Follow Us :              

Belajar Smart City, Wawakot Bontang Temui Ganjar

  30 November 2021  |   17:00:00  |   dibaca : 262 
Kategori :
Bagikan :


Belajar Smart City, Wawakot Bontang Temui Ganjar

30 November 2021 | 17:00:00 | dibaca : 262
Kategori :
Bagikan :

Foto : Vivi (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Vivi (Humas Jateng)

SEMARANG - Tertarik dengan konsep smart city yang telah diberlakukan di berberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah, pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, berkunjung ke Kota Semarang. Mereka ingin melihat dan belajar bagaimana konsep ini diterapkan. 

Selain datang ke Kota Semarang, rombongan dipimpin Wakil Wali Kota (Wawakot) Bontang, Najirah juga mampir ke Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menemui Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Saat audiensi, Wawakot Bontang dan rombongan menggali banyak hal terkait penerapan smart city. 

"Jadi kami ini ingin belajar tentang smart city di Jawa Tengah. Kami datang ke Kota Semarang karena kota ini sudah menerapkan smart city," ucapnya. 

Wawakot Bontang mengatakan, salah satu visi misinya dalam membangun Bontang adalah dengan menjadikan kota tersebut sebagai smart city. Lewat studi banding ini ia optimis hal itu akan bisa terwujud. 

Mendukung gagasan tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, menjadikan smart city itu bukan hal yang sulit. Smart city bisa terwujud sejauh sumber daya pendukung sistem tersebut sudah dipersiapkan dengan matang, terutama sumber daya manusianya (SDM). 

"Kalau sistemnya sudah jadi, itu mudah. Yang sulit adalah membiasakan SDM nya karena itu pasti ada perubahan besar," katanya. 

Untuk itu Gubernur berpesan pada Wawakot Bontang untuk menyiapkan SDM di lingkungan Pemkot mereka. Hal sederhana yang bisa langsung dimulai adalah mengajarkan mereka untuk selalu melayani masyarakat dengan mudah. 

"Coba dimulai dulu untuk persiapan SDM. Yang paling mudah adalah menangkap laporan masyarakat. Kalau ASN (Aparatur Sipil Negara) di Pemkot Bontang sudah terbiasa dengan aduan dan laporan masyarakat, mereka sudah mau merespon. Itu modal dasar. Kalau sistem smart city sudah dibuat, pasti bisa," terangnya. 

Di Jawa Tengah sendiri, lanjut Gubernur, upaya itu awalnya juga tidak mudah. Namun berkat upaya yang terus menerus, pelan namun pasti, perubahan terus terjadi menjadi semakin baik seperti saat ini. 

"Untuk pemerintahan yang baik kami punya sistem GRMS, itu mulai e-planning, e-budgeting, e-delivery bisa dikelola secara digital. Kami juga punya banyak kanal untuk pengaduan masyarakat, misalnya Laporgub dan kanal aduan lain," jelasnya. 

Gubernur juga menyarankan Pemkot Bontang mendorong semua pemangku kepentingan untuk menggunakan media sosial. Sebab, medsos itu bisa menjadi alat yang mudah untuk memberikan pelayanan pada masyarakat dan merespon persoalan mereka. 

"Medsos itu bagus, kita bisa cepat kerjanya. Bayangkan kalau saya dengan penduduk 35 juta. Kalau menemui mereka satu persatu pasti sulit. Tapi dengan medsos, jangkauannya bisa lebih besar," pungkasnya.


Bagikan :

SEMARANG - Tertarik dengan konsep smart city yang telah diberlakukan di berberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah, pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, berkunjung ke Kota Semarang. Mereka ingin melihat dan belajar bagaimana konsep ini diterapkan. 

Selain datang ke Kota Semarang, rombongan dipimpin Wakil Wali Kota (Wawakot) Bontang, Najirah juga mampir ke Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk menemui Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Saat audiensi, Wawakot Bontang dan rombongan menggali banyak hal terkait penerapan smart city. 

"Jadi kami ini ingin belajar tentang smart city di Jawa Tengah. Kami datang ke Kota Semarang karena kota ini sudah menerapkan smart city," ucapnya. 

Wawakot Bontang mengatakan, salah satu visi misinya dalam membangun Bontang adalah dengan menjadikan kota tersebut sebagai smart city. Lewat studi banding ini ia optimis hal itu akan bisa terwujud. 

Mendukung gagasan tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, menjadikan smart city itu bukan hal yang sulit. Smart city bisa terwujud sejauh sumber daya pendukung sistem tersebut sudah dipersiapkan dengan matang, terutama sumber daya manusianya (SDM). 

"Kalau sistemnya sudah jadi, itu mudah. Yang sulit adalah membiasakan SDM nya karena itu pasti ada perubahan besar," katanya. 

Untuk itu Gubernur berpesan pada Wawakot Bontang untuk menyiapkan SDM di lingkungan Pemkot mereka. Hal sederhana yang bisa langsung dimulai adalah mengajarkan mereka untuk selalu melayani masyarakat dengan mudah. 

"Coba dimulai dulu untuk persiapan SDM. Yang paling mudah adalah menangkap laporan masyarakat. Kalau ASN (Aparatur Sipil Negara) di Pemkot Bontang sudah terbiasa dengan aduan dan laporan masyarakat, mereka sudah mau merespon. Itu modal dasar. Kalau sistem smart city sudah dibuat, pasti bisa," terangnya. 

Di Jawa Tengah sendiri, lanjut Gubernur, upaya itu awalnya juga tidak mudah. Namun berkat upaya yang terus menerus, pelan namun pasti, perubahan terus terjadi menjadi semakin baik seperti saat ini. 

"Untuk pemerintahan yang baik kami punya sistem GRMS, itu mulai e-planning, e-budgeting, e-delivery bisa dikelola secara digital. Kami juga punya banyak kanal untuk pengaduan masyarakat, misalnya Laporgub dan kanal aduan lain," jelasnya. 

Gubernur juga menyarankan Pemkot Bontang mendorong semua pemangku kepentingan untuk menggunakan media sosial. Sebab, medsos itu bisa menjadi alat yang mudah untuk memberikan pelayanan pada masyarakat dan merespon persoalan mereka. 

"Medsos itu bagus, kita bisa cepat kerjanya. Bayangkan kalau saya dengan penduduk 35 juta. Kalau menemui mereka satu persatu pasti sulit. Tapi dengan medsos, jangkauannya bisa lebih besar," pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu