Follow Us :              

Didatangi Wagub, Peternak Hewan di Ungaran Keluhkan Penjualan Turun Selama Pandemi

  14 July 2021  |   11:00:00  |   dibaca : 469 
Kategori :
Bagikan :


Didatangi Wagub, Peternak Hewan di Ungaran Keluhkan Penjualan Turun Selama Pandemi

14 July 2021 | 11:00:00 | dibaca : 469
Kategori :
Bagikan :

Foto : Simon (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Simon (Humas Jateng)

KAB. SEMARANG -Seorang peternak hewan kurban di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, bernama Sutrisna "curhat" ke Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen tentang lesunya penjualan hewan kurban tahun ini. Ia mengatakan, keengganan para panitia Idul Adha untuk menyelenggarakan kurban karena kuatir menimbulkan kerumunan. 

Sutrisna mengatakan, usaha yang sudah dirintis sejak tahun 2008 lalu itu, memang menurun pada awal pandemi Covid-19. Saat kondisi mulai stabil ia memutuskan membeli bibit sapi untuk persiapan Idul Adha 1442 H. Di luar dugaan, lonjakan kasus Covid-19 membuat penjualan hewan kurban menurun lagi. Terlebih, permintaan ke RPH-RPH di sekitar Ungaran juga sudah terlalu banyak. 

"Selama pandemi (tahun) kemarin turun, tapi tidak separah ini. (Tahun) kemarin masih 70 persenan. Nah yang ini kan karena kemarin sudah sempat landai, setelah beli bibit ternak ternyata Covid-nya terus naik dan ini puncak-puncaknya. Sebenarnya ada yang mau beli buat kurban, tetapi panitia kurbannya tidak berani menyelenggarakan," ujar Sutrisna kepada Taj Yasin saat mengunjungi peternakannya, Rabu (14/7/2021). 

Taj Yasin yang ditemui usai berkeliling peternakan mengatakan, salah satu tujuannya berkeliling mengecek RPH dan peternakan adalah untuk mengetahui kondisi di lapangan. Khususnya terkait persiapan menjelang Idul Adha 1442 H  yang  jatuh pada tanggal 20 Juli 2021 mendatang. 

Sementara itu, menanggapi keluhan peternak mengenai turunnya penjualan hewan kurban pada Idul Adha tahun ini, Taj Yasin tidak menyangkal bahwa ada over antrean permintaan di RPH. Ia menjelaskan, hal ini terjadi karena masyarakat telah sadar menjaga protokol kesehatan. Salah  satunya dengan tetap berkurban tanpa menimbulkan kerumunan melalui RPH. 

"Sebenarnya bukan dari sektor ekonomi saja, penurunan kurban tahun ini karena memang masyarakat menghindari betul kerumunan. RPH ini antrenya sudah over, sehingga memang kita dorong penguraian, supaya bisa ditampung tetapi tidak ada kerumunan" katanya.


Bagikan :

KAB. SEMARANG -Seorang peternak hewan kurban di Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, bernama Sutrisna "curhat" ke Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen tentang lesunya penjualan hewan kurban tahun ini. Ia mengatakan, keengganan para panitia Idul Adha untuk menyelenggarakan kurban karena kuatir menimbulkan kerumunan. 

Sutrisna mengatakan, usaha yang sudah dirintis sejak tahun 2008 lalu itu, memang menurun pada awal pandemi Covid-19. Saat kondisi mulai stabil ia memutuskan membeli bibit sapi untuk persiapan Idul Adha 1442 H. Di luar dugaan, lonjakan kasus Covid-19 membuat penjualan hewan kurban menurun lagi. Terlebih, permintaan ke RPH-RPH di sekitar Ungaran juga sudah terlalu banyak. 

"Selama pandemi (tahun) kemarin turun, tapi tidak separah ini. (Tahun) kemarin masih 70 persenan. Nah yang ini kan karena kemarin sudah sempat landai, setelah beli bibit ternak ternyata Covid-nya terus naik dan ini puncak-puncaknya. Sebenarnya ada yang mau beli buat kurban, tetapi panitia kurbannya tidak berani menyelenggarakan," ujar Sutrisna kepada Taj Yasin saat mengunjungi peternakannya, Rabu (14/7/2021). 

Taj Yasin yang ditemui usai berkeliling peternakan mengatakan, salah satu tujuannya berkeliling mengecek RPH dan peternakan adalah untuk mengetahui kondisi di lapangan. Khususnya terkait persiapan menjelang Idul Adha 1442 H  yang  jatuh pada tanggal 20 Juli 2021 mendatang. 

Sementara itu, menanggapi keluhan peternak mengenai turunnya penjualan hewan kurban pada Idul Adha tahun ini, Taj Yasin tidak menyangkal bahwa ada over antrean permintaan di RPH. Ia menjelaskan, hal ini terjadi karena masyarakat telah sadar menjaga protokol kesehatan. Salah  satunya dengan tetap berkurban tanpa menimbulkan kerumunan melalui RPH. 

"Sebenarnya bukan dari sektor ekonomi saja, penurunan kurban tahun ini karena memang masyarakat menghindari betul kerumunan. RPH ini antrenya sudah over, sehingga memang kita dorong penguraian, supaya bisa ditampung tetapi tidak ada kerumunan" katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu