Follow Us :              

Datang ke IKN, Gubernur Jateng Bawa Tanah dan Air dari Pusat Bumi Jawa

  13 March 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 436 
Kategori :
Bagikan :


Datang ke IKN, Gubernur Jateng Bawa Tanah dan Air dari Pusat Bumi Jawa

13 March 2022 | 10:00:00 | dibaca : 436
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

KALIMANTAN - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo datang ke lokasi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur. Bersama 33 kepala daerah lainnya dari seluruh Indonesia, sesuai arahan presiden, mereka membawa air dan tanah dari daerah masing-masing. Air dan tanah yang mereka bawa kemudian disatukan dalam sebuah Kendi Nusantara. 

"Air dan tanah yang diminta presiden sudah saya bawa. Dari mana air dan tanah itu saya ambil, ya rahasia," candanya saat ditanya awak media begitu tiba di Balikpapan, Minggu (13/3). Hari itu selain Gubernur Jawa Tengah bersama sejumlah kepala daerah lainnya juga sudah tiba. 

Meski merahasiakan lokasi pengambilan air dan tanah yang dibawanya, Gubernur Jawa Tengah menerangkan bahwa dua benda itu diambil dari sejumlah gunung yang diyakini menjadi pusat bumi. Lokasi pengambilan air dan tanah itu juga dikonsultasikan pada para sesepuh Jawa. 

"Jawa Tengah itu ada beberapa lokasi yang dikenal sebagai puser bumi. Pusatnya bumi itu ada di Jawa Tengah. Lokasi yang jadi pusat kebudayaan, ada (bukti) peninggalan leluhur dan lainnya. Orang tua kan lebih paham, makanya kemudian tanah dan air dari lokasi itulah yang saya bawa," terangnya. 

Turut dijelaskan,  permintaan Presiden kepada para gubernur untuk membawa tanah dan air ke IKN, sesungguhnya penuh makna. Penggabungan tanah dan air dari masing-masing daerah merupakan simbol persatuan dan kesatuan. 

"Intinya ada dua hal, pertama secara simbolik, ini tanah air. Ada tanah dan air. Saya yakin betul karena pak Jokowi banyak filosofi, maka ia meminta berkumpullah seluruh gubernur membawa tanah air. Ada persatuan, ada kontribusi secara visual," jelasnya. 

Selain itu, ini bentuk kontribusi dari seluruh daerah di Indonesia. Bahwa IKN itu bukan hanya proyek orang perorangan, pejabat atau mereka yang ada di pusat pemerintahan. Namun prosesi simbolik ini juga menjadi lambang bahwa IKN adalah proyek bersama seluruh anak bangsa dari 34 provinsi. 

"Ini dukungan kolektif yang ditunjukkan seluruh daerah di Indonesia. Hari ini, 33 gubernur datang, membawa pesan kebersamaan untuk membangun IKN. Mudah-mudahan ini menjadi spirit (semangat) Keindonesiaan kita," ucapnya. 

Gubernur juga mengatakan prosesi sombolik ini merupakan bagian dari kultural bangsa Indonesia yang tidak bisa dilepaskan. 

"Ini kultural, semua daerah pasti punya sendiri-sendiri. Ada nilai-nilai luhur yang bisa dilakukan. Kita boleh bicara modern, kekinian dengan referensi buku-buku baru. Tapi kita mesti punya kepribadian dalam kebudayaan," tegasnya. 

Gubernur mengambil contoh negara maju seperti Jepang juga melakukannya. Terbukti jika ada pembangunan apapun pasti ada ritual dan upacara seperti di Indonesia. 

"Kalau orang Jawa mau buat rumah, di atasnya ada pisang, beras, bendera merah putih. Itu tradisi. Di Jepang juga sama, mau buat bendungan, buat gedung itu ada ritual dan upacaranya. Jadi tidak usah mikir soal apakah ini klenik atau tidak, ini soal kultural dalam bingkai persatuan," pungkasnya.


Bagikan :

KALIMANTAN - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo datang ke lokasi pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur. Bersama 33 kepala daerah lainnya dari seluruh Indonesia, sesuai arahan presiden, mereka membawa air dan tanah dari daerah masing-masing. Air dan tanah yang mereka bawa kemudian disatukan dalam sebuah Kendi Nusantara. 

"Air dan tanah yang diminta presiden sudah saya bawa. Dari mana air dan tanah itu saya ambil, ya rahasia," candanya saat ditanya awak media begitu tiba di Balikpapan, Minggu (13/3). Hari itu selain Gubernur Jawa Tengah bersama sejumlah kepala daerah lainnya juga sudah tiba. 

Meski merahasiakan lokasi pengambilan air dan tanah yang dibawanya, Gubernur Jawa Tengah menerangkan bahwa dua benda itu diambil dari sejumlah gunung yang diyakini menjadi pusat bumi. Lokasi pengambilan air dan tanah itu juga dikonsultasikan pada para sesepuh Jawa. 

"Jawa Tengah itu ada beberapa lokasi yang dikenal sebagai puser bumi. Pusatnya bumi itu ada di Jawa Tengah. Lokasi yang jadi pusat kebudayaan, ada (bukti) peninggalan leluhur dan lainnya. Orang tua kan lebih paham, makanya kemudian tanah dan air dari lokasi itulah yang saya bawa," terangnya. 

Turut dijelaskan,  permintaan Presiden kepada para gubernur untuk membawa tanah dan air ke IKN, sesungguhnya penuh makna. Penggabungan tanah dan air dari masing-masing daerah merupakan simbol persatuan dan kesatuan. 

"Intinya ada dua hal, pertama secara simbolik, ini tanah air. Ada tanah dan air. Saya yakin betul karena pak Jokowi banyak filosofi, maka ia meminta berkumpullah seluruh gubernur membawa tanah air. Ada persatuan, ada kontribusi secara visual," jelasnya. 

Selain itu, ini bentuk kontribusi dari seluruh daerah di Indonesia. Bahwa IKN itu bukan hanya proyek orang perorangan, pejabat atau mereka yang ada di pusat pemerintahan. Namun prosesi simbolik ini juga menjadi lambang bahwa IKN adalah proyek bersama seluruh anak bangsa dari 34 provinsi. 

"Ini dukungan kolektif yang ditunjukkan seluruh daerah di Indonesia. Hari ini, 33 gubernur datang, membawa pesan kebersamaan untuk membangun IKN. Mudah-mudahan ini menjadi spirit (semangat) Keindonesiaan kita," ucapnya. 

Gubernur juga mengatakan prosesi sombolik ini merupakan bagian dari kultural bangsa Indonesia yang tidak bisa dilepaskan. 

"Ini kultural, semua daerah pasti punya sendiri-sendiri. Ada nilai-nilai luhur yang bisa dilakukan. Kita boleh bicara modern, kekinian dengan referensi buku-buku baru. Tapi kita mesti punya kepribadian dalam kebudayaan," tegasnya. 

Gubernur mengambil contoh negara maju seperti Jepang juga melakukannya. Terbukti jika ada pembangunan apapun pasti ada ritual dan upacara seperti di Indonesia. 

"Kalau orang Jawa mau buat rumah, di atasnya ada pisang, beras, bendera merah putih. Itu tradisi. Di Jepang juga sama, mau buat bendungan, buat gedung itu ada ritual dan upacaranya. Jadi tidak usah mikir soal apakah ini klenik atau tidak, ini soal kultural dalam bingkai persatuan," pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu