Follow Us :              

Cegah Penyebaran Hoaks, Ganjar Ingatkan Pentingnya Budaya Saring Sebelum Sharing

  28 August 2021  |   14:00:00  |   dibaca : 385 
Kategori :
Bagikan :


Cegah Penyebaran Hoaks, Ganjar Ingatkan Pentingnya Budaya Saring Sebelum Sharing

28 August 2021 | 14:00:00 | dibaca : 385
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak para netizen melakukan saring sebelum sharing (berbagi) saat mendapat informasi. Langkah ini perlu dilakukan dalam rangka mencegah penyebaran hoaks makin merajalela. 

Hal itu disampaikan Ganjar saat menjadi narasumber acara Gerakan Literasi Digital 2021 Indonesia #MakinCakapDigital secara virtual, Sabtu (28/8/2021). Beberapa tips diberikan Ganjar kepada masyarakat agar terhindar dari hoaks. 

"Teliti informasi, perbanyak literasi, produksi konten positif dan jika menerima hoaks, cukup berhenti pada kita. Stop (berhenti) disitu jangan diterusin," kata Ganjar. 

Menurut Ganjar, sebagai bagian dari literasi digital, cara Saring-Sharing ini mencegah terjadinya penyebaran hoaks, tindakan ini juga menghindarkan diri dari jeratan UU ITE. Undang-undang ini yang mengatur jalannya bermedia di Indonesia. 

Ganjar menambahkan, langkah pencegahan penyebaran hoaks menjadi lebih efektif jika diiringi dengan memasifkan gerakan penyebaran konten-konten positif di berbagai media.

"Maka kalau ada yang ikut follow IG saya, terus kemudian jadi subscibe youtube saya, itu kita coba. Saya coba untuk memberikan hal baru yang menyenangkan, lucu dan edukatif. Sehingga menggunakan medsos menjadi manfaat bukan cari musuh, nggak bikin orang marah, nggak bikin orang baper, tidak mem-bully dan baik hati," ujarnya. 

Meski begitu, Ganjar mengaku dirinya juga pernah menjadi target sasaran hoaks. Misalnya ketika pernyataannya untuk sekolah yang libur selama dua minggu diubah oleh oknum tak bertanggung jawab. 

"Saya punya dan pernah di-hoaks. umpama contoh Kominfo Jateng. Saya penah meliburkan sekolah dua minggu, ditulisnya itu yang libur pabriknya. Geger nggak sih para buruh? Geger semuanya. Bahkan saya bilang ketika kemudian kita mesti di rumah saja, yang ada adalah gowes saja karena saya suka gowes. Wah saya dibully ramai-ramai. 'ini gubernur nggak jelas, di tengah pandemi malah ngajarin nggak bener' karena hoaks. bahaya ya," ujar Ganjar. 

Untuk menangkal hoaks, partisipasi masyarakat untuk melaporkan juga sangat penting. Karena itu Ganjar juga membuat platform yang melibatkan masyarakat sebagai siber hoaks, lewat situs Laporgub. Beberapa komunitas atau lembaga juga membuat platform antihoaks lainnya seperti Mafindo, Aduan Konten, Patroli Siber hingga Misslambehoaks. 

"Maka peringatannya adalah mari kita saring dulu sebelum sharing (berbagi informasi), agar kemudian kita bisa membikin semuanya senang dan medsos ini menjadi bermanfaat," tandasnya.


Bagikan :

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengajak para netizen melakukan saring sebelum sharing (berbagi) saat mendapat informasi. Langkah ini perlu dilakukan dalam rangka mencegah penyebaran hoaks makin merajalela. 

Hal itu disampaikan Ganjar saat menjadi narasumber acara Gerakan Literasi Digital 2021 Indonesia #MakinCakapDigital secara virtual, Sabtu (28/8/2021). Beberapa tips diberikan Ganjar kepada masyarakat agar terhindar dari hoaks. 

"Teliti informasi, perbanyak literasi, produksi konten positif dan jika menerima hoaks, cukup berhenti pada kita. Stop (berhenti) disitu jangan diterusin," kata Ganjar. 

Menurut Ganjar, sebagai bagian dari literasi digital, cara Saring-Sharing ini mencegah terjadinya penyebaran hoaks, tindakan ini juga menghindarkan diri dari jeratan UU ITE. Undang-undang ini yang mengatur jalannya bermedia di Indonesia. 

Ganjar menambahkan, langkah pencegahan penyebaran hoaks menjadi lebih efektif jika diiringi dengan memasifkan gerakan penyebaran konten-konten positif di berbagai media.

"Maka kalau ada yang ikut follow IG saya, terus kemudian jadi subscibe youtube saya, itu kita coba. Saya coba untuk memberikan hal baru yang menyenangkan, lucu dan edukatif. Sehingga menggunakan medsos menjadi manfaat bukan cari musuh, nggak bikin orang marah, nggak bikin orang baper, tidak mem-bully dan baik hati," ujarnya. 

Meski begitu, Ganjar mengaku dirinya juga pernah menjadi target sasaran hoaks. Misalnya ketika pernyataannya untuk sekolah yang libur selama dua minggu diubah oleh oknum tak bertanggung jawab. 

"Saya punya dan pernah di-hoaks. umpama contoh Kominfo Jateng. Saya penah meliburkan sekolah dua minggu, ditulisnya itu yang libur pabriknya. Geger nggak sih para buruh? Geger semuanya. Bahkan saya bilang ketika kemudian kita mesti di rumah saja, yang ada adalah gowes saja karena saya suka gowes. Wah saya dibully ramai-ramai. 'ini gubernur nggak jelas, di tengah pandemi malah ngajarin nggak bener' karena hoaks. bahaya ya," ujar Ganjar. 

Untuk menangkal hoaks, partisipasi masyarakat untuk melaporkan juga sangat penting. Karena itu Ganjar juga membuat platform yang melibatkan masyarakat sebagai siber hoaks, lewat situs Laporgub. Beberapa komunitas atau lembaga juga membuat platform antihoaks lainnya seperti Mafindo, Aduan Konten, Patroli Siber hingga Misslambehoaks. 

"Maka peringatannya adalah mari kita saring dulu sebelum sharing (berbagi informasi), agar kemudian kita bisa membikin semuanya senang dan medsos ini menjadi bermanfaat," tandasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu