Follow Us :              

Klaster Hajatan Kabupaten Wonosobo, Ganjar Cek dan Berikan Bantuan Sembako

  08 July 2021  |   12:00:00  |   dibaca : 449 
Kategori :
Bagikan :


Klaster Hajatan Kabupaten Wonosobo, Ganjar Cek dan Berikan Bantuan Sembako

08 July 2021 | 12:00:00 | dibaca : 449
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

WONOSOBO -Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menengok Desa Kecis, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Kamis (8/7/2021). Di desa itu terdapat puluhan warganya sedang menjalani isolasi mandiri. 

Sebanyak 88 orang warga Desa Kecis, terpapar Covid-19 usai menggelar hajatan beberapa waktu lalu. Saat ini, 47 di antaranya sudah negatif dan tersisa 41 orang yang menjalani isoman di 35 rumah. 

Lha yo nek hajatan kan mesti do ora nganggo masker to? (Saat hajatan tidak memakai masker kan?) Nganggo masker? Lha nek pas mangan? (Pakai masker? Kalau sedang makan?) . Terus lungguhe cedak-cedakan (Lalu duduknya berdekatan),” ujar Ganjar saat mendengar kronologi yang diceritakan Sekdes Kecis, Eko Purwanto padanya. 

Ganjar berharap, kejadian itu menjadi pelajaran agar warga lebih berhati-hati dalam beraktivitas di tengah pandemi. Ia meminta kegiatan seperti hajatan dan sebagainya,agar ditunda dulu. 

“Segitu banyak lalu gimana ngurusnya? Jogo Tonggonya aktif? Ada yang ngontrol mereka nggak selama isoman?,” tanya Ganjar. 

“Ada bidan desa Pak, Jogo Tonggo aktif. Kita juga bagikan sembako. Kita masak juga untuk mereka Pak,” jawab Eko. 

Guna memudahkan warga yang isoman berkomunikasi dan menyampaikan kebutuhannya, Ganjar menyarankan koordinator Jogo Tonggo serta bidan membuat grup WhatsApp bersama mereka. 

“Karena ada cerita, dia hari ini terpapar, lalu isoman, kemudian dia panik, tetapi tidak ada yang (bisa) dihubungi, kemudian meninggal. Jangan sampai ini terjadi. Ambulans standby, di sini juga (begitu) nggak?,” tanya Ganjar. 

Standby Pak, ada mobil puskesmas,” jawab Eko mantap 

Sebagai bentuk kepedulian, Ganjar memberikan bantuan  sembako seraya menyampaikan harapan agar warga yang menjalani isolasi mandiri itu segera sembuh dan dapat beraktifitas kembali. 

“Tapi ingat prokesnya selalu dijaga ya,” tegasnya lagi. 

Bukan hanya di Desa Kecis, lonjakan kasus Covid-19 juga terjadi di desa-desa lain di Kabupaten Wonosobo yang membuat BOR rumah sakit mencapai 80 persen. 

Peningkatan kasus yang terjadi secara eksponensial di Kabupaten Wonsobo, membuat pemerintah setempat mengambil langkah cepat. Apalagi, Kabupaten Banjarnegara yang berbatasan dengan wilayah ini juga sedang mengalami peningkatan kasus. 

“Seperti yang diinstruksikan oleh Gubernur melalui Sekda Provinsi, kita terus berupaya meningkatkan jumlah tempat tidur yang ada di setiap rumah sakit, terutama di swasta,” ucap Kadinkes Wonosobo, dr Mohamad Riyatno. 

Meski berharap tidak sampai terjadi outbreak, Riyatno melanjutkan, pihaknya telah melakukan antisipasi dengan mempersiapkan 5 tempat isolasi terpusat. Selain gedung Balai Latihan Kerja, eks kantor kelurahan Wonosobo Timur, eks gedung peternakan-pertanian serta gedung sanggar budaya yang dikelola Didsikpora setempat, pihaknya juga akan mengaktifkan lagi Gedung Bapelkes milik Provinsi. Pada tahun 2020, gedung Bapelkes ini sudah pernah digunakan sebagai tempat isolasi terpusat. 

“Kalau 5 gedung karantina itu bisa kita maksimalkan insyaallah kita bisa menampung sekitar 250-270,” ujarnya.


Bagikan :

WONOSOBO -Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menengok Desa Kecis, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Kamis (8/7/2021). Di desa itu terdapat puluhan warganya sedang menjalani isolasi mandiri. 

Sebanyak 88 orang warga Desa Kecis, terpapar Covid-19 usai menggelar hajatan beberapa waktu lalu. Saat ini, 47 di antaranya sudah negatif dan tersisa 41 orang yang menjalani isoman di 35 rumah. 

Lha yo nek hajatan kan mesti do ora nganggo masker to? (Saat hajatan tidak memakai masker kan?) Nganggo masker? Lha nek pas mangan? (Pakai masker? Kalau sedang makan?) . Terus lungguhe cedak-cedakan (Lalu duduknya berdekatan),” ujar Ganjar saat mendengar kronologi yang diceritakan Sekdes Kecis, Eko Purwanto padanya. 

Ganjar berharap, kejadian itu menjadi pelajaran agar warga lebih berhati-hati dalam beraktivitas di tengah pandemi. Ia meminta kegiatan seperti hajatan dan sebagainya,agar ditunda dulu. 

“Segitu banyak lalu gimana ngurusnya? Jogo Tonggonya aktif? Ada yang ngontrol mereka nggak selama isoman?,” tanya Ganjar. 

“Ada bidan desa Pak, Jogo Tonggo aktif. Kita juga bagikan sembako. Kita masak juga untuk mereka Pak,” jawab Eko. 

Guna memudahkan warga yang isoman berkomunikasi dan menyampaikan kebutuhannya, Ganjar menyarankan koordinator Jogo Tonggo serta bidan membuat grup WhatsApp bersama mereka. 

“Karena ada cerita, dia hari ini terpapar, lalu isoman, kemudian dia panik, tetapi tidak ada yang (bisa) dihubungi, kemudian meninggal. Jangan sampai ini terjadi. Ambulans standby, di sini juga (begitu) nggak?,” tanya Ganjar. 

Standby Pak, ada mobil puskesmas,” jawab Eko mantap 

Sebagai bentuk kepedulian, Ganjar memberikan bantuan  sembako seraya menyampaikan harapan agar warga yang menjalani isolasi mandiri itu segera sembuh dan dapat beraktifitas kembali. 

“Tapi ingat prokesnya selalu dijaga ya,” tegasnya lagi. 

Bukan hanya di Desa Kecis, lonjakan kasus Covid-19 juga terjadi di desa-desa lain di Kabupaten Wonosobo yang membuat BOR rumah sakit mencapai 80 persen. 

Peningkatan kasus yang terjadi secara eksponensial di Kabupaten Wonsobo, membuat pemerintah setempat mengambil langkah cepat. Apalagi, Kabupaten Banjarnegara yang berbatasan dengan wilayah ini juga sedang mengalami peningkatan kasus. 

“Seperti yang diinstruksikan oleh Gubernur melalui Sekda Provinsi, kita terus berupaya meningkatkan jumlah tempat tidur yang ada di setiap rumah sakit, terutama di swasta,” ucap Kadinkes Wonosobo, dr Mohamad Riyatno. 

Meski berharap tidak sampai terjadi outbreak, Riyatno melanjutkan, pihaknya telah melakukan antisipasi dengan mempersiapkan 5 tempat isolasi terpusat. Selain gedung Balai Latihan Kerja, eks kantor kelurahan Wonosobo Timur, eks gedung peternakan-pertanian serta gedung sanggar budaya yang dikelola Didsikpora setempat, pihaknya juga akan mengaktifkan lagi Gedung Bapelkes milik Provinsi. Pada tahun 2020, gedung Bapelkes ini sudah pernah digunakan sebagai tempat isolasi terpusat. 

“Kalau 5 gedung karantina itu bisa kita maksimalkan insyaallah kita bisa menampung sekitar 250-270,” ujarnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu