Follow Us :              

Jawa Tengah Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Terbaik Nasional

  16 October 2026  |   08:00:00  |   dibaca : 37 
Kategori :
Bagikan :

Jawa Tengah Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Terbaik Nasional

16 October 2026 | 08:00:00 | dibaca : 37
Kategori :
Bagikan :

Foto : Mizan (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Jawa Tengah Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Terbaik Nasional
Jawa Tengah Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Terbaik Nasional
Jawa Tengah Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Terbaik Nasional
Jawa Tengah Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Terbaik Nasional
Jawa Tengah Raih Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Terbaik Nasional

Foto : Mizan (Humas Jateng)

JAKARTA — Jawa Tengah meraih Peringkat Kedua sebagai Destinasi Pariwisata Ramah Muslim Terbaik Secara Nasional dalam ajang Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026. 

Penghargaan tersebut diterima Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dalam gelaran Indonesia Muslim Friendly Tourism Summit 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Assembly Hall, Jakarta International Convention Center (JICC) pada Jumat, 16 Oktober 2026. 

Capaian yang diperoleh Jawa Tengah tahun ini mengalami peningkatan, dibandingkan periode sebelumnya yang mendapatkan peringkat kelima.

Hal ini menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memperluas layanan wisata ramah muslim sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata daerah.

Wagub mengatakan, peningkatan peringkat tersebut menjadi penyemangat bagi Pemprov Jateng untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi dengan layanan ramah muslim dan penguatan ekonomi syariah.

“Alhamdulillah, kali ini kita ada di peringkat kedua. Ini hadiah buat kita semua, masyarakat Jawa Tengah yang menyongsong tahun 2027, (dengan pengembangan) pariwisata berkelanjutan, ramah muslim, dan ekonomi syariah,” ujarnya.

Ia menyampaikan, capaian tersebut sejalan dengan upaya Pemprov Jateng yang menyiapkan road map (peta jalan) pengembangan wisata ramah muslim. Penyusunannya melibatkan perangkat daerah terkait dan Bank Indonesia, dengan berfokus pada penguatan fasilitas serta layanan yang dibutuhkan wisatawan muslim.

Wagub menjelaskan, pengembangan pariwisata mencakup sektor perhotelan, pusat kuliner, hingga fasilitas di destinasi wisata. Pemprov Jateng ingin memastikan layanan ramah muslim semakin luas dan tidak hanya terkonsentrasi di daerah tertentu.

"Kita berkolaborasi dengan BI, stakeholder yang ada untuk menciptakan destinasi yang ramah muslim," katanya.

Ia mencontohkan, fasilitas hotel dengan kolam renang terpisah telah tersedia di Karanganyar sejak tahun 2024. Menurutnya, praktik tersebut dapat menjadi salah satu referensi untuk mengembangkan layanan serupa di daerah lain.

“Ini perlu kita genjot, kita promosikan supaya nanti bisa berkembang di daerah-daerah yang lain, bukan hanya di Karanganyar saja, tetapi berkembang ke seluruh Jawa Tengah,” ucap Wagub. 

Dalam kesempatan itu, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyampaikan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua destinasi ramah muslim dunia berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, dengan skor 79. Angka tersebut merupakan skor tertinggi yang pernah diraih Indonesia dalam indeks tersebut.

“Pencapaian ini semakin menegaskan kesiapan dan daya saing Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan pariwisata ramah muslim, karena kebutuhan wisatawan terhadap kuliner halal, fasilitas ibadah, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan muslim sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Namun, menurutnya, potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas layanan dan kemudahan akses informasi agar wisatawan muslim dunia tetap memilih Indonesia sebagai tujuan perjalanan mereka.

“Wisata muslim bukanlah sebuah niche market. Ini adalah salah satu pasar pariwisata global yang sangat menjanjikan,” katanya.

Ia memproyeksikan, kunjungan internasional wisatawan muslim dunia pada 2030 mencapai 262 juta kunjungan, dengan estimasi pengeluaran tahunan sekitar 310 miliar dolar AS. Besarnya potensi tersebut perlu diimbangi dengan upaya meningkatkan kunjungan sekaligus pengeluaran wisatawan.

Salah satu instrumen yang digunakan untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi di tingkat daerah adalah IMTI. Menurutnya, indeks tersebut mengukur kesiapan provinsi dalam menyediakan layanan dan pengalaman wisata ramah muslim, dengan mengadaptasi kerangka penilaian Global Muslim Travel Index yang mencakup akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.

“IMTI 2026 diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing destinasi wisata ramah muslim,” pungkasnya.


Bagikan :

JAKARTA — Jawa Tengah meraih Peringkat Kedua sebagai Destinasi Pariwisata Ramah Muslim Terbaik Secara Nasional dalam ajang Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026. 

Penghargaan tersebut diterima Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dalam gelaran Indonesia Muslim Friendly Tourism Summit 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Assembly Hall, Jakarta International Convention Center (JICC) pada Jumat, 16 Oktober 2026. 

Capaian yang diperoleh Jawa Tengah tahun ini mengalami peningkatan, dibandingkan periode sebelumnya yang mendapatkan peringkat kelima.

Hal ini menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memperluas layanan wisata ramah muslim sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata daerah.

Wagub mengatakan, peningkatan peringkat tersebut menjadi penyemangat bagi Pemprov Jateng untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi dengan layanan ramah muslim dan penguatan ekonomi syariah.

“Alhamdulillah, kali ini kita ada di peringkat kedua. Ini hadiah buat kita semua, masyarakat Jawa Tengah yang menyongsong tahun 2027, (dengan pengembangan) pariwisata berkelanjutan, ramah muslim, dan ekonomi syariah,” ujarnya.

Ia menyampaikan, capaian tersebut sejalan dengan upaya Pemprov Jateng yang menyiapkan road map (peta jalan) pengembangan wisata ramah muslim. Penyusunannya melibatkan perangkat daerah terkait dan Bank Indonesia, dengan berfokus pada penguatan fasilitas serta layanan yang dibutuhkan wisatawan muslim.

Wagub menjelaskan, pengembangan pariwisata mencakup sektor perhotelan, pusat kuliner, hingga fasilitas di destinasi wisata. Pemprov Jateng ingin memastikan layanan ramah muslim semakin luas dan tidak hanya terkonsentrasi di daerah tertentu.

"Kita berkolaborasi dengan BI, stakeholder yang ada untuk menciptakan destinasi yang ramah muslim," katanya.

Ia mencontohkan, fasilitas hotel dengan kolam renang terpisah telah tersedia di Karanganyar sejak tahun 2024. Menurutnya, praktik tersebut dapat menjadi salah satu referensi untuk mengembangkan layanan serupa di daerah lain.

“Ini perlu kita genjot, kita promosikan supaya nanti bisa berkembang di daerah-daerah yang lain, bukan hanya di Karanganyar saja, tetapi berkembang ke seluruh Jawa Tengah,” ucap Wagub. 

Dalam kesempatan itu, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, menyampaikan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua destinasi ramah muslim dunia berdasarkan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, dengan skor 79. Angka tersebut merupakan skor tertinggi yang pernah diraih Indonesia dalam indeks tersebut.

“Pencapaian ini semakin menegaskan kesiapan dan daya saing Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan pariwisata ramah muslim, karena kebutuhan wisatawan terhadap kuliner halal, fasilitas ibadah, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan muslim sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Namun, menurutnya, potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas layanan dan kemudahan akses informasi agar wisatawan muslim dunia tetap memilih Indonesia sebagai tujuan perjalanan mereka.

“Wisata muslim bukanlah sebuah niche market. Ini adalah salah satu pasar pariwisata global yang sangat menjanjikan,” katanya.

Ia memproyeksikan, kunjungan internasional wisatawan muslim dunia pada 2030 mencapai 262 juta kunjungan, dengan estimasi pengeluaran tahunan sekitar 310 miliar dolar AS. Besarnya potensi tersebut perlu diimbangi dengan upaya meningkatkan kunjungan sekaligus pengeluaran wisatawan.

Salah satu instrumen yang digunakan untuk mendorong peningkatan kualitas destinasi di tingkat daerah adalah IMTI. Menurutnya, indeks tersebut mengukur kesiapan provinsi dalam menyediakan layanan dan pengalaman wisata ramah muslim, dengan mengadaptasi kerangka penilaian Global Muslim Travel Index yang mencakup akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan.

“IMTI 2026 diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing destinasi wisata ramah muslim,” pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu