hujan tiba.

"Untuk antisipasi dampak kekeringan bagi petani juga sudah disiapkan asuransi gagal panen," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu