Follow Us :              

Ganjar, Pasar Semawis dan Ikan Dori yang Belum Habis

  17 January 2020  |   20:00:00  |   dibaca : 470 
Kategori :
Bagikan :


Ganjar, Pasar Semawis dan Ikan Dori yang Belum Habis

17 January 2020 | 20:00:00 | dibaca : 470
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Belasan orang meliak-liukkan tongkat panjang penyangga Naga-nagaan, memeragakan tari Liang Liong di ujung jalan Wotgandul Timur kawasan Pecinan Semarang, Jumat (17/1/2020) malam. Rancaknya gerakan mereka sampai-sampai membuat masyarakat yang memadati Pasar Semawis histeris karena seolah-olah hewan mitologi itu benar-benar hidup dan melayang di atas kepala mereka. 

Layaknya memberi penghormatan, kepala naga Liang Liong yang diangkat setongkat penuh itu langsung menukik dan menggeliat di depan dada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengenakan pakaian tradisional Cina berwarna merah. Setelah hentakan musik pengiring membuncah, sang naga berputar arah membukakan jalan untuk Ganjar menuju ke salah satu kursi di Tok Panjang. 

Saat Ganjar mendekati tempat duduk, suara perkusi pengiring Liang Liong segera berganti dengan alunan erhu, guzheng dan dizi yang mengiringi gadis berjilbab menyanyikan lagu Mandarin. Menurut Haryanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis) lagu-lagu tersebut mendendangkan syair-syair kebahagiaan menjelang Tahun Baru Imlek. 

"Selain lewat lagu, kebahagiaan itu kami luapkan dengan menggelar Tok Panjang ini," kata Haryanto, yang akrab dipanggil Pak Har.

Tok Panjang merupakan tradisi makan orang Tionghoa di sebuah meja panjang yang mampu menampung banyak orang. Di Semarang, tradisi itu dipoles menjadi perayaan meriah yang terbuka selebar-lebarnya untuk siapapun. Halal jadi jaminan khusus pada seluruh makanan yang disajikan di Tok Panjang. Bahkan karena seringnya mendapat pujian tentang tingginya toleransi di acara itu, Harjanto Halim mengatakan bahwa sikap seperti itu sudah semestinya dilakukan.

"Enam meja berjajar yang jika disambung panjangnya hampir dua ratus meter ini diisi dari berbagai etnis, suku maupun agama. Mereka menikmati hidangan khas Tionghoa dari sup lobak, kue keranjang, acar, nasi goreng khas Tionghoa sampai yang paling lezat, ikan dori," kata Haryanto. 

Telah 17 kali Tok Panjang digelar di Kawasan Pecinan Semarang. Selama 17 kali pula acara yang digelar selama tiga hari itu tidak pernah sepi pengunjung. Gaungnya pun telah didengar bukan hanya oleh warga Jawa Tengah, namun hampir seluruh penjuru Tanah Air dengan memanfaatkan ikatan persaudaraan maupun penyebaran informasi di berbagai media. Woro Mastuti, misalnya. Dia rela menempuh perjalanan sekitar delapan jam dari Depok hanya untuk bisa duduk di jajaran kursi dan menikmati sajian di Tok Panjang Semawis. 

"Luar biasa sekali acaranya, apalagi hidangannya ini. Lobak yang asal rasanya hambar bisa jadi enak begini. Harus dilestarikan ini, makanan dan terutama acaranya," kata perempuan paruh baya yang juga dosen di Universitas Indonesia itu. 

Sebenarnya, tradisi makan di meja panjang menjelang Imlek itu bukan hanya dilakukan di Semarang. Di Singapura ada beberapa resto yang memiliki tema tradisi makan ini. Di Malaysia juga terdapat museum yang memamerkan tradisi ini. 

Maka, bisa makan di Tok Panjang adalah momen yang sayang untuk dilewatkan. Tak heran, Ganjar sampai memesan baju khusus ke penjahit langganannya agar momen kehadirannya dalam Tok Panjang terasa istimewa. 

"Tapi sayang, meski sudah memakai baju khusus ini saya tidak bisa menghabiskan ikan dori yang sangat lezat itu karena dipaksa naik panggung ini. Kamu (MC) harus tanggung jawab. Tapi kok bisa ya masak seenak itu," seloroh Ganjar yang membuat ribuan pengunjung tidak bisa menahan tawa. 

Tapi penyesalan Ganjar yang tidak bisa menghabiskan hidangan ikan dori itu terbayar tuntas ketika dia makan kue keranjang. Berbeda dengan kue keranjang pada umumnya, di Tok Panjang tersaji Kue Keranjang kukus santan yang menurut Ganjar sensasi rasanya sangat legit. Kebahagiaan Ganjar semakin lengkap ketika menonton adegan peperangan di pertunjukan wayang potehi. Saking tertariknya, Ganjar mengeluarkan souvernir wayang potehi yang dia terima di atas panggung, kemudian turut bermain wayang dalam adegan peperangan itu. 

"Inilah kekayaan kita. Acara yang sangat unik dan ditunggu-tunggu banyak orang. Kulinernya enak-enak. Tidak ada ruginya liburan ke sini," tandas Ganjar.


Bagikan :

SEMARANG - Belasan orang meliak-liukkan tongkat panjang penyangga Naga-nagaan, memeragakan tari Liang Liong di ujung jalan Wotgandul Timur kawasan Pecinan Semarang, Jumat (17/1/2020) malam. Rancaknya gerakan mereka sampai-sampai membuat masyarakat yang memadati Pasar Semawis histeris karena seolah-olah hewan mitologi itu benar-benar hidup dan melayang di atas kepala mereka. 

Layaknya memberi penghormatan, kepala naga Liang Liong yang diangkat setongkat penuh itu langsung menukik dan menggeliat di depan dada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengenakan pakaian tradisional Cina berwarna merah. Setelah hentakan musik pengiring membuncah, sang naga berputar arah membukakan jalan untuk Ganjar menuju ke salah satu kursi di Tok Panjang. 

Saat Ganjar mendekati tempat duduk, suara perkusi pengiring Liang Liong segera berganti dengan alunan erhu, guzheng dan dizi yang mengiringi gadis berjilbab menyanyikan lagu Mandarin. Menurut Haryanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis) lagu-lagu tersebut mendendangkan syair-syair kebahagiaan menjelang Tahun Baru Imlek. 

"Selain lewat lagu, kebahagiaan itu kami luapkan dengan menggelar Tok Panjang ini," kata Haryanto, yang akrab dipanggil Pak Har.

Tok Panjang merupakan tradisi makan orang Tionghoa di sebuah meja panjang yang mampu menampung banyak orang. Di Semarang, tradisi itu dipoles menjadi perayaan meriah yang terbuka selebar-lebarnya untuk siapapun. Halal jadi jaminan khusus pada seluruh makanan yang disajikan di Tok Panjang. Bahkan karena seringnya mendapat pujian tentang tingginya toleransi di acara itu, Harjanto Halim mengatakan bahwa sikap seperti itu sudah semestinya dilakukan.

"Enam meja berjajar yang jika disambung panjangnya hampir dua ratus meter ini diisi dari berbagai etnis, suku maupun agama. Mereka menikmati hidangan khas Tionghoa dari sup lobak, kue keranjang, acar, nasi goreng khas Tionghoa sampai yang paling lezat, ikan dori," kata Haryanto. 

Telah 17 kali Tok Panjang digelar di Kawasan Pecinan Semarang. Selama 17 kali pula acara yang digelar selama tiga hari itu tidak pernah sepi pengunjung. Gaungnya pun telah didengar bukan hanya oleh warga Jawa Tengah, namun hampir seluruh penjuru Tanah Air dengan memanfaatkan ikatan persaudaraan maupun penyebaran informasi di berbagai media. Woro Mastuti, misalnya. Dia rela menempuh perjalanan sekitar delapan jam dari Depok hanya untuk bisa duduk di jajaran kursi dan menikmati sajian di Tok Panjang Semawis. 

"Luar biasa sekali acaranya, apalagi hidangannya ini. Lobak yang asal rasanya hambar bisa jadi enak begini. Harus dilestarikan ini, makanan dan terutama acaranya," kata perempuan paruh baya yang juga dosen di Universitas Indonesia itu. 

Sebenarnya, tradisi makan di meja panjang menjelang Imlek itu bukan hanya dilakukan di Semarang. Di Singapura ada beberapa resto yang memiliki tema tradisi makan ini. Di Malaysia juga terdapat museum yang memamerkan tradisi ini. 

Maka, bisa makan di Tok Panjang adalah momen yang sayang untuk dilewatkan. Tak heran, Ganjar sampai memesan baju khusus ke penjahit langganannya agar momen kehadirannya dalam Tok Panjang terasa istimewa. 

"Tapi sayang, meski sudah memakai baju khusus ini saya tidak bisa menghabiskan ikan dori yang sangat lezat itu karena dipaksa naik panggung ini. Kamu (MC) harus tanggung jawab. Tapi kok bisa ya masak seenak itu," seloroh Ganjar yang membuat ribuan pengunjung tidak bisa menahan tawa. 

Tapi penyesalan Ganjar yang tidak bisa menghabiskan hidangan ikan dori itu terbayar tuntas ketika dia makan kue keranjang. Berbeda dengan kue keranjang pada umumnya, di Tok Panjang tersaji Kue Keranjang kukus santan yang menurut Ganjar sensasi rasanya sangat legit. Kebahagiaan Ganjar semakin lengkap ketika menonton adegan peperangan di pertunjukan wayang potehi. Saking tertariknya, Ganjar mengeluarkan souvernir wayang potehi yang dia terima di atas panggung, kemudian turut bermain wayang dalam adegan peperangan itu. 

"Inilah kekayaan kita. Acara yang sangat unik dan ditunggu-tunggu banyak orang. Kulinernya enak-enak. Tidak ada ruginya liburan ke sini," tandas Ganjar.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu