Follow Us :              

Ganjar Terenyuh Disambati Mahasiswa yang Telat Dapat Kiriman

  17 April 2020  |   07:00:00  |   dibaca : 761 
Kategori :
Bagikan :


Ganjar Terenyuh Disambati Mahasiswa yang Telat Dapat Kiriman

17 April 2020 | 07:00:00 | dibaca : 761
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Perhatian kepada mahasiswa asal luar Jawa terus ditunjukkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Jumat (17/4/2020) pagi, Ganjar mengunjungi Asrama Mahasiswa Nusa Tenggara Barat (NTB) di Jalan Talang Sari, Parsadaan Mahasiswa Batak Semarang di Tembalang dan asrama pelajar asal Timika, Papua, di Sambiroto, Kota Semarang.

Setiap berkunjung, Ganjar selalu menanyakan kondisi para perantau yang sedang menempuh pendidikan itu. Tak hanya itu, Ganjar juga mengecek stok sembako di dapur asrama.

Saat berkunjung ke Asrama Mahasiswa NTB, misalnya, Ganjar mengecek beras di dalam ember yang diletakkan di dapur. Dia melihat, hanya sedikit beras yang tersisa.

"Maaf pak, kondisinya kotor. Berasnya juga tinggal itu. Itu juga bantuan dari kampus," kata Junaidi, Ketua Mahasiswa NTB di Semarang.

Kepada Ganjar, Junaidi mengatakan bahwa covid-19 cukup berdampak bagi mahasiswa luar Jawa. Yang paling terasa menurutnya, kiriman uang dari kampung halaman saat ini sering terlambat.

"Kiriman sering telat pak, tapi mau bagaimana lagi karena kondisinya seperti ini. Kami semua mayoritas anak petani, uang saku biasanya hanya Rp300.000 perbulan," curhat Junaidi.

Curhatan yang sama juga didapat Ganjar dari puluhan mahasiswa yang tinggal di asrama mahasiswa Batak. Kepada Ganjar, mereka juga mengatakan sering telat kiriman dari kampung halaman.

"Kami ada 20 orang yang tinggal disini. Semuanya sehat pak, tapi ya itu, kiriman dari rumah macet," kata Ketua Mahasiswa Batak di Semarang, Chandra Pangabean.

Ganjar terenyuh mendengar cerita para mahasiswa itu. Meski begitu, ia tetap menyemangati para mahasiswa itu untuk tetap bertahan. Segala cara, lanjut Ganjar, harus dilakukan agar tetap bisa bertahan di Semarang.

"Nanti saya kirim bantuan sembako, biar kalian tenang. Bisa dimasak dan dimakan bareng-bareng. Jangan jajan terus, biar irit. Yang penting sehat ya, nggak usah pulang kampung dulu, tetap tinggal di sini, pakai masker, sering cuci tangan dan olahraga. Kalau ada apa-apa lapor saya," kata Ganjar.

Hal berbeda dilihat Ganjar saat mengunjungi Asrama Pelajar Timika di Sambiroto Semarang. Mayoritas kondisi para pelajar dari Papua itu relatif aman karena dijamin pemerintah daerahnya. Meski begitu, Ganjar tetap memberikan bantuan sembako kepada mereka.

"Saya hanya ingin memastikan semua mahasiswa dan pelajar dari luar daerah ini sehat. Beberapa memang ada yang kesulitan karena kiriman telat dari kampung, maka kami berikan bantuan sembako. Kami harap bantuan ini bisa membuat mereka setidaknya tenang," terang Ganjar.

Pemberian sembako tersebut diapresiasi oleh mahasiswa dan pelajar dari luar Jawa itu. Mereka merasa beruntung mendapatkan perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meskipun bukan warga Jawa Tengah.

"Kami sebagai mahasiswa luar Jawa Tengah sangat terbantu. Di tengah kondisi wabah ini, kiriman orang tua menjadi telat. Kami senang, walaupun bukan warga asli Jateng, namun diperhatikan oleh Pak Ganjar," kata Chandra.


Bagikan :

SEMARANG - Perhatian kepada mahasiswa asal luar Jawa terus ditunjukkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Jumat (17/4/2020) pagi, Ganjar mengunjungi Asrama Mahasiswa Nusa Tenggara Barat (NTB) di Jalan Talang Sari, Parsadaan Mahasiswa Batak Semarang di Tembalang dan asrama pelajar asal Timika, Papua, di Sambiroto, Kota Semarang.

Setiap berkunjung, Ganjar selalu menanyakan kondisi para perantau yang sedang menempuh pendidikan itu. Tak hanya itu, Ganjar juga mengecek stok sembako di dapur asrama.

Saat berkunjung ke Asrama Mahasiswa NTB, misalnya, Ganjar mengecek beras di dalam ember yang diletakkan di dapur. Dia melihat, hanya sedikit beras yang tersisa.

"Maaf pak, kondisinya kotor. Berasnya juga tinggal itu. Itu juga bantuan dari kampus," kata Junaidi, Ketua Mahasiswa NTB di Semarang.

Kepada Ganjar, Junaidi mengatakan bahwa covid-19 cukup berdampak bagi mahasiswa luar Jawa. Yang paling terasa menurutnya, kiriman uang dari kampung halaman saat ini sering terlambat.

"Kiriman sering telat pak, tapi mau bagaimana lagi karena kondisinya seperti ini. Kami semua mayoritas anak petani, uang saku biasanya hanya Rp300.000 perbulan," curhat Junaidi.

Curhatan yang sama juga didapat Ganjar dari puluhan mahasiswa yang tinggal di asrama mahasiswa Batak. Kepada Ganjar, mereka juga mengatakan sering telat kiriman dari kampung halaman.

"Kami ada 20 orang yang tinggal disini. Semuanya sehat pak, tapi ya itu, kiriman dari rumah macet," kata Ketua Mahasiswa Batak di Semarang, Chandra Pangabean.

Ganjar terenyuh mendengar cerita para mahasiswa itu. Meski begitu, ia tetap menyemangati para mahasiswa itu untuk tetap bertahan. Segala cara, lanjut Ganjar, harus dilakukan agar tetap bisa bertahan di Semarang.

"Nanti saya kirim bantuan sembako, biar kalian tenang. Bisa dimasak dan dimakan bareng-bareng. Jangan jajan terus, biar irit. Yang penting sehat ya, nggak usah pulang kampung dulu, tetap tinggal di sini, pakai masker, sering cuci tangan dan olahraga. Kalau ada apa-apa lapor saya," kata Ganjar.

Hal berbeda dilihat Ganjar saat mengunjungi Asrama Pelajar Timika di Sambiroto Semarang. Mayoritas kondisi para pelajar dari Papua itu relatif aman karena dijamin pemerintah daerahnya. Meski begitu, Ganjar tetap memberikan bantuan sembako kepada mereka.

"Saya hanya ingin memastikan semua mahasiswa dan pelajar dari luar daerah ini sehat. Beberapa memang ada yang kesulitan karena kiriman telat dari kampung, maka kami berikan bantuan sembako. Kami harap bantuan ini bisa membuat mereka setidaknya tenang," terang Ganjar.

Pemberian sembako tersebut diapresiasi oleh mahasiswa dan pelajar dari luar Jawa itu. Mereka merasa beruntung mendapatkan perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meskipun bukan warga Jawa Tengah.

"Kami sebagai mahasiswa luar Jawa Tengah sangat terbantu. Di tengah kondisi wabah ini, kiriman orang tua menjadi telat. Kami senang, walaupun bukan warga asli Jateng, namun diperhatikan oleh Pak Ganjar," kata Chandra.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu