Follow Us :              

Pemerintah Dorong Penggunaan Alkes Produksi Dalam Negeri

  27 June 2022  |   09:00:00  |   dibaca : 166 
Kategori :
Bagikan :


Pemerintah Dorong Penggunaan Alkes Produksi Dalam Negeri

27 June 2022 | 09:00:00 | dibaca : 166
Kategori :
Bagikan :

Foto : Rinto (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Rinto (Humas Jateng)

SEMARANG - Kebutuhan alat kesehatan di dalam negeri, selama ini masih banyak dipenuhi dari produk import. Padahal, produsen alat kesehatan di dalam negeri juga cukup banyak. Agar semakin banyak rumah sakit, puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya yang mengetahui produk-produk tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah (Sekda Jateng) Sumarno menilai penting penyelenggaraan pameran alat kesehatan dalam negeri. 

"Ajang ini menurut saya sangat penting karena bisa mengenalkan bahwa kita memiliki banyak sekali produk-produk yang sudah diproduksi di dalam negeri, cuma kurang sosialisasi. Ini kan bisnis matching (menjodohkan) juga, biar nanti teman-teman dari produsen dalam negeri, bisa dipertemukan teman-teman rumah sakit, puskesmas. Jadi nanti pengadaan barang dan jasa yang ada rumah sakit dan puskesmas bisa (dan) memang lagi didorong kesana," jelas Sekda Sumarno usai meninjau Pameran Alat Kesehatan dan Laboratorium yang diselenggarakan Gabungan Perusahaan Alat Kesehatan dan Laboratorium bersama Universitas Diponegoro, Senin (27/06/2022) di Hotel MG Setos. 

Salah satu produksi  yang menarik perhatian Sekda adalah Filly Hand atau produk tangan buatan dengan teknologi biomechanic, produksi Universitas Diponegoro-Semarang. Inovasi itu sangat bermanfaat bagi pasien yang kehilangan tangannya. 

"Kita selama ini hanya mengenal kaki palsu. Tadi dari UNDIP sudah menemukan robotic, untuk mengganti tangan. Ini juga inovatif dan ini bisa diklaim dengan BPJS Ketenagakerjaan. Menurut saya luar biasa karena itu inovatif dan bermanfaat. Ini juga sudah diuji juga,"paparnya. 

Pada kesempatan tersebut, Sekda juga berpesan agar para produsen alat kesehatan dalam negeri menjaga kualitas, agar tidak kalah dengan produksi luar negeri. Selain itu para produsen juga harus melengkapi dengan layanan purna jual, agar pengguna tidak enggan menggunakan produknya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah menjaga integritas dalam proses jual beli, terutama dengan pemerintah. 

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalucia membeberkan, pada tahun 2021 hingga Juni 2022, transaksi alat kesehatan didominasi produk impor, yaitu mencapai 67%. Saat ini, Presiden RI Joko Widodo menekankan agar fasilitas kesehatan milik pemerintah mengutamakan menggunakan produk dalam negeri. 
   
"Memang benar Bapak Presiden (Jokowi) secara khusus menitikberatkan atau menekankan pada belanja alat kesehatan di Indonesia yang masih sangat didominasi oleh produk impor. Secara khusus Presiden mengeluarkan Inpres nomor 2 tahun 2022 untuk percepatan belanja produksi dalam negeri," kata dia. 

Lucia menilai, Jateng merupakan daerah yang baik untuk pengembangan alat kesehatan. Sebab, Universitas Diponegoro sudah memiliki ekosistem pengembangan industri alat kesehatan dan Jateng memiliki kawasan industri terpadu di Batang, dimana beberapa industri alat kesehatan sudah berinvestasi di kawasan industri tersebut. 

"Tentu ini merupakan suatu langkah yang sangat baik untuk percepatan pengembangan ekosistem re dan d (research and development) alat kesehatan di Indonesia. Ada research institute nya di Undip, dan ada industrinya yang ada di kawasan terpadu Batang," pungkasnya.


Bagikan :

SEMARANG - Kebutuhan alat kesehatan di dalam negeri, selama ini masih banyak dipenuhi dari produk import. Padahal, produsen alat kesehatan di dalam negeri juga cukup banyak. Agar semakin banyak rumah sakit, puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya yang mengetahui produk-produk tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah (Sekda Jateng) Sumarno menilai penting penyelenggaraan pameran alat kesehatan dalam negeri. 

"Ajang ini menurut saya sangat penting karena bisa mengenalkan bahwa kita memiliki banyak sekali produk-produk yang sudah diproduksi di dalam negeri, cuma kurang sosialisasi. Ini kan bisnis matching (menjodohkan) juga, biar nanti teman-teman dari produsen dalam negeri, bisa dipertemukan teman-teman rumah sakit, puskesmas. Jadi nanti pengadaan barang dan jasa yang ada rumah sakit dan puskesmas bisa (dan) memang lagi didorong kesana," jelas Sekda Sumarno usai meninjau Pameran Alat Kesehatan dan Laboratorium yang diselenggarakan Gabungan Perusahaan Alat Kesehatan dan Laboratorium bersama Universitas Diponegoro, Senin (27/06/2022) di Hotel MG Setos. 

Salah satu produksi  yang menarik perhatian Sekda adalah Filly Hand atau produk tangan buatan dengan teknologi biomechanic, produksi Universitas Diponegoro-Semarang. Inovasi itu sangat bermanfaat bagi pasien yang kehilangan tangannya. 

"Kita selama ini hanya mengenal kaki palsu. Tadi dari UNDIP sudah menemukan robotic, untuk mengganti tangan. Ini juga inovatif dan ini bisa diklaim dengan BPJS Ketenagakerjaan. Menurut saya luar biasa karena itu inovatif dan bermanfaat. Ini juga sudah diuji juga,"paparnya. 

Pada kesempatan tersebut, Sekda juga berpesan agar para produsen alat kesehatan dalam negeri menjaga kualitas, agar tidak kalah dengan produksi luar negeri. Selain itu para produsen juga harus melengkapi dengan layanan purna jual, agar pengguna tidak enggan menggunakan produknya. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah menjaga integritas dalam proses jual beli, terutama dengan pemerintah. 

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalucia membeberkan, pada tahun 2021 hingga Juni 2022, transaksi alat kesehatan didominasi produk impor, yaitu mencapai 67%. Saat ini, Presiden RI Joko Widodo menekankan agar fasilitas kesehatan milik pemerintah mengutamakan menggunakan produk dalam negeri. 
   
"Memang benar Bapak Presiden (Jokowi) secara khusus menitikberatkan atau menekankan pada belanja alat kesehatan di Indonesia yang masih sangat didominasi oleh produk impor. Secara khusus Presiden mengeluarkan Inpres nomor 2 tahun 2022 untuk percepatan belanja produksi dalam negeri," kata dia. 

Lucia menilai, Jateng merupakan daerah yang baik untuk pengembangan alat kesehatan. Sebab, Universitas Diponegoro sudah memiliki ekosistem pengembangan industri alat kesehatan dan Jateng memiliki kawasan industri terpadu di Batang, dimana beberapa industri alat kesehatan sudah berinvestasi di kawasan industri tersebut. 

"Tentu ini merupakan suatu langkah yang sangat baik untuk percepatan pengembangan ekosistem re dan d (research and development) alat kesehatan di Indonesia. Ada research institute nya di Undip, dan ada industrinya yang ada di kawasan terpadu Batang," pungkasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu