Follow Us :              

Sepanjang 2018, Angka Kecelakaan Kerja di Jateng Turun 48 Persen

  29 January 2019  |   07:30:00  |   dibaca : 2134 
Kategori :
Bagikan :

Sepanjang 2018, Angka Kecelakaan Kerja di Jateng Turun 48 Persen

29 January 2019 | 07:30:00 | dibaca : 2134
Kategori :
Bagikan :

Foto : Handy (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Sepanjang 2018, Angka Kecelakaan Kerja di Jateng Turun 48 Persen
Sepanjang 2018, Angka Kecelakaan Kerja di Jateng Turun 48 Persen
Sepanjang 2018, Angka Kecelakaan Kerja di Jateng Turun 48 Persen
Sepanjang 2018, Angka Kecelakaan Kerja di Jateng Turun 48 Persen

Foto : Handy (Humas Jateng)

SEMARANG - Angka kecelakaan kerja di Jawa Tengah mengalami penurunan cukup signifikan di tahun 2018. Tercatat, penurunan sebanyak 48 persen dari 2017 sebanyak 3.083 kecelakaan kerja turun menjadi sebanyak 1.468 kecelakaan kerja pada 2018. Hal itu disampaikan Kepala Disnakertrans Provinsi Jateng Wika Bintang saat upacara peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang, Selasa (29/1/2019).

"Meski demikian, penurunan ini tidak berarti kita berpuas diri, karena kemandirian masyarakat Indonesia berbudaya K3 di tahun 2020 yang dicanangkan pemerintah pusat masih memerlukan kerja keras. Peran aktif dan kerja kolektif dari semua elemen diperlukan untuk mewujudkan cita-cita itu," ujarnya.

Menurutnya, data penurunan angka kecelakaan itu menunjukkan kesadaran masyarakat akan K3 semakin tumbuh. Terlebih, dunia kerja saat ini sedang berlomba menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera serta terbebas dari kecelakaan dan penyakit di lingkungan pekerjaan.

"Budaya K3 akan terus kami gerakkan baik kepada para pekerja, asosiasi buruh, pengusaha, manajemen perusahaan dan masyarakat. Semua harus terlibat dan bertanggungjawab untuk mendorong terwujudnya budaya K3 ini," terangnya.

Senada, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang saat itu menjadi inspektur upacara meminta semua elemen untuk peduli dalam upaya menekan angka kecelakaan kerja. Tidak hanya para pekerja sendiri, asosiasi buruh dan pekerja, pengusaha, manajemen perusahaan dan masyarakat juga harus ikut bergerak untuk melakukan sosialisasi pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

"Saya meminta semua elemen dunia kerja makin sadar dan berbudaya K3. Semua harus gencar melakukan sosialisasi, memberikan pelatihan dan pengusaha melengkapi peralatan (keselamatan) sehingga para pekerja terhindar dari cidera, meninggal atau terjangkit penyakit berbahaya," ucap Ganjar.

Dengan budaya K3, kata dia, maka dunia kerja akan aman, nyaman dan produktif. Semua sistem harus berjalan dengan baik, terlatih dan memahami budaya K3. "Tentu seandainya masih terjadi kecelakaan kerja, ada BPJS Ketenagakerjaan yang mem-backup. Namun sebisa mungkin hal itu tidak (sampai) terjadi," imbuhnya.

Disinggung tentang mayoritas tenaga kerja di Indonesia adalah lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), hal itu tidak menjadi soal untuk penerapan budaya K3 di lingkungan kerja. "Meski banyak yang (lulusan) SMP, namun harus terus update pengetahuan mereka tentang keselamatan kerja ini. Tentunya, sosialisasi adalah hal utama untuk menumbuhkan kesadaran keselamatan kerja menjadi budaya," bebernya.

Pada kesempatan itu, Ganjar juga memberikan santunan kepada keluarga pekerja yang mengalami kecelakaan kerja serta memberikan penghargaan bagi daerah maupun perusahaan yang sudah menerapkan budaya K3 dengan baik.

 

Baca juga : Keempat Kalinya, Jateng Raih Penghargaan Pembina K3 Terbaik


Bagikan :

SEMARANG - Angka kecelakaan kerja di Jawa Tengah mengalami penurunan cukup signifikan di tahun 2018. Tercatat, penurunan sebanyak 48 persen dari 2017 sebanyak 3.083 kecelakaan kerja turun menjadi sebanyak 1.468 kecelakaan kerja pada 2018. Hal itu disampaikan Kepala Disnakertrans Provinsi Jateng Wika Bintang saat upacara peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang, Selasa (29/1/2019).

"Meski demikian, penurunan ini tidak berarti kita berpuas diri, karena kemandirian masyarakat Indonesia berbudaya K3 di tahun 2020 yang dicanangkan pemerintah pusat masih memerlukan kerja keras. Peran aktif dan kerja kolektif dari semua elemen diperlukan untuk mewujudkan cita-cita itu," ujarnya.

Menurutnya, data penurunan angka kecelakaan itu menunjukkan kesadaran masyarakat akan K3 semakin tumbuh. Terlebih, dunia kerja saat ini sedang berlomba menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera serta terbebas dari kecelakaan dan penyakit di lingkungan pekerjaan.

"Budaya K3 akan terus kami gerakkan baik kepada para pekerja, asosiasi buruh, pengusaha, manajemen perusahaan dan masyarakat. Semua harus terlibat dan bertanggungjawab untuk mendorong terwujudnya budaya K3 ini," terangnya.

Senada, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang saat itu menjadi inspektur upacara meminta semua elemen untuk peduli dalam upaya menekan angka kecelakaan kerja. Tidak hanya para pekerja sendiri, asosiasi buruh dan pekerja, pengusaha, manajemen perusahaan dan masyarakat juga harus ikut bergerak untuk melakukan sosialisasi pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

"Saya meminta semua elemen dunia kerja makin sadar dan berbudaya K3. Semua harus gencar melakukan sosialisasi, memberikan pelatihan dan pengusaha melengkapi peralatan (keselamatan) sehingga para pekerja terhindar dari cidera, meninggal atau terjangkit penyakit berbahaya," ucap Ganjar.

Dengan budaya K3, kata dia, maka dunia kerja akan aman, nyaman dan produktif. Semua sistem harus berjalan dengan baik, terlatih dan memahami budaya K3. "Tentu seandainya masih terjadi kecelakaan kerja, ada BPJS Ketenagakerjaan yang mem-backup. Namun sebisa mungkin hal itu tidak (sampai) terjadi," imbuhnya.

Disinggung tentang mayoritas tenaga kerja di Indonesia adalah lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), hal itu tidak menjadi soal untuk penerapan budaya K3 di lingkungan kerja. "Meski banyak yang (lulusan) SMP, namun harus terus update pengetahuan mereka tentang keselamatan kerja ini. Tentunya, sosialisasi adalah hal utama untuk menumbuhkan kesadaran keselamatan kerja menjadi budaya," bebernya.

Pada kesempatan itu, Ganjar juga memberikan santunan kepada keluarga pekerja yang mengalami kecelakaan kerja serta memberikan penghargaan bagi daerah maupun perusahaan yang sudah menerapkan budaya K3 dengan baik.

 

Baca juga : Keempat Kalinya, Jateng Raih Penghargaan Pembina K3 Terbaik


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu