Follow Us :              

Di Festival HAM, Ganjar Ingatkan Pentingnya Membuka Dialog dengan Masyarakat

  17 November 2021  |   09:00:00  |   dibaca : 184 
Kategori :
Bagikan :


Di Festival HAM, Ganjar Ingatkan Pentingnya Membuka Dialog dengan Masyarakat

17 November 2021 | 09:00:00 | dibaca : 184
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

SEMARANG - Cerita aktifnya keterlibatan penyandang disabilitas dan kelompok perempuan mengawali sambutan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Festival HAM 2021, Rabu (17/11). Ganjar berharap praktik baik itu terus dilakukan dan semuanya saling belajar dan memperbaiki. 

Dalam acara tersebut, seluruh Bupati dan Wali Kota se Indonesia diundang. Acara dibuat secara hybrid baik daring maupun luring. Menko Polhukam Mahfud MD pun hadir secara luring dan meresmikan acara. Di lokasi hadir Ketua Komnas HAM, Ketua Dewan Pengurus Infid dan sejumlah perwakilan NGO internasional. 

Ganjar mengawali sambutannya dengan bercerita saat dirinya dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mendapat kritik keras dari penyandang disabilitas soal tata kota yang tak ramah bagi difabel. 

“Kritiknya menarik karena divideokan dan para netizen kemudian berkomentar dan respon pak Hendi sehari setelah itu langsung dibuka. Nggak tahu dalam perspektif HAM ini penting atau tidak, buat saya iya,” katanya. 

Cerita selanjutnya yang disampaikan Ganjar adalah pengalaman saat menghadapi pandemi Covid-19. Ganjar sempat terharu ketika kelompok perempuan datang dan menyampaikan secara nyata kondisinya. 

“Yang luarbiasa dari kelompok perempuan adalah mereka bisa switching (beralih) dengan cepat. Yang jualan kue buat masker,” kata Ganjar. 

Di antara perempuan hebat itu memperjuangkan hak mereka, lanjut Ganjar, adalah Kelompok Wadon Wadas. Mereka merupakan kelompok perempuan dari Desa Wadas, yang berada di kawasan pembangunan Bendungan Bener, Purworejo. Ganjar mengapresiasi inisiatif mereka menemui Ganjar untuk mendiskusikan kondisi mereka. 

“Dan saya terima dengan senang hati. Kami mau fasilitasi, kami mau duduk kok, kami mau ngobrol. Mari kita buka datanya dengan baik agar kemudian tidak ada anasir-anasir negatif, bahwa (jika) tidak sepakat tidak apa-apa karena pengadilan bisa dipakai untuk menyelesaikan
Cuma dialog menurut saya lebih baik,” katanya. 

Diantara konflik terkait HAM yang pernah terjadi di daerahnya, Ganjar menceritakan konflik keagamaan yang terjadi di Semarang dan Jepara terkait sengketa pembangunan rumah ibadah Gereja yang akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Ganjar berharap even Festival HAM bisa mengangkat contoh-contoh baik seperti ini. 

“Kalau praktek baik ini bisa kita teruskan, menurut saya festival lebih berarti. Capeknya panitia tidak sia-sia. Dari festival ini perlulah kiranya kita saling belajar, sharing. Tidak ada yang sempurna tapi memperbaiki situasi keadaan dengan metode dan pengalaman baru penting. Ikhtiar ini saya sampaikan, saya ceritakan, agar festival ini lebih bermakna dan penghormatan terhadap HAM  (jadi) jauh lebih baik,” tandas Ganjar. 

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam acara itu mengaku sepakat dengan yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah. Menurutnya, dalam menerapkan HAM yang dibutuhkan adalah sikap saling menghormati. 

“Problemnya cuma satu kalau kita pakai filosofinya HAM, mau nggak kita saling menghirmati perbedaan. Capek kita baca buku tebal-tebal tentang hak asasi manusia sebetulnya satu kata yang paling pokok adalah menghormati manusia lain, karena sama-sama ciptaan Tuhan yang maha kuasa,” tandasnya.


Bagikan :

SEMARANG - Cerita aktifnya keterlibatan penyandang disabilitas dan kelompok perempuan mengawali sambutan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Festival HAM 2021, Rabu (17/11). Ganjar berharap praktik baik itu terus dilakukan dan semuanya saling belajar dan memperbaiki. 

Dalam acara tersebut, seluruh Bupati dan Wali Kota se Indonesia diundang. Acara dibuat secara hybrid baik daring maupun luring. Menko Polhukam Mahfud MD pun hadir secara luring dan meresmikan acara. Di lokasi hadir Ketua Komnas HAM, Ketua Dewan Pengurus Infid dan sejumlah perwakilan NGO internasional. 

Ganjar mengawali sambutannya dengan bercerita saat dirinya dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mendapat kritik keras dari penyandang disabilitas soal tata kota yang tak ramah bagi difabel. 

“Kritiknya menarik karena divideokan dan para netizen kemudian berkomentar dan respon pak Hendi sehari setelah itu langsung dibuka. Nggak tahu dalam perspektif HAM ini penting atau tidak, buat saya iya,” katanya. 

Cerita selanjutnya yang disampaikan Ganjar adalah pengalaman saat menghadapi pandemi Covid-19. Ganjar sempat terharu ketika kelompok perempuan datang dan menyampaikan secara nyata kondisinya. 

“Yang luarbiasa dari kelompok perempuan adalah mereka bisa switching (beralih) dengan cepat. Yang jualan kue buat masker,” kata Ganjar. 

Di antara perempuan hebat itu memperjuangkan hak mereka, lanjut Ganjar, adalah Kelompok Wadon Wadas. Mereka merupakan kelompok perempuan dari Desa Wadas, yang berada di kawasan pembangunan Bendungan Bener, Purworejo. Ganjar mengapresiasi inisiatif mereka menemui Ganjar untuk mendiskusikan kondisi mereka. 

“Dan saya terima dengan senang hati. Kami mau fasilitasi, kami mau duduk kok, kami mau ngobrol. Mari kita buka datanya dengan baik agar kemudian tidak ada anasir-anasir negatif, bahwa (jika) tidak sepakat tidak apa-apa karena pengadilan bisa dipakai untuk menyelesaikan
Cuma dialog menurut saya lebih baik,” katanya. 

Diantara konflik terkait HAM yang pernah terjadi di daerahnya, Ganjar menceritakan konflik keagamaan yang terjadi di Semarang dan Jepara terkait sengketa pembangunan rumah ibadah Gereja yang akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Ganjar berharap even Festival HAM bisa mengangkat contoh-contoh baik seperti ini. 

“Kalau praktek baik ini bisa kita teruskan, menurut saya festival lebih berarti. Capeknya panitia tidak sia-sia. Dari festival ini perlulah kiranya kita saling belajar, sharing. Tidak ada yang sempurna tapi memperbaiki situasi keadaan dengan metode dan pengalaman baru penting. Ikhtiar ini saya sampaikan, saya ceritakan, agar festival ini lebih bermakna dan penghormatan terhadap HAM  (jadi) jauh lebih baik,” tandas Ganjar. 

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dalam acara itu mengaku sepakat dengan yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah. Menurutnya, dalam menerapkan HAM yang dibutuhkan adalah sikap saling menghormati. 

“Problemnya cuma satu kalau kita pakai filosofinya HAM, mau nggak kita saling menghirmati perbedaan. Capek kita baca buku tebal-tebal tentang hak asasi manusia sebetulnya satu kata yang paling pokok adalah menghormati manusia lain, karena sama-sama ciptaan Tuhan yang maha kuasa,” tandasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu