Follow Us :              

Tanggapi Maraknya Pernikahan Anak dan Tingginya Kebutuhan Kerja bagi Difabel, Ganjar Minta Dinas Terkait Beri Pelatihan Ketrampilan

  25 April 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 336 
Kategori :
Bagikan :


Tanggapi Maraknya Pernikahan Anak dan Tingginya Kebutuhan Kerja bagi Difabel, Ganjar Minta Dinas Terkait Beri Pelatihan Ketrampilan

25 April 2022 | 10:00:00 | dibaca : 336
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

BLORA - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memimpin Musrenbang di wilayah Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati) dan Banglor (Rembang, Blora) di Pendopo Kabupaten Blora, Senin (25/4). Seperti biasa, acara ini menyertakan juga perwakilan dari forum anak, perempuan dan penyandang disabilitas, untuk memberikan masukan. 

Seorang perwakilan forum anak bernama Yani, menyampaikan tentang maraknya pernikahan anak. "Di desa saya banyak teman-teman yang menikah dini. Di tahun ini, sudah ada 15 anak menikah dini. Rata-rata, usianya masih 12-15 tahun Pak," kata siswa SMAN 1 Ngawen ini. 

Yani menjelaskan, banyak diantara mereka dinikahkan karena tuntutan ekonomi keluarga. "Kalau tidak dinikahkan, jadi beban keluarga. Makanya akhirnya mereka dinikahkan ke orang yang lebih tua Pak, yang lebih mapan," ucapnya. 

Demi kebahagiaan dan masa depan anak-anak, Yani meminta agar Gubernur membantu menyelesaikan persoalan itu. 

"Kami minta diberikan pelatihan pak, editing film, pelatihan menjahit, pelatihan lain agar kita punya skill dan bisa menopang ekonomi keluarga. Kami juga minta diberikan pendidikan tentang reproduksi atau sex education di sekolah agar lebih paham," ucapnya. 

Ganjar cukup terkejut dengan laporan Yani. Ia pun langsung meminta Dinas Perempuan dan Anak untuk turun dan memberikan pelatihan pada anak-anak di desa tersebut. 

"Saya minta nomor telponmu ya, nanti biar dinas saya langsung turun. Kamu kumpulkan teman-teman kamu yang siap dilatih, nanti akan kami berikan pelatihan," kata Ganjar. 

Ganjar bangga melihat anak-anak begitu aware pada persoalan yang mereka hadapi. Mereka berani berbicara dan mengkampanyekan soal itu.
Lewat gerakan Jo Kawin Bocah, ia akan terus menggencarkan sosialisasi dan pendekatan termasuk masuk ke sekolah untuk mengajarkan tentang pendidikan reproduksi. 

"Kita akan kerjasama dengan BKKBN, Dinkes dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk masuk ke sekolah dan desa-desa untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. Termasuk tadi anak-anak minta difasilitasi pelatihan, tentu akan kami penuhi," katanya. 

Sementara itu, dari perwakilan difabel Kabupaten Blora, Sriyono, mengingatkan perlunya pendataan disabilitas di wilayahnya secara serius. 

"Jadi nanti akan ada pemilahan (data) sesuai kebutuhannya. Kalau perlu (pemakaian data) untuk data bantuan pelatihan, pendidikan, mungkin bantuan sosial yang lain," kata Sriyono. 

Sriyono menyebut, saat ini tercatat ada sekitar 6 ribu difabel. Sebagian besar dari mereka masih butuh pekerjaan. Oleh karenanya, dia berharap akan ada pelatihan kerja, misalnya pelatihan bengkel atau reparasi kaki dan tangan palsu. 

"Kami butuh pelatihan bengkel (karena) banyak difabel Blora pakai kaki palsu. Butuh bengkel. Tidak harus reperasi di Solo," harap Sriyono. 

Selain Sriyono dari Blora, terdapat pula Suprapto perwakilan difabel dari Pati dan Rismawan dari Kudus. Pada Ganjar Suprapto meminta bantua bagi sepasang difabel miskin di desanya, Minong. Sedangkan Rismawan pada kesempatan itu menyampaikan upaya Pemkab Kudus yang telah membantu modal usaha bagi sekitar 300 penyandang difabilitas di Kudus. Mereka ini telah tergabung dalam kelompok usaha bersama. 

Gubernur mengatakan, dirinya akan segera menindaklanjuti apa yang mereka sampaikan. Pihaknya siap berkoordinasi dengan perwakilan difabel daerah untuk melakukan pendataan setidaknya sepekan sejak sekarang. 

Pihaknya juga siap memberikan pelatihan ketrampilan untuk difabel Blora. "Pelatihannya di Semarang. Gratis. Dibantu Baznas. Dengan Baznas nanti dibantu Dinas Pendidikan untuk memakai SMK Jateng dan itu sudah berkali-kali," terang Ganjar. 

Terkait difabel Pati yang butuh bantuan, Ganjar segera meminta kontak yang bisa dihubungi untuk bisa mengetahui kondisi sebenarnya guna bertindak lebih lanjut. 

Pada para difabel Kudus setelah mendapat bantuan pemkab setempat, Ganjar mengapresiasi inisiatif mereka yang selalu mengunggah dokumentasi kegiatannya ke akun Youtube. 

"Para penyandang disabilitas ingin kebijakan kita (juga) memerhatikan (kebutuhan) mereka. Biasanya akses-akses seperti ini kita lupa," pungkasnya.


Bagikan :

BLORA - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memimpin Musrenbang di wilayah Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati) dan Banglor (Rembang, Blora) di Pendopo Kabupaten Blora, Senin (25/4). Seperti biasa, acara ini menyertakan juga perwakilan dari forum anak, perempuan dan penyandang disabilitas, untuk memberikan masukan. 

Seorang perwakilan forum anak bernama Yani, menyampaikan tentang maraknya pernikahan anak. "Di desa saya banyak teman-teman yang menikah dini. Di tahun ini, sudah ada 15 anak menikah dini. Rata-rata, usianya masih 12-15 tahun Pak," kata siswa SMAN 1 Ngawen ini. 

Yani menjelaskan, banyak diantara mereka dinikahkan karena tuntutan ekonomi keluarga. "Kalau tidak dinikahkan, jadi beban keluarga. Makanya akhirnya mereka dinikahkan ke orang yang lebih tua Pak, yang lebih mapan," ucapnya. 

Demi kebahagiaan dan masa depan anak-anak, Yani meminta agar Gubernur membantu menyelesaikan persoalan itu. 

"Kami minta diberikan pelatihan pak, editing film, pelatihan menjahit, pelatihan lain agar kita punya skill dan bisa menopang ekonomi keluarga. Kami juga minta diberikan pendidikan tentang reproduksi atau sex education di sekolah agar lebih paham," ucapnya. 

Ganjar cukup terkejut dengan laporan Yani. Ia pun langsung meminta Dinas Perempuan dan Anak untuk turun dan memberikan pelatihan pada anak-anak di desa tersebut. 

"Saya minta nomor telponmu ya, nanti biar dinas saya langsung turun. Kamu kumpulkan teman-teman kamu yang siap dilatih, nanti akan kami berikan pelatihan," kata Ganjar. 

Ganjar bangga melihat anak-anak begitu aware pada persoalan yang mereka hadapi. Mereka berani berbicara dan mengkampanyekan soal itu.
Lewat gerakan Jo Kawin Bocah, ia akan terus menggencarkan sosialisasi dan pendekatan termasuk masuk ke sekolah untuk mengajarkan tentang pendidikan reproduksi. 

"Kita akan kerjasama dengan BKKBN, Dinkes dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk masuk ke sekolah dan desa-desa untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. Termasuk tadi anak-anak minta difasilitasi pelatihan, tentu akan kami penuhi," katanya. 

Sementara itu, dari perwakilan difabel Kabupaten Blora, Sriyono, mengingatkan perlunya pendataan disabilitas di wilayahnya secara serius. 

"Jadi nanti akan ada pemilahan (data) sesuai kebutuhannya. Kalau perlu (pemakaian data) untuk data bantuan pelatihan, pendidikan, mungkin bantuan sosial yang lain," kata Sriyono. 

Sriyono menyebut, saat ini tercatat ada sekitar 6 ribu difabel. Sebagian besar dari mereka masih butuh pekerjaan. Oleh karenanya, dia berharap akan ada pelatihan kerja, misalnya pelatihan bengkel atau reparasi kaki dan tangan palsu. 

"Kami butuh pelatihan bengkel (karena) banyak difabel Blora pakai kaki palsu. Butuh bengkel. Tidak harus reperasi di Solo," harap Sriyono. 

Selain Sriyono dari Blora, terdapat pula Suprapto perwakilan difabel dari Pati dan Rismawan dari Kudus. Pada Ganjar Suprapto meminta bantua bagi sepasang difabel miskin di desanya, Minong. Sedangkan Rismawan pada kesempatan itu menyampaikan upaya Pemkab Kudus yang telah membantu modal usaha bagi sekitar 300 penyandang difabilitas di Kudus. Mereka ini telah tergabung dalam kelompok usaha bersama. 

Gubernur mengatakan, dirinya akan segera menindaklanjuti apa yang mereka sampaikan. Pihaknya siap berkoordinasi dengan perwakilan difabel daerah untuk melakukan pendataan setidaknya sepekan sejak sekarang. 

Pihaknya juga siap memberikan pelatihan ketrampilan untuk difabel Blora. "Pelatihannya di Semarang. Gratis. Dibantu Baznas. Dengan Baznas nanti dibantu Dinas Pendidikan untuk memakai SMK Jateng dan itu sudah berkali-kali," terang Ganjar. 

Terkait difabel Pati yang butuh bantuan, Ganjar segera meminta kontak yang bisa dihubungi untuk bisa mengetahui kondisi sebenarnya guna bertindak lebih lanjut. 

Pada para difabel Kudus setelah mendapat bantuan pemkab setempat, Ganjar mengapresiasi inisiatif mereka yang selalu mengunggah dokumentasi kegiatannya ke akun Youtube. 

"Para penyandang disabilitas ingin kebijakan kita (juga) memerhatikan (kebutuhan) mereka. Biasanya akses-akses seperti ini kita lupa," pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu