Follow Us :              

Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah

  05 November 2026  |   11:00:00  |   dibaca : 29 
Kategori :
Bagikan :

Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah

05 November 2026 | 11:00:00 | dibaca : 29
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah

Foto : Fajar (Humas Jateng)

KAB MAGELANG – Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyatakan, pengembangan sektor pariwisata di wilayahnya membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pengelola destinasi, komunitas, dan masyarakat. 

Hal itu disampaikannya saat berdialog dengan para pelaku wisata di Desa Wisata Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang pada Kamis, 5 November 2026. 

Gubernur menilai, sinergi itu sangat diperlukan agar potensi pariwisata daerah dapat dikembangkan secara terpadu dan berkelanjutan. Sebab, setiap daerah memiliki potensi berbeda yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi lokal.

Hal ini sejalan dengan arah pengembangan pariwisata Jawa Tengah pada tahun 2027 yang menitikberatkan pada pariwisata berkelanjutan.

Dalam mendukung arah tersebut, Pemerintah Provinsi Jateng menyiapkan program pengembangan 1.000 desa wisata sepanjang tahun 2026–2027. Upaya ini diarahkan pada pemanfaatan potensi lokal, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, hingga produk unggulan masyarakat.

Gubernur juga menekankan pentingnya konektivitas antardestinasi agar wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih lengkap, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Kita sudah punya program untuk melakukan konektivitas desa wisata. Jadi dari makanannya dapat, kemudian dari budayanya dapat, dari hotelnya dapat,” ucapnya. 

Harapannya, setiap destinasi wisata yang dikembangkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Ia mencontohkan, salah satunya adalah gelaran Bank Jateng Borobudur Marathon 2026 pada 15 November mendatang. Memasuki satu dekade penyelenggaraan, ajang tersebut ditargetkan diikuti 12.500 pelari dari berbagai daerah dan mancanegara.

Gubernur meminta agar manfaat ekonomi Borobudur Marathon dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, termasuk pelaku UMKM di desa-desa sekitar kawasan wisata.

Perwakilan penyelenggara Borobudur Marathon dari Kompas, Budi Sarwanto, mengatakan, pengembangan ajang tersebut tidak hanya difokuskan pada kegiatan olahraga, tetapi juga melibatkan masyarakat melalui sektor pariwisata dan usaha lokal.

“Kita tidak hanya fokus menyelenggarakan event, khususnya lari saja, tetapi bagaimana kita juga bisa berinteraksi, mengembangkan pariwisata, dan mengembangkan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Budi, para penyelenggara telah berupaya melibatkan pelaku wisata, mulai dari pengelola homestay, guest house, hotel, paguyuban andong, dan sebagainya. Selain itu, pihaknya juga memberdayakan UMKM setempat melalui program Bank Jateng Pawone. 

Dalam kesempatan itu, sejumlah pegiat wisata juga menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Jateng. 

Pengelola Wisata Negeri Kahyangan di Desa Wonolelo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Supri, meminta dukungan peningkatan akses jalan menuju destinasi wisata yang dikelola masyarakat desa tersebut. Menurutnya, kawasan wisata itu menerima sekitar 20 ribu-40 ribu kunjungan setiap bulan.

Ia menjelaskan, akses jalan sepanjang 2,7 kilometer menuju lokasi wisata saat ini memiliki lebar sekitar 3 meter. Harapannya, jalan tersebut dapat diperlebar menjadi 5 meter untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.

“Yang kami usulkan, jalan tersebut bisa dilebarkan. Kalau bisa menjadi lima meter, sehingga ketika wisatawan masuk, ada rasa nyaman,” ungkapnya.


Bagikan :

KAB MAGELANG – Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menyatakan, pengembangan sektor pariwisata di wilayahnya membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, pengelola destinasi, komunitas, dan masyarakat. 

Hal itu disampaikannya saat berdialog dengan para pelaku wisata di Desa Wisata Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang pada Kamis, 5 November 2026. 

Gubernur menilai, sinergi itu sangat diperlukan agar potensi pariwisata daerah dapat dikembangkan secara terpadu dan berkelanjutan. Sebab, setiap daerah memiliki potensi berbeda yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi lokal.

Hal ini sejalan dengan arah pengembangan pariwisata Jawa Tengah pada tahun 2027 yang menitikberatkan pada pariwisata berkelanjutan.

Dalam mendukung arah tersebut, Pemerintah Provinsi Jateng menyiapkan program pengembangan 1.000 desa wisata sepanjang tahun 2026–2027. Upaya ini diarahkan pada pemanfaatan potensi lokal, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, hingga produk unggulan masyarakat.

Gubernur juga menekankan pentingnya konektivitas antardestinasi agar wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih lengkap, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Kita sudah punya program untuk melakukan konektivitas desa wisata. Jadi dari makanannya dapat, kemudian dari budayanya dapat, dari hotelnya dapat,” ucapnya. 

Harapannya, setiap destinasi wisata yang dikembangkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Ia mencontohkan, salah satunya adalah gelaran Bank Jateng Borobudur Marathon 2026 pada 15 November mendatang. Memasuki satu dekade penyelenggaraan, ajang tersebut ditargetkan diikuti 12.500 pelari dari berbagai daerah dan mancanegara.

Gubernur meminta agar manfaat ekonomi Borobudur Marathon dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, termasuk pelaku UMKM di desa-desa sekitar kawasan wisata.

Perwakilan penyelenggara Borobudur Marathon dari Kompas, Budi Sarwanto, mengatakan, pengembangan ajang tersebut tidak hanya difokuskan pada kegiatan olahraga, tetapi juga melibatkan masyarakat melalui sektor pariwisata dan usaha lokal.

“Kita tidak hanya fokus menyelenggarakan event, khususnya lari saja, tetapi bagaimana kita juga bisa berinteraksi, mengembangkan pariwisata, dan mengembangkan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Budi, para penyelenggara telah berupaya melibatkan pelaku wisata, mulai dari pengelola homestay, guest house, hotel, paguyuban andong, dan sebagainya. Selain itu, pihaknya juga memberdayakan UMKM setempat melalui program Bank Jateng Pawone. 

Dalam kesempatan itu, sejumlah pegiat wisata juga menyampaikan aspirasi kepada Gubernur Jateng. 

Pengelola Wisata Negeri Kahyangan di Desa Wonolelo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Supri, meminta dukungan peningkatan akses jalan menuju destinasi wisata yang dikelola masyarakat desa tersebut. Menurutnya, kawasan wisata itu menerima sekitar 20 ribu-40 ribu kunjungan setiap bulan.

Ia menjelaskan, akses jalan sepanjang 2,7 kilometer menuju lokasi wisata saat ini memiliki lebar sekitar 3 meter. Harapannya, jalan tersebut dapat diperlebar menjadi 5 meter untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.

“Yang kami usulkan, jalan tersebut bisa dilebarkan. Kalau bisa menjadi lima meter, sehingga ketika wisatawan masuk, ada rasa nyaman,” ungkapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu