Follow Us :              

Tanamkan Integritas Sejak Dini, Sekolah Berintegritas Jateng Raih Penghargaan dari KPK

  06 October 2026  |   08:30:00  |   dibaca : 65 
Kategori :
Bagikan :

Tanamkan Integritas Sejak Dini, Sekolah Berintegritas Jateng Raih Penghargaan dari KPK

06 October 2026 | 08:30:00 | dibaca : 65
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Tanamkan Integritas Sejak Dini, Sekolah Berintegritas Jateng Raih Penghargaan dari KPK
Tanamkan Integritas Sejak Dini, Sekolah Berintegritas Jateng Raih Penghargaan dari KPK
Tanamkan Integritas Sejak Dini, Sekolah Berintegritas Jateng Raih Penghargaan dari KPK
Tanamkan Integritas Sejak Dini, Sekolah Berintegritas Jateng Raih Penghargaan dari KPK
Tanamkan Integritas Sejak Dini, Sekolah Berintegritas Jateng Raih Penghargaan dari KPK

Foto : Fajar (Humas Jateng)

JAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerima penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam ajang Apresiasi Komitmen Pendidikan Antikorupsi Tahun 2026. 

Provinsi Jawa Tengah mendapat apresiasi sebagai wilayah dengan penguatan integritas pendidikan melalui program Sekolah Berintegritas (SBI).

Penghargaan tersebut diterima oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dalam acara peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Tahun 2026 di Gedung Juang KPK, Jakarta Selatan pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Gubernur mengatakan, apresiasi tersebut menjadi penguat bagi upaya pencegahan korupsi di Jawa Tengah yang dilakukan mulai dari lingkungan pendidikan.

“Pencegahan dini pada anak-anak kita ini sangat penting, sebagai upaya membangun integritas,” ucapnya. 

Dalam pelaksanaannya, penguatan integritas menyasar empat unsur utama, yakni kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan non-guru, serta murid.

“Anak-anak sekolah dididik untuk tidak menyontek, bertindak jujur, kemudian dididik (untuk mengikuti) kegiatan OSIS yang apa adanya, tidak curang, dan lain sebagainya. Kemudian, guru juga harus mendidik terkait dengan integritas,” katanya.

Kepala sekolah diarahkan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas tata kelola di satuan pendidikan, sedangkan guru mengintegrasikan pendidikan antikorupsi dalam pembelajaran dan keteladanan bagi para siswa.

Praktik integritas juga didorong hadir dalam aktivitas sehari-hari di sekolah. Contohnya pemilihan OSIS secara jujur, tes atau ulangan melalui sistem digital, kanal pengaduan digital, hingga Laboratorium SBI.

“Jangan sampai masuk sekolah bayar, kemudian ada pungli, dan lain sebagainya. Jadi pendidikan dini digunakan untuk upaya pencegahan, bahwa integritas dalam pencegahan tindak pidana korupsi disiapkan dari anak-anak,” tegas Gubernur.

Program SBI di Jawa Tengah dimulai pada tahun 2023 dengan melibatkan 104 sekolah. Pada tahun 2025, implementasinya diperluas di sebanyak 645 sekolah. Tahun ini, penguatan program dilanjutkan melalui pembentukan 12 Laboratorium SBI di lingkungan Cabang Dinas Pendidikan.

Pada kesempatan itu, Ketua KPK, Setyo Budiyanto, mengatakan bahwa program Sekolah Berintegritas milik Jawa Tengah adalah salah satu praktik baik yang diharapkan dapat diimplementasikan di wilayah lain.

“Dengan menampilkan nama Sekolah Berintegritas saja, setidaknya auranya itu sudah menyebar. Harapannya, ini menyebar (atau dapat diterapkan di) semuanya (wilayah),” ucapnya.

Ia menekankan, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Akan tetapi, upaya pencegahannya perlu dibangun melalui pendidikan dan pembentukan karakter sejak dini.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang-orang pintar. Kejujuran, komitmen, konsistensi, dan integritas harus menjadi bagian dari karakter peserta didik.

“Secerdas apa pun teknologi, tidak akan bisa menggantikan integritas,” ucap Setyo.


Bagikan :

JAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerima penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam ajang Apresiasi Komitmen Pendidikan Antikorupsi Tahun 2026. 

Provinsi Jawa Tengah mendapat apresiasi sebagai wilayah dengan penguatan integritas pendidikan melalui program Sekolah Berintegritas (SBI).

Penghargaan tersebut diterima oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dalam acara peluncuran Indeks Integritas Pendidikan Tahun 2026 di Gedung Juang KPK, Jakarta Selatan pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Gubernur mengatakan, apresiasi tersebut menjadi penguat bagi upaya pencegahan korupsi di Jawa Tengah yang dilakukan mulai dari lingkungan pendidikan.

“Pencegahan dini pada anak-anak kita ini sangat penting, sebagai upaya membangun integritas,” ucapnya. 

Dalam pelaksanaannya, penguatan integritas menyasar empat unsur utama, yakni kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan non-guru, serta murid.

“Anak-anak sekolah dididik untuk tidak menyontek, bertindak jujur, kemudian dididik (untuk mengikuti) kegiatan OSIS yang apa adanya, tidak curang, dan lain sebagainya. Kemudian, guru juga harus mendidik terkait dengan integritas,” katanya.

Kepala sekolah diarahkan untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas tata kelola di satuan pendidikan, sedangkan guru mengintegrasikan pendidikan antikorupsi dalam pembelajaran dan keteladanan bagi para siswa.

Praktik integritas juga didorong hadir dalam aktivitas sehari-hari di sekolah. Contohnya pemilihan OSIS secara jujur, tes atau ulangan melalui sistem digital, kanal pengaduan digital, hingga Laboratorium SBI.

“Jangan sampai masuk sekolah bayar, kemudian ada pungli, dan lain sebagainya. Jadi pendidikan dini digunakan untuk upaya pencegahan, bahwa integritas dalam pencegahan tindak pidana korupsi disiapkan dari anak-anak,” tegas Gubernur.

Program SBI di Jawa Tengah dimulai pada tahun 2023 dengan melibatkan 104 sekolah. Pada tahun 2025, implementasinya diperluas di sebanyak 645 sekolah. Tahun ini, penguatan program dilanjutkan melalui pembentukan 12 Laboratorium SBI di lingkungan Cabang Dinas Pendidikan.

Pada kesempatan itu, Ketua KPK, Setyo Budiyanto, mengatakan bahwa program Sekolah Berintegritas milik Jawa Tengah adalah salah satu praktik baik yang diharapkan dapat diimplementasikan di wilayah lain.

“Dengan menampilkan nama Sekolah Berintegritas saja, setidaknya auranya itu sudah menyebar. Harapannya, ini menyebar (atau dapat diterapkan di) semuanya (wilayah),” ucapnya.

Ia menekankan, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Akan tetapi, upaya pencegahannya perlu dibangun melalui pendidikan dan pembentukan karakter sejak dini.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang-orang pintar. Kejujuran, komitmen, konsistensi, dan integritas harus menjadi bagian dari karakter peserta didik.

“Secerdas apa pun teknologi, tidak akan bisa menggantikan integritas,” ucap Setyo.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu