Foto : Bintoro (Humas Jateng)
Foto : Bintoro (Humas Jateng)
SEMARANG - Seiring kemajuan teknologi dan era globalisasi seperti sekarang, tantangan bangsa kian berat dalam upaya mengembalikan, meneguhkan, serta memperkuat jati diri Indonesia sebagai bangsa besar dan berbudi pekerti luhur.
"Ini tantangan kita semua untuk mengembalikan, meneguhkan, serta memperkuat jati diri Indonesia sebagai bangsa besar dan luhur," ujar Sekda Provinsi Jateng saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, pada acara Gala Dinner Seminar Nasional Interaktif Jati Diri Bangsa, di Wisma Perdamaian Semarang, Kamis (15/11/2018).
Seminar nasional bertajuk "Merajut dan Meneguhkan Jati Diri" itu, diselenggarakan oleh Dewan Profesor, Senat Akademika Universitas Diponegoro, dan perwakilan guru besar perguruan tinggi negeri berbadan hukum seluruh Indonesia.
Gubernur mengaku prihatin atas tatanan kehidupan yang semakin jauh dari nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. Menurutnya, saat ini masyarakat berada pada fase krisis moral dan karakter. Sementara Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara, menjadi pandangan hidup masyarakat masih jauh dari harapan.
"Konsekuensinya, ditinggalkannya nilai-nilai luhur. Seperti musyawarah mufakat, toleransi, gotong royong, kerukunan, dan saling menolong," katanya.
Ia menyebutkan, beberapa tahun terakhir kerap diberitakan di berbagai media mengenai maraknya perundungan/bullying di lingkungan pendidikan, kekerasan di perguruan tinggi, ujaran kebencian, penyebaran berita bohong yang mengancam persatuan bangsa, narkoba yang menyasar anak-anak, semangat gotong royong hilang dan sulit ditemukan kembali dan merasa paling benar dan pintar sendiri.
Ia meminta pemerintah dan insan pendidikan termasuk dosen hingga guru besar, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, para orang tua, dan kelompok masyarakat lainnya, harus sama-sama nyengkuyung dengan segala daya dan upaya untuk penguatan jati diri bangsa.
"Semua harus bisa kita mainkan peranannya masing-masing secara baik demi bangsa Indonesia. Mari kita pancarkan aura positif memperkuat jati diri bangsa dan Jawa Tengah," pintanya.
Ia berharap, seminar tersebut dapat menghasilkan rumusan-rumusan yang positif dan konstruktif, guna melestarikan dan memajukan budaya bangsa.
Suasana semakin semarak dan dengan tampilan "Lawakan Gareng dan Petruk" yang diperankan para profesor Undip. Tidak kalah dengan celotehan dua personel Punakawan yang mengundang gelak tawa, Sekda dan Rektor Undip Prof Yos Johan Utama menyanyikan lagu-lagu barat klasik dan langgam Jawa, sehingga suasana pun kian akrab dan gayeng.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda mengajak para peserta seminar untuk berkeliling menikmati beragam objek wisata di Kota Semarang, bermacam seni budaya, serta aneka wisata kuliner.
"Jangan lupa kunjungi tempat-tempat wisata di Semarang, seperti Kelenteng Sam Poo Kong, Gereja Blenduk, Masjid Agung Jawa Tengah, dan Pagoda. Kukiner Semarang sangat lezat-lezat jadu harus dicoba, ada batik beragam motif yang pasti cantik," beber Sekda.
(Marni/Puji/Humas Jateng)
Baca juga : Pembangunan Infrastuktur Merajut Persatuan dan Keadilan
SEMARANG - Seiring kemajuan teknologi dan era globalisasi seperti sekarang, tantangan bangsa kian berat dalam upaya mengembalikan, meneguhkan, serta memperkuat jati diri Indonesia sebagai bangsa besar dan berbudi pekerti luhur.
"Ini tantangan kita semua untuk mengembalikan, meneguhkan, serta memperkuat jati diri Indonesia sebagai bangsa besar dan luhur," ujar Sekda Provinsi Jateng saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, pada acara Gala Dinner Seminar Nasional Interaktif Jati Diri Bangsa, di Wisma Perdamaian Semarang, Kamis (15/11/2018).
Seminar nasional bertajuk "Merajut dan Meneguhkan Jati Diri" itu, diselenggarakan oleh Dewan Profesor, Senat Akademika Universitas Diponegoro, dan perwakilan guru besar perguruan tinggi negeri berbadan hukum seluruh Indonesia.
Gubernur mengaku prihatin atas tatanan kehidupan yang semakin jauh dari nilai-nilai yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. Menurutnya, saat ini masyarakat berada pada fase krisis moral dan karakter. Sementara Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara, menjadi pandangan hidup masyarakat masih jauh dari harapan.
"Konsekuensinya, ditinggalkannya nilai-nilai luhur. Seperti musyawarah mufakat, toleransi, gotong royong, kerukunan, dan saling menolong," katanya.
Ia menyebutkan, beberapa tahun terakhir kerap diberitakan di berbagai media mengenai maraknya perundungan/bullying di lingkungan pendidikan, kekerasan di perguruan tinggi, ujaran kebencian, penyebaran berita bohong yang mengancam persatuan bangsa, narkoba yang menyasar anak-anak, semangat gotong royong hilang dan sulit ditemukan kembali dan merasa paling benar dan pintar sendiri.
Ia meminta pemerintah dan insan pendidikan termasuk dosen hingga guru besar, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, para orang tua, dan kelompok masyarakat lainnya, harus sama-sama nyengkuyung dengan segala daya dan upaya untuk penguatan jati diri bangsa.
"Semua harus bisa kita mainkan peranannya masing-masing secara baik demi bangsa Indonesia. Mari kita pancarkan aura positif memperkuat jati diri bangsa dan Jawa Tengah," pintanya.
Ia berharap, seminar tersebut dapat menghasilkan rumusan-rumusan yang positif dan konstruktif, guna melestarikan dan memajukan budaya bangsa.
Suasana semakin semarak dan dengan tampilan "Lawakan Gareng dan Petruk" yang diperankan para profesor Undip. Tidak kalah dengan celotehan dua personel Punakawan yang mengundang gelak tawa, Sekda dan Rektor Undip Prof Yos Johan Utama menyanyikan lagu-lagu barat klasik dan langgam Jawa, sehingga suasana pun kian akrab dan gayeng.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda mengajak para peserta seminar untuk berkeliling menikmati beragam objek wisata di Kota Semarang, bermacam seni budaya, serta aneka wisata kuliner.
"Jangan lupa kunjungi tempat-tempat wisata di Semarang, seperti Kelenteng Sam Poo Kong, Gereja Blenduk, Masjid Agung Jawa Tengah, dan Pagoda. Kukiner Semarang sangat lezat-lezat jadu harus dicoba, ada batik beragam motif yang pasti cantik," beber Sekda.
(Marni/Puji/Humas Jateng)
Baca juga : Pembangunan Infrastuktur Merajut Persatuan dan Keadilan