Follow Us :              

Tiga Kesenian Asing Ramaikan Penutupan Pesta Rakyat

  20 August 2018  |   23:59:00  |   dibaca : 949 
Kategori :
Bagikan :

Tiga Kesenian Asing Ramaikan Penutupan Pesta Rakyat

20 August 2018 | 23:59:00 | dibaca : 949
Kategori :
Bagikan :

Foto : (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Tiga Kesenian Asing Ramaikan Penutupan Pesta Rakyat
Tiga Kesenian Asing Ramaikan Penutupan Pesta Rakyat
Tiga Kesenian Asing Ramaikan Penutupan Pesta Rakyat
Tiga Kesenian Asing Ramaikan Penutupan Pesta Rakyat
Tiga Kesenian Asing Ramaikan Penutupan Pesta Rakyat

Foto : (Humas Jateng)

PEMALANG -  Penutupan Pesta Rakyat 2018 pada Senin (20/8/2018) malam menjadi ajang unjuk kesenian bagi 35 kabupaten/ kota. Mereka berlomba menampilkan kesenian terbaiknya dengan kreasi tari, cerita, gending dan kostum yang menawan dalam Parade Seni Budaya 2018 di Alun-alun Kabupaten Pemalang. 

Kabupaten Sukoharjo menampilkan Tari Memet yang bercerita tentang keseharian kehidupan para nelayan dengan segala problematikanya. Sementara Kabupaten Klaten mengangkat ledhek tembayatan yang pernah berkembang di daerah pinggiran.  Bahkan pada zaman Kerajaan Mataram, Ledhek juga dimanfaatkan sebagai sarana politik, yaitu sebagai mata-mata untuk mengawasi musuh. Ledhek tembayatan ini disajikan dengan konsep ledhek barangan.

Bergeser ke Blora, mempersembahkan cerita rakyat Soreng Lodra. Soreng adalah prajurit jipan yang gagah dan berani. Lodra merupakan figur tokoh raksasa yang jujur dan bijaksana. Soreng Lodra menggambarkan semangat kebersamaan, kegagahan dan keberanian masyarakat Kabupaten Blora. 

Kabupaten Pati menyuguhkan cerita legenda Prabu Angling Dharma dengan judul Mliwis. Mliwis merupakan nama burung, jelmaan Prabu Angling Dharma yang sakti mandraguna dan mengerti bahasa binatang.

Selain menampilkan kesenian Jawa Tengah yang sarat dengan kearifan lokal, parade seni budaya tahun ini terasa istimewa. Sebab, menghadirkan kesenian tradisional dari Hongaria, Argentina dan Mexico. Hongaria membawakan lagu yang menceritakan keindahan negaranya, Argentina membawakan tari samba dan cakareka, sementara Mexico membawakan seni musik dari suku sa, yang bercerita tentang percintaan dan renungan kematian dengan lagu El Veo.

Sajian seni budaya yang disuguhkan, membius masyarakat Pemalang dan sekitarnya. Hingga pukul 23.30, ribuan masyarakat masih memadati alun-alun.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs H Heru Sudjatmoko MSi menyampaikan, padatnya masyarakat yang hadir menunjukkan bukti cinta dan handarbeni terhadap Jawa Tengah. Sekaligus menunjukkan kuatnya representasi jatidiri masyarakat Jawa Tengah yang penuh keragaman dengan segala karakteristiknya, tetapi justru menjadi perekat persatuan dan kesatuan, serta semangat kejayaan Indonesia.

"Semua tumplek blek, menyatu, nyawiji hati dan tekad untuk memeriahkan kegiatan," ujar mantan Bupati Purbalingga itu.

Demi menghadirkan parade seni budaya terbaik, Heru yakin, banyak yang rela lembur berhari-hari untuk berkreasi dan berinovasi. Kerelaan itu menunjukkan bagian dari kearifan lokal yang diharapkan semakin memperkuat kerukunan dan jiwa kegotong royongan.

"Kalau sudah demikian, maka kebanggaan terhadap bangsa dan negara, termasuk di dalamnya seni budaya, Insyaa Allah akan melekat erat. Itu sejatinya yang harus dimiliki masyarakat Indonesia, termasuk Jawa Tengah. Harapannya, mampu mengikis dan memfilter merebaknya seni budaya asing yang masuk ke negeri ini," urai dia

Selain parade seni budaya 2018, banyak kegiatan yang sudah diselenggarakan sebelumnya di Pesta Rakyat. Plt Asisten Kesejahteraan Rakyat dan Pemerintahan Heru Setiadhie SH MSi melaporkan, kegiatan tersebut antara lain meliputi kegiatan olahraga, seni budaya, pelayanan kesehatan, pameran UMKM, pameran Dekranasda, bakti sosial, dan seminar.

"Sportainment diikuti aktivitas senam pagi, jalan santai sekitar 7000 orang, Pemalang Night run sebanyak 400 peserta, Gowes Pemalang 250 orang dan gelar Forum Rekreasi Olahraga Daerah, dimana juara satu diraih Forum Rekreasi Olahraga Daerah Temanggung, juara dua Kabupaten Pekalongan dan juara tiga Kota Semarang," jelasnya

Untuk pameran Dekranasda, diikuti 62 stan perwakilan kabupaten/ kota se-Jateng dan 4 perwakilan dari provinsi. Yaitu, Kalimantan Selatan, DIY, Jawa Timur dan Lampung. Sementara untuk UMKM, ada 50 stan yang berpartisipasi. 

Untuk seni budaya, kegiatan Dekranasda Festival salah satu yang menjadi unggulan. Dekranasda Festival tersebut dilombakan. Kota Semarang ditetapkan sebagai Dekranasda Pembina Terbaik pertama dan berhak mendapat uang pembinaan sebesar Rp 5 juta, trofi dan sertifikat. Dekranasda terbaik kedua adalah Kota Magelang, dan terbaik ketiga Kabupaten Rembang. Selanjutnya Dekranasda Pembina terbaik harapan ketiga adalah Kabupaten Wonogiri, harapan kedua Kota Tegal dan harapan ketiga jatuh kepada Kabupaten Pekalongan. Kota Tegal selain mendapat gelar juara dalam kegiatan Dekranasda Festival, juga meraih predikat stand terbaik Dekranasda.
(Rita/Puji/Humas Jateng)

 

Baca juga : Sajian Kekayaan Alam Jateng Pada Dekranasda Carnival 2018


Bagikan :

PEMALANG -  Penutupan Pesta Rakyat 2018 pada Senin (20/8/2018) malam menjadi ajang unjuk kesenian bagi 35 kabupaten/ kota. Mereka berlomba menampilkan kesenian terbaiknya dengan kreasi tari, cerita, gending dan kostum yang menawan dalam Parade Seni Budaya 2018 di Alun-alun Kabupaten Pemalang. 

Kabupaten Sukoharjo menampilkan Tari Memet yang bercerita tentang keseharian kehidupan para nelayan dengan segala problematikanya. Sementara Kabupaten Klaten mengangkat ledhek tembayatan yang pernah berkembang di daerah pinggiran.  Bahkan pada zaman Kerajaan Mataram, Ledhek juga dimanfaatkan sebagai sarana politik, yaitu sebagai mata-mata untuk mengawasi musuh. Ledhek tembayatan ini disajikan dengan konsep ledhek barangan.

Bergeser ke Blora, mempersembahkan cerita rakyat Soreng Lodra. Soreng adalah prajurit jipan yang gagah dan berani. Lodra merupakan figur tokoh raksasa yang jujur dan bijaksana. Soreng Lodra menggambarkan semangat kebersamaan, kegagahan dan keberanian masyarakat Kabupaten Blora. 

Kabupaten Pati menyuguhkan cerita legenda Prabu Angling Dharma dengan judul Mliwis. Mliwis merupakan nama burung, jelmaan Prabu Angling Dharma yang sakti mandraguna dan mengerti bahasa binatang.

Selain menampilkan kesenian Jawa Tengah yang sarat dengan kearifan lokal, parade seni budaya tahun ini terasa istimewa. Sebab, menghadirkan kesenian tradisional dari Hongaria, Argentina dan Mexico. Hongaria membawakan lagu yang menceritakan keindahan negaranya, Argentina membawakan tari samba dan cakareka, sementara Mexico membawakan seni musik dari suku sa, yang bercerita tentang percintaan dan renungan kematian dengan lagu El Veo.

Sajian seni budaya yang disuguhkan, membius masyarakat Pemalang dan sekitarnya. Hingga pukul 23.30, ribuan masyarakat masih memadati alun-alun.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Drs H Heru Sudjatmoko MSi menyampaikan, padatnya masyarakat yang hadir menunjukkan bukti cinta dan handarbeni terhadap Jawa Tengah. Sekaligus menunjukkan kuatnya representasi jatidiri masyarakat Jawa Tengah yang penuh keragaman dengan segala karakteristiknya, tetapi justru menjadi perekat persatuan dan kesatuan, serta semangat kejayaan Indonesia.

"Semua tumplek blek, menyatu, nyawiji hati dan tekad untuk memeriahkan kegiatan," ujar mantan Bupati Purbalingga itu.

Demi menghadirkan parade seni budaya terbaik, Heru yakin, banyak yang rela lembur berhari-hari untuk berkreasi dan berinovasi. Kerelaan itu menunjukkan bagian dari kearifan lokal yang diharapkan semakin memperkuat kerukunan dan jiwa kegotong royongan.

"Kalau sudah demikian, maka kebanggaan terhadap bangsa dan negara, termasuk di dalamnya seni budaya, Insyaa Allah akan melekat erat. Itu sejatinya yang harus dimiliki masyarakat Indonesia, termasuk Jawa Tengah. Harapannya, mampu mengikis dan memfilter merebaknya seni budaya asing yang masuk ke negeri ini," urai dia

Selain parade seni budaya 2018, banyak kegiatan yang sudah diselenggarakan sebelumnya di Pesta Rakyat. Plt Asisten Kesejahteraan Rakyat dan Pemerintahan Heru Setiadhie SH MSi melaporkan, kegiatan tersebut antara lain meliputi kegiatan olahraga, seni budaya, pelayanan kesehatan, pameran UMKM, pameran Dekranasda, bakti sosial, dan seminar.

"Sportainment diikuti aktivitas senam pagi, jalan santai sekitar 7000 orang, Pemalang Night run sebanyak 400 peserta, Gowes Pemalang 250 orang dan gelar Forum Rekreasi Olahraga Daerah, dimana juara satu diraih Forum Rekreasi Olahraga Daerah Temanggung, juara dua Kabupaten Pekalongan dan juara tiga Kota Semarang," jelasnya

Untuk pameran Dekranasda, diikuti 62 stan perwakilan kabupaten/ kota se-Jateng dan 4 perwakilan dari provinsi. Yaitu, Kalimantan Selatan, DIY, Jawa Timur dan Lampung. Sementara untuk UMKM, ada 50 stan yang berpartisipasi. 

Untuk seni budaya, kegiatan Dekranasda Festival salah satu yang menjadi unggulan. Dekranasda Festival tersebut dilombakan. Kota Semarang ditetapkan sebagai Dekranasda Pembina Terbaik pertama dan berhak mendapat uang pembinaan sebesar Rp 5 juta, trofi dan sertifikat. Dekranasda terbaik kedua adalah Kota Magelang, dan terbaik ketiga Kabupaten Rembang. Selanjutnya Dekranasda Pembina terbaik harapan ketiga adalah Kabupaten Wonogiri, harapan kedua Kota Tegal dan harapan ketiga jatuh kepada Kabupaten Pekalongan. Kota Tegal selain mendapat gelar juara dalam kegiatan Dekranasda Festival, juga meraih predikat stand terbaik Dekranasda.
(Rita/Puji/Humas Jateng)

 

Baca juga : Sajian Kekayaan Alam Jateng Pada Dekranasda Carnival 2018


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu