Follow Us :              

Sistem Resi Gudang Efektif Mengurangi Resiko Kerugian Petani

  20 April 2021  |   14:00:00  |   dibaca : 957 
Kategori :
Bagikan :


Sistem Resi Gudang Efektif Mengurangi Resiko Kerugian Petani

20 April 2021 | 14:00:00 | dibaca : 957
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

GROBOGAN - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau sistem resi gudang (SRG) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Grobogan, Selasa (20/4/2021). Keberhasilan implementasi SRG di kabupaten ini telah menjadi teladan nasional. Berkat pengelolaan yang baik, program ini sangat dirasakan manfaatnya oleh para petani. 

"Manfaatnya luar biasa bagi petani. Kalau biasanya petani menjual gabah masih basah karena kadar airnya ketinggian. (Setelah menjadi beras) Itu yang dikasih stempel beras jelek, akhirnya tidak terserap. Nah di gudang ini (gabah) diterima dengan standar tentunya, lalu dijemur lagi sehingga harganya bisa terangkat tinggi," kata Ganjar. 

Selain itu, apabila harga di pasar belum menentu atau bahkan anjlok, sistem resi gudang juga dapat melindungi petani. Hasil pertanian yang disimpan di gudang akan mendapatkan resi, dan itu bisa dijaminkan ke Bank Jateng. 

"(Resi) Bisa dijaminkan ke Bank Jateng, (untuk) dapat uang. Jadi sambil menunggu harga stabil, mereka bisa mempunyai modal untuk menanam kembali. Ya seperti menggadaikan gabah ke resi gudang. Dengan pengelolaan baik, maka hasil pertanian bisa tinggi," jelasnya. 

Ganjar mengatakan dengan mekanisme itu, pengelola akan membantu menjualkan gabah milik petani yang telah digiling dengan harga maksimal. Nantinya, hasil penjualan itu akan dibagi dengan kapasitas 60:40. 

“Ini menarik, dan saya berharap program ini diterapkan di daerah lain di Jawa Tengah," pungkasnya. 

Petani Tak Lagi Merugi 

Nur Sholikhin (45), petani asal Tanjung Harjo Grobogan mengaku, sebelum ada sistem resi gudang, ia selalu menjual hasil panen ke pasaran walaupun harga sedang jatuh. Hal Itu terpaksa ia lakukan demi mendapatkan modal bertanam selanjutnya. 

"Sekarang tidak susah lagi. Meskipun saat panen harga anjlok, saya tidak langsung menjual. Gabah bisa saya simpan dulu di gudang ini, yang menerapkan sistem resi. Nanti kalau harga sudah stabil, baru dijual," kata Nur Sholikhin. 

Solikhin lebih senang lagi, karena sambil menunggu harga stabil, gabah yang disimpan dengan mekanisme resi gudang itu bisa dijaminkan ke Bank Jateng. Dengan jaminan itu, Ia tak lagi panik saat musim tanam tiba. 

"Sudah empat kali saya jaminkan resi gudang saya. Dapatnya lumayan, maksimal 75 juta dan bisa digunakan tanam lagi. Nanti setelah harga stabil, baru gabah dijual. Saya pernah untung Rp10 juta dengan program ini," ucapnya. 

Hal serupa juga dirasakan Nur Rodi (60), petani lainnya. Ia mengatakan, sudah ada 800 petani di Gapoktannya yang mengikuti program resi gudang ini. Dan sampai saat ini, sudah ada 100 ton gabah kering yang mereka simpan di gudang sistem resi. 

"(Sistem) Ini bisa meminimalisir kerugian, karena kami tidak buru-buru menjual. Sistem ini memang menguntungkan," ujar Nur Rodi.


Bagikan :

GROBOGAN - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau sistem resi gudang (SRG) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Grobogan, Selasa (20/4/2021). Keberhasilan implementasi SRG di kabupaten ini telah menjadi teladan nasional. Berkat pengelolaan yang baik, program ini sangat dirasakan manfaatnya oleh para petani. 

"Manfaatnya luar biasa bagi petani. Kalau biasanya petani menjual gabah masih basah karena kadar airnya ketinggian. (Setelah menjadi beras) Itu yang dikasih stempel beras jelek, akhirnya tidak terserap. Nah di gudang ini (gabah) diterima dengan standar tentunya, lalu dijemur lagi sehingga harganya bisa terangkat tinggi," kata Ganjar. 

Selain itu, apabila harga di pasar belum menentu atau bahkan anjlok, sistem resi gudang juga dapat melindungi petani. Hasil pertanian yang disimpan di gudang akan mendapatkan resi, dan itu bisa dijaminkan ke Bank Jateng. 

"(Resi) Bisa dijaminkan ke Bank Jateng, (untuk) dapat uang. Jadi sambil menunggu harga stabil, mereka bisa mempunyai modal untuk menanam kembali. Ya seperti menggadaikan gabah ke resi gudang. Dengan pengelolaan baik, maka hasil pertanian bisa tinggi," jelasnya. 

Ganjar mengatakan dengan mekanisme itu, pengelola akan membantu menjualkan gabah milik petani yang telah digiling dengan harga maksimal. Nantinya, hasil penjualan itu akan dibagi dengan kapasitas 60:40. 

“Ini menarik, dan saya berharap program ini diterapkan di daerah lain di Jawa Tengah," pungkasnya. 

Petani Tak Lagi Merugi 

Nur Sholikhin (45), petani asal Tanjung Harjo Grobogan mengaku, sebelum ada sistem resi gudang, ia selalu menjual hasil panen ke pasaran walaupun harga sedang jatuh. Hal Itu terpaksa ia lakukan demi mendapatkan modal bertanam selanjutnya. 

"Sekarang tidak susah lagi. Meskipun saat panen harga anjlok, saya tidak langsung menjual. Gabah bisa saya simpan dulu di gudang ini, yang menerapkan sistem resi. Nanti kalau harga sudah stabil, baru dijual," kata Nur Sholikhin. 

Solikhin lebih senang lagi, karena sambil menunggu harga stabil, gabah yang disimpan dengan mekanisme resi gudang itu bisa dijaminkan ke Bank Jateng. Dengan jaminan itu, Ia tak lagi panik saat musim tanam tiba. 

"Sudah empat kali saya jaminkan resi gudang saya. Dapatnya lumayan, maksimal 75 juta dan bisa digunakan tanam lagi. Nanti setelah harga stabil, baru gabah dijual. Saya pernah untung Rp10 juta dengan program ini," ucapnya. 

Hal serupa juga dirasakan Nur Rodi (60), petani lainnya. Ia mengatakan, sudah ada 800 petani di Gapoktannya yang mengikuti program resi gudang ini. Dan sampai saat ini, sudah ada 100 ton gabah kering yang mereka simpan di gudang sistem resi. 

"(Sistem) Ini bisa meminimalisir kerugian, karena kami tidak buru-buru menjual. Sistem ini memang menguntungkan," ujar Nur Rodi.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu