Follow Us :              

Jelajah Energi Jateng Untuk Kampanyekan Energi Baru Terbarukan

  28 June 2022  |   07:00:00  |   dibaca : 155 
Kategori :
Bagikan :


Jelajah Energi Jateng Untuk Kampanyekan Energi Baru Terbarukan

28 June 2022 | 07:00:00 | dibaca : 155
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

SEMARANG - Wakil Gubernur Jawa Tengah (Wagub Jateng), Taj Yasin Maimoen, Selasa (28/06/2022) melepas tim Jelajah Energi di Halaman Kantor Gubernur. Tim yang terdiri dari Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi bersama kabupaten/kota, akademisi, NGO, mahasiswa dan media massa akan berkeliling ke daerah-daerah yang memiliki praktik baik dalam mengelola dan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT). 

"Tentunya ini merupakan sebuah terobosan bagus yang dilakukan dalam rangka kampanye energi terbarukan dan mem-blow up (tampilkan) insan atau kelompok masyarakat yang inovatif, dalam penyediaan energi terbarukan dan ramah lingkungan," terang Taj Yasin dalam sambutannya. 

Pertumbuhan penduduk, pembangunan, dan semakin berkembangnya sektor industri, membuat kebutuhan energi semakin meningkat. Apabila tidak ada langkah tepat dalam mengelola energi, maka akan terjadi krisis. Agar krisis energi tidak terjadi, perlu upaya diversifikasi dan konservasi energi serta sumber energi baru terbarukan. 

Pemprov Jateng sudah memiliki Perda Nomor 12 tahun 2018 tentang Rencana Umum Energi Daerah. Wagub mengatakan, Perda ini bertujuan menciptakan kebijakan energi di daerah yang selaras dengan  kebutuhan daerah dan kebijakan energi nasional.
Selain itu, regulasi tersebut juga menjadi dasar untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi daerah dan nasional. Langkah ini, lanjut Wagub, sekaligus menjadi upaya Pemprov Jateng dalam meningkatkan pemanfaatan EBT. Terlebih potensi EBT sangat besar. 

Salah satu EBT yang melimpah adalah energi surya. Secara geografis, Jateng berada di daerah khatulistiwa yang letak astronomisnya pada 100 Lintang Selatan. Pada letak posisi tersebut, Jateng mendapat intensitas penyinaran matahari 3,5 kwh/m2/hari sampai 4,67 kwh/m2/hari. Dengan intensitas penyinaran itu, seluruh wilayah Jateng dapat dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). 

Selain sinar matahari, Jateng juga melimpah potensi energi air. Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air di Jateng kurang lebih 386,32 megawatt. Potensi tersebut berada di Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Kendal, Kebumen, Wonosobo, Temanggung, Klaten, Magelang, Cilacap, Purworejo, Boyolali, Wonogiri, Semarang dan Kota Semarang.  

"Potensi panas bumi di Jawa Tengah secara hipotetik diperkirakan sebesar 2.500 megawatt atau 5,7% dari seluruh cadangan nasional sebesar 29.000 megawatt. Adapun yang sudah operasional di Dieng dengan kapasitas kurang lebih sebesar 1 x 60 megawatt atau 5,1% dari kapasitas total nasional yang sebesar 1.189  megawatt," urainya. 

Pengembangan energi dari dari non fosil juga dilakukan dengan memanfaatkan kotoran ternak dan limbah pabrik tahu, sebagai bahan untuk biogas. Masyarakat Jateng sangat antusias dalam memanfaatkan energi ini. Hal ini terbukti dalam pengembangan biogas di Boyolali dan Wonogiri. Melalui stimulus di beberapa demplot oleh pemerintah daerah dan organisasi non pemerintah, masyarakat mau mengembangkan secara mandiri energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi sebagai pengganti LPG. 

Wagub berpesan, agar masyarakat semakin tahu dan tertarik pada energi baru terbarukan, tim Jelajah Energi Jateng gencar mengkampanyekan energi ini di semua tempat yang akan dilalui maupun dikunjungi. Keberhasilan pengembangan EBT, nantinya akan menambah kesejahteraan masyarakat karena mereka dapat menghemat biaya energi hingga 30%. Di samping itu juga dapat menekan kerusakan lingkungan. 

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, menyampaikan, tim Jelajah Energi Jawa Tengah akan berlangsung selama 4 hari (28 Juni - 1 Juli 2022). Tim antara lain akan berkunjung ke Cilacap untuk melihat bagaimana sampah yang dikelola di TPA dapat menjadi energi yang dikonsumsi untuk industri semen. Mereka juga akan melihat bagaimana rumah sakit memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya, dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah untuk pertanian di Banyumas. 

"Semua rangkaian ini dimaksudkan agar menjadi greget (menarik) bagi semua. Sehingga harapan menuju masyarakat
transisi energi bisa berhasil," tandasnya.


Bagikan :

SEMARANG - Wakil Gubernur Jawa Tengah (Wagub Jateng), Taj Yasin Maimoen, Selasa (28/06/2022) melepas tim Jelajah Energi di Halaman Kantor Gubernur. Tim yang terdiri dari Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi bersama kabupaten/kota, akademisi, NGO, mahasiswa dan media massa akan berkeliling ke daerah-daerah yang memiliki praktik baik dalam mengelola dan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT). 

"Tentunya ini merupakan sebuah terobosan bagus yang dilakukan dalam rangka kampanye energi terbarukan dan mem-blow up (tampilkan) insan atau kelompok masyarakat yang inovatif, dalam penyediaan energi terbarukan dan ramah lingkungan," terang Taj Yasin dalam sambutannya. 

Pertumbuhan penduduk, pembangunan, dan semakin berkembangnya sektor industri, membuat kebutuhan energi semakin meningkat. Apabila tidak ada langkah tepat dalam mengelola energi, maka akan terjadi krisis. Agar krisis energi tidak terjadi, perlu upaya diversifikasi dan konservasi energi serta sumber energi baru terbarukan. 

Pemprov Jateng sudah memiliki Perda Nomor 12 tahun 2018 tentang Rencana Umum Energi Daerah. Wagub mengatakan, Perda ini bertujuan menciptakan kebijakan energi di daerah yang selaras dengan  kebutuhan daerah dan kebijakan energi nasional.
Selain itu, regulasi tersebut juga menjadi dasar untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi daerah dan nasional. Langkah ini, lanjut Wagub, sekaligus menjadi upaya Pemprov Jateng dalam meningkatkan pemanfaatan EBT. Terlebih potensi EBT sangat besar. 

Salah satu EBT yang melimpah adalah energi surya. Secara geografis, Jateng berada di daerah khatulistiwa yang letak astronomisnya pada 100 Lintang Selatan. Pada letak posisi tersebut, Jateng mendapat intensitas penyinaran matahari 3,5 kwh/m2/hari sampai 4,67 kwh/m2/hari. Dengan intensitas penyinaran itu, seluruh wilayah Jateng dapat dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). 

Selain sinar matahari, Jateng juga melimpah potensi energi air. Kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Air di Jateng kurang lebih 386,32 megawatt. Potensi tersebut berada di Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, Brebes, Pemalang, Pekalongan, Kendal, Kebumen, Wonosobo, Temanggung, Klaten, Magelang, Cilacap, Purworejo, Boyolali, Wonogiri, Semarang dan Kota Semarang.  

"Potensi panas bumi di Jawa Tengah secara hipotetik diperkirakan sebesar 2.500 megawatt atau 5,7% dari seluruh cadangan nasional sebesar 29.000 megawatt. Adapun yang sudah operasional di Dieng dengan kapasitas kurang lebih sebesar 1 x 60 megawatt atau 5,1% dari kapasitas total nasional yang sebesar 1.189  megawatt," urainya. 

Pengembangan energi dari dari non fosil juga dilakukan dengan memanfaatkan kotoran ternak dan limbah pabrik tahu, sebagai bahan untuk biogas. Masyarakat Jateng sangat antusias dalam memanfaatkan energi ini. Hal ini terbukti dalam pengembangan biogas di Boyolali dan Wonogiri. Melalui stimulus di beberapa demplot oleh pemerintah daerah dan organisasi non pemerintah, masyarakat mau mengembangkan secara mandiri energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi sebagai pengganti LPG. 

Wagub berpesan, agar masyarakat semakin tahu dan tertarik pada energi baru terbarukan, tim Jelajah Energi Jateng gencar mengkampanyekan energi ini di semua tempat yang akan dilalui maupun dikunjungi. Keberhasilan pengembangan EBT, nantinya akan menambah kesejahteraan masyarakat karena mereka dapat menghemat biaya energi hingga 30%. Di samping itu juga dapat menekan kerusakan lingkungan. 

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, menyampaikan, tim Jelajah Energi Jawa Tengah akan berlangsung selama 4 hari (28 Juni - 1 Juli 2022). Tim antara lain akan berkunjung ke Cilacap untuk melihat bagaimana sampah yang dikelola di TPA dapat menjadi energi yang dikonsumsi untuk industri semen. Mereka juga akan melihat bagaimana rumah sakit memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya, dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah untuk pertanian di Banyumas. 

"Semua rangkaian ini dimaksudkan agar menjadi greget (menarik) bagi semua. Sehingga harapan menuju masyarakat
transisi energi bisa berhasil," tandasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu