Follow Us :              

Ganjar : Penyandang Disabilitas Tak Butuh Dikasihani, Mereka Butuh Setara

  06 October 2021  |   17:00:00  |   dibaca : 347 
Kategori :
Bagikan :


Ganjar : Penyandang Disabilitas Tak Butuh Dikasihani, Mereka Butuh Setara

06 October 2021 | 17:00:00 | dibaca : 347
Kategori :
Bagikan :

Foto : Tim Humas (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Tim Humas (Humas Jateng)

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan di tengah pandemi ini dunia kerja dituntut makin inklusif. Sektor ini perlu membuka kesempatan yang lebih luas untuk memberikan kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Peluang ini semakin terbuka karena kondisi Work From Home (WFH) dalam rangka mengurangi penyebaran virus. 

Hal itu disampaikan Ganjar dalam sambutannya secara virtual dalam Konferensi Nasional: Sebuah Inisiatif Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan Inkusif, Rabu (6/10). 

Ganjar mengatakan, pandemi memaksa seluruh komponen mencari cara baru dalam bekerja. 

“Semua harus work from home, stay at home, maka banyak kawan-kawan yang punya talenta untuk bisa melakukan pekerjaan sendiri, bahkan berproduksi dalam komunitas kecil,” ucap Ganjar. 

Pada kondisi demikian Ganjar mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana para penyandang disabilitas justru mampu produktif. Mereka mampu memproduksi barang dengan kualitas yang baik. Hal ini menunjukkan mereka memiliki kemampuan yang layak bagi dunia kerja. 

“Termasuk kawan-kawan yang ingin bekerja di dalam lapangan kerja yang makin hari makin inklusif, sehingga keterlibatan kawan-kawan para penyandang disabilitas juga bagus,” ujarnya. 

Terkait ini, Ganjar mengaku terus mengumpulkan masukan. Para penyandang disabilitas, kata Ganjar, dapat bekerja di berbagai bidang sesuai dengan jenis disabilitasnya. 

Contohnya, lanjut Ganjar, difabel netra. Ganjar menyebut mereka ternyata memiliki potensi yang bagus yakni dalam konteks komunikasi dan daya ingat. 

“Mereka ini sebenarnya menjadi petugas di call center oke. Mereka bisa kerja kok di situ, nggak kalah sama yang lain. Menjadi penulis konten, penyiar radio, telemarketing, petugas administrasi, analis keuangan, akuntan itu mereka bisa kerjakan, dan tidak kalah dengan yang lain,” kata Ganjar. 

Contoh lainnya, bagi difabel fisik,  Ganjar mengatakan, mereka punya kelebihan secara sensorik dan terampil. Dengan pelatihan, mereka bisa ditempatkan pada pekerjaan yang tepat. 

“Kalau kemudian kita mendampingi kawan-kawan ini, memberikan ruang pekerjaan yang lebih besar, tentu mereka akan bisa terlibat,” jelas Ganjar. 

“Ini butuh teknologi dan pengetahuan bahwa mereka kerja dimanapun _oke_ sesuai dengan kondisi masing-masing. Kesetaraannya, aksesabilitasnya itu mesti diberikan,” ujar Ganjar. 

“Maka beberapa kali saya coba membuka tempat magang ke kantor Pemprov, saya ketemu dengan kawan-kawan kemarin ada dari kawan tuli mahasiswa yg magang di Jateng, ke Humas. Ternyata saya belajar lebih banyak,” imbuhnya. 

Pekerjaan rumah yang besar ini, lanjut Ganjar, harus dipahami dan diedukasi ke seluruh pihak. Terkait ini, maka pengetahuan juga harus diberikan kepada pengusaha, CEO atau pemilik usaha lainnya sehingga tidak jadi kendala. 

“Nah effort inilah yang saya kira penting untuk kita berkomunikasi dengan Apindo, Kadin, dengan asosiasi buruh, sehingga inklusifitasnya bisa berjalan,” ujarnya. 

Ganjar berharap, dari konferensi ini, pihaknya dapat menerima rekomendasi baik dari sisi regulasi, administrasi hingga politik anggaran. 

“Betapa bahagianya saya ketika saya sering berkomunikasi dengan kawan-kawan disabilitas. Satu yang membanggakan adalah mereka tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh setara, mereka hanya butuh akses yang sama, itulah tugas pemerintah untuk itu,” tandasnya.


Bagikan :

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan di tengah pandemi ini dunia kerja dituntut makin inklusif. Sektor ini perlu membuka kesempatan yang lebih luas untuk memberikan kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Peluang ini semakin terbuka karena kondisi Work From Home (WFH) dalam rangka mengurangi penyebaran virus. 

Hal itu disampaikan Ganjar dalam sambutannya secara virtual dalam Konferensi Nasional: Sebuah Inisiatif Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan Inkusif, Rabu (6/10). 

Ganjar mengatakan, pandemi memaksa seluruh komponen mencari cara baru dalam bekerja. 

“Semua harus work from home, stay at home, maka banyak kawan-kawan yang punya talenta untuk bisa melakukan pekerjaan sendiri, bahkan berproduksi dalam komunitas kecil,” ucap Ganjar. 

Pada kondisi demikian Ganjar mendengar dan menyaksikan sendiri bagaimana para penyandang disabilitas justru mampu produktif. Mereka mampu memproduksi barang dengan kualitas yang baik. Hal ini menunjukkan mereka memiliki kemampuan yang layak bagi dunia kerja. 

“Termasuk kawan-kawan yang ingin bekerja di dalam lapangan kerja yang makin hari makin inklusif, sehingga keterlibatan kawan-kawan para penyandang disabilitas juga bagus,” ujarnya. 

Terkait ini, Ganjar mengaku terus mengumpulkan masukan. Para penyandang disabilitas, kata Ganjar, dapat bekerja di berbagai bidang sesuai dengan jenis disabilitasnya. 

Contohnya, lanjut Ganjar, difabel netra. Ganjar menyebut mereka ternyata memiliki potensi yang bagus yakni dalam konteks komunikasi dan daya ingat. 

“Mereka ini sebenarnya menjadi petugas di call center oke. Mereka bisa kerja kok di situ, nggak kalah sama yang lain. Menjadi penulis konten, penyiar radio, telemarketing, petugas administrasi, analis keuangan, akuntan itu mereka bisa kerjakan, dan tidak kalah dengan yang lain,” kata Ganjar. 

Contoh lainnya, bagi difabel fisik,  Ganjar mengatakan, mereka punya kelebihan secara sensorik dan terampil. Dengan pelatihan, mereka bisa ditempatkan pada pekerjaan yang tepat. 

“Kalau kemudian kita mendampingi kawan-kawan ini, memberikan ruang pekerjaan yang lebih besar, tentu mereka akan bisa terlibat,” jelas Ganjar. 

“Ini butuh teknologi dan pengetahuan bahwa mereka kerja dimanapun _oke_ sesuai dengan kondisi masing-masing. Kesetaraannya, aksesabilitasnya itu mesti diberikan,” ujar Ganjar. 

“Maka beberapa kali saya coba membuka tempat magang ke kantor Pemprov, saya ketemu dengan kawan-kawan kemarin ada dari kawan tuli mahasiswa yg magang di Jateng, ke Humas. Ternyata saya belajar lebih banyak,” imbuhnya. 

Pekerjaan rumah yang besar ini, lanjut Ganjar, harus dipahami dan diedukasi ke seluruh pihak. Terkait ini, maka pengetahuan juga harus diberikan kepada pengusaha, CEO atau pemilik usaha lainnya sehingga tidak jadi kendala. 

“Nah effort inilah yang saya kira penting untuk kita berkomunikasi dengan Apindo, Kadin, dengan asosiasi buruh, sehingga inklusifitasnya bisa berjalan,” ujarnya. 

Ganjar berharap, dari konferensi ini, pihaknya dapat menerima rekomendasi baik dari sisi regulasi, administrasi hingga politik anggaran. 

“Betapa bahagianya saya ketika saya sering berkomunikasi dengan kawan-kawan disabilitas. Satu yang membanggakan adalah mereka tidak butuh dikasihani, mereka hanya butuh setara, mereka hanya butuh akses yang sama, itulah tugas pemerintah untuk itu,” tandasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu