Follow Us :              

Di Ponpes Matholi'ul Anwar, Gus Yasin Ingatkan Pentingnya Kesabaran Bagi Guru 

  30 March 2019  |   18:00:00  |   dibaca : 3637 
Kategori :
Bagikan :

Di Ponpes Matholi'ul Anwar, Gus Yasin Ingatkan Pentingnya Kesabaran Bagi Guru 

30 March 2019 | 18:00:00 | dibaca : 3637
Kategori :
Bagikan :

Foto : Handy (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Di Ponpes Matholi'ul Anwar, Gus Yasin Ingatkan Pentingnya Kesabaran Bagi Guru 
Di Ponpes Matholi'ul Anwar, Gus Yasin Ingatkan Pentingnya Kesabaran Bagi Guru 
Di Ponpes Matholi'ul Anwar, Gus Yasin Ingatkan Pentingnya Kesabaran Bagi Guru 
Di Ponpes Matholi'ul Anwar, Gus Yasin Ingatkan Pentingnya Kesabaran Bagi Guru 

Foto : Handy (Humas Jateng)

WONOSOBO - Kesabaran guru dalam  menghadapi sikap dan perilaku para siswa sangat penting. Jika guru tidak memiliki sifat sabar, maka tujuan kegiatan belajar dan mengajar tidak akan tercapai dengan baik.

"Apabila tidak ada kesabaran pada diri seorang guru, maka fenomena tindak kekerasan akan marak di sekolah-sekolah. Terutama yang tidak berbasis pondok pesantren atau tidak berbasis pendidikan keagamaan," ujar Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen saat memberi sambutan pada Harlah At Tasyakur Lil Iktitam ke-6 di Pondok Pesantren (Ponpes) Matholi'ul Anwar Desa Dempel, Kecamatan Selomerto, Wonosobo, Sabtu (30/3/2019) malam.

Menurutnya, masih lekat dalam ingatan masyarakat tentang beragam peristiwa kekerasan di dunia pendidikan yang terjadi di berbagai daerah di penjuru Indonesia. Di antaranya perkelahian antara murid dengan guru, murid dengan murid, maupun antar sekolah atau tawuran pelajar.

Terkait kesabaran guru, kata dia, ada kisah antara murid dengan guru yang perlu menjadi teladan bagi semua. Yaitu kisah Imam Syafii dan Imam Al Baihaqi. Di mana ada seorang murid dengan daya tangkap rendah telah mengulang satu mata pelajaran hingga 39 kali, itu pun si murid masih belum paham. Tetapi sang guru tetap dengan sabar dan telaten mengajari muridnya tersebut.

"Pesan yang disampaikan dalam kisah tersebut adalah, guru harus sabar dan jangan sampai berpikir bahwa yang bisa memahamkan suatu pelajaran terhadap murid adalah guru, karena yang bisa memahamkan hanya Allah," terangnya.

Mantan anggota DPRD Jateng yang akrab disapa Gus Yasin itu, juga menjelaskan tentang pengalamannya mengajar di MTs 02 Al-Anwar, Rembang. Pengalaman menjadi guru yang ditekuninya usai pulang dari belajar di TImur Tengah itu, merupakan tugas dari kakak pertamanya. "Kakak meminta saya mengajar di MTs itu bukan untuk mengajar tetapi untuk bersabar," katanya.

Kesabarannya sempat teruji ketika Gus Yasin meminta para murid menghafal kitab. Putra ulama sepuh asal Rembang KH Maimoen Zubair itu bahkan mendapat protes dari muridnya. Satu kelas menyatakan menolak menghafal kitab pada hari itu. Bahkan tugas diperingan yaitu satu kelompok  menghafal satu hadis, semua murid tetap tidak siap.

"Saya jadi kembali ingat dengan pesan yang disampaikan kakak saya, bahwa saya diminta bukan untuk mengajar melainkan bersabar. Sabar menghadapi sikap para murid atau santri. Guru dan murid harus sama sabarnya karena tidak semua orang akalnya sama, mempunyai kepintaran yang sama," bebernya.

Demikian pula menjadi murid jangan mudah frustasi, terlebih sifat generasi muda saat ini tidak sedikit yang mudah putus asa. Ketika keinginan sulit dicapai biasanya langsung ditinggalkan atau tanpa mau berusaha maksimal untuk meraihnya.

 

Baca juga : Guru dan Murid Harus Teladani Keteguhan Imam SYafi'i dan Kejujuran Al Buwaithi


Bagikan :

WONOSOBO - Kesabaran guru dalam  menghadapi sikap dan perilaku para siswa sangat penting. Jika guru tidak memiliki sifat sabar, maka tujuan kegiatan belajar dan mengajar tidak akan tercapai dengan baik.

"Apabila tidak ada kesabaran pada diri seorang guru, maka fenomena tindak kekerasan akan marak di sekolah-sekolah. Terutama yang tidak berbasis pondok pesantren atau tidak berbasis pendidikan keagamaan," ujar Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen saat memberi sambutan pada Harlah At Tasyakur Lil Iktitam ke-6 di Pondok Pesantren (Ponpes) Matholi'ul Anwar Desa Dempel, Kecamatan Selomerto, Wonosobo, Sabtu (30/3/2019) malam.

Menurutnya, masih lekat dalam ingatan masyarakat tentang beragam peristiwa kekerasan di dunia pendidikan yang terjadi di berbagai daerah di penjuru Indonesia. Di antaranya perkelahian antara murid dengan guru, murid dengan murid, maupun antar sekolah atau tawuran pelajar.

Terkait kesabaran guru, kata dia, ada kisah antara murid dengan guru yang perlu menjadi teladan bagi semua. Yaitu kisah Imam Syafii dan Imam Al Baihaqi. Di mana ada seorang murid dengan daya tangkap rendah telah mengulang satu mata pelajaran hingga 39 kali, itu pun si murid masih belum paham. Tetapi sang guru tetap dengan sabar dan telaten mengajari muridnya tersebut.

"Pesan yang disampaikan dalam kisah tersebut adalah, guru harus sabar dan jangan sampai berpikir bahwa yang bisa memahamkan suatu pelajaran terhadap murid adalah guru, karena yang bisa memahamkan hanya Allah," terangnya.

Mantan anggota DPRD Jateng yang akrab disapa Gus Yasin itu, juga menjelaskan tentang pengalamannya mengajar di MTs 02 Al-Anwar, Rembang. Pengalaman menjadi guru yang ditekuninya usai pulang dari belajar di TImur Tengah itu, merupakan tugas dari kakak pertamanya. "Kakak meminta saya mengajar di MTs itu bukan untuk mengajar tetapi untuk bersabar," katanya.

Kesabarannya sempat teruji ketika Gus Yasin meminta para murid menghafal kitab. Putra ulama sepuh asal Rembang KH Maimoen Zubair itu bahkan mendapat protes dari muridnya. Satu kelas menyatakan menolak menghafal kitab pada hari itu. Bahkan tugas diperingan yaitu satu kelompok  menghafal satu hadis, semua murid tetap tidak siap.

"Saya jadi kembali ingat dengan pesan yang disampaikan kakak saya, bahwa saya diminta bukan untuk mengajar melainkan bersabar. Sabar menghadapi sikap para murid atau santri. Guru dan murid harus sama sabarnya karena tidak semua orang akalnya sama, mempunyai kepintaran yang sama," bebernya.

Demikian pula menjadi murid jangan mudah frustasi, terlebih sifat generasi muda saat ini tidak sedikit yang mudah putus asa. Ketika keinginan sulit dicapai biasanya langsung ditinggalkan atau tanpa mau berusaha maksimal untuk meraihnya.

 

Baca juga : Guru dan Murid Harus Teladani Keteguhan Imam SYafi'i dan Kejujuran Al Buwaithi


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu