Follow Us :              

Juwita 1000 Harta Inovasi Inspiratif Atasi Stunting Dari Juwiring

  29 June 2022  |   13:00:00  |   dibaca : 135 
Kategori :
Bagikan :


Juwita 1000 Harta Inovasi Inspiratif Atasi Stunting Dari Juwiring

29 June 2022 | 13:00:00 | dibaca : 135
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

KLATEN – Inovasi Juwita 1000 Harta merupakan gerakan yang dikembangkan Puskesmas Juwiring, Kabupaten Klaten untuk mengurangi angka stunting, serta kematian ibu dan bayi. Gerakan ini merupakan salah satu bentuk aplikasi Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng yang dibuat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) yang diaplikasikan di daerah-daerah. 

Juwita 1000 Harta merupakan singkatan dari Juwiring Tanggap 1000 Hari Pertama Kehidupan. Gerakan ini telah dimulai sejak tahun 2013. 

“Inovasi Juwita 1000 Harta ini merupakan upaya menurunkan stunting, menurunkan jumlah bayi berat lahir rendah, serta mengawal ibu hamil sampai 1000 hari kehidupan pertama,” ujar Sri Sugiyanti, Nutrisionis Puskesmas Juwiring. 

Sistem kerja gerakan Juwita 1000 Harta adalah dengan membentuk Kampung Juwita di 19 desa yang ada di Kecamatan Juwiring. Tujuan pembentukan ini untuk mengawal dan memberi edukasi para remaja, calon pengantin, serta para ibu hamil, hingga ibu melahirkan hingga 1000 hari pertama kehidupan bayi. 

“Semua tenaga kesehatan dan relawan di tiap desa, seperti Posyandu, kegiatannya memberi tablet penambah darah kepada remaja putri, edukasi pra nikah, berkunjung ke ibu hamil untuk men-skrining, jika ada resiko maka akan dilakukan pengawalan ke puskesmas atau ke rumah sakit. Selain itu juga ada kegiatan demo pemberian makan bayi yang sehat, baik ASI eksklusif maupun setelahnya,” jelas Sugiyanti. “Kami ada wisuda dan pemberian sertifikat bagi yang telah mengikuti kelas ibu hamil,” lanjutnya. 

Sugiyanti mengungkapkan, Inovasi Juwita 1000 Harta, hingga saat ini telah membuahkan hasil yang signifikan. Sejak digerakkan pada tahun 2013 hingga tahun 2021, angka cakupan program gizi mengalami tren positif. Hal ini berdampak pada angka stunting semakin turun dari 13,38 %  menjadi 6,3 %. Ibu Hamil KEK (Kekurangan Energi Kronik) yang semula 19,38 % turun menjadi 17,6 %, Bayi Berat Lahir Rendah juga turun dari 7,8 % jadi 6,13 %. “Angka kematian bayi lahir juga turun, yang awalnya 4 kasus, sekarang hanya 1 kasus,” imbuhnya. 

Inovasi Juwita 1000 Harta memberi dampak pada peningkatan kesadaran ASI Eksklusif dari 74,79 naik menjadi 85,81, serta kesadaran Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dari 88,46 % jadi 95,01 % 

Sugiyanti berharap, Juwita 1000 Harta mampu menginspirasi daerah lain untuk mendukung program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng dalam mengurangi angka stunting serta kematian ibu dan bayi. 

Dewi Purwanti Ningsih, salah seorang ibu hamil, mengaku lebih tenang dan aman menjalani kehamilan karena mendapat pengawasan dari Puskesmas setempat. 

“Ya, lebih tenang karena selalu diawasi. Ini hamil yang ke empat, dan anak kedua. Semoga sehat dan lahir bisa lancar dan normal,” tandasnya.


Bagikan :

KLATEN – Inovasi Juwita 1000 Harta merupakan gerakan yang dikembangkan Puskesmas Juwiring, Kabupaten Klaten untuk mengurangi angka stunting, serta kematian ibu dan bayi. Gerakan ini merupakan salah satu bentuk aplikasi Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng yang dibuat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) yang diaplikasikan di daerah-daerah. 

Juwita 1000 Harta merupakan singkatan dari Juwiring Tanggap 1000 Hari Pertama Kehidupan. Gerakan ini telah dimulai sejak tahun 2013. 

“Inovasi Juwita 1000 Harta ini merupakan upaya menurunkan stunting, menurunkan jumlah bayi berat lahir rendah, serta mengawal ibu hamil sampai 1000 hari kehidupan pertama,” ujar Sri Sugiyanti, Nutrisionis Puskesmas Juwiring. 

Sistem kerja gerakan Juwita 1000 Harta adalah dengan membentuk Kampung Juwita di 19 desa yang ada di Kecamatan Juwiring. Tujuan pembentukan ini untuk mengawal dan memberi edukasi para remaja, calon pengantin, serta para ibu hamil, hingga ibu melahirkan hingga 1000 hari pertama kehidupan bayi. 

“Semua tenaga kesehatan dan relawan di tiap desa, seperti Posyandu, kegiatannya memberi tablet penambah darah kepada remaja putri, edukasi pra nikah, berkunjung ke ibu hamil untuk men-skrining, jika ada resiko maka akan dilakukan pengawalan ke puskesmas atau ke rumah sakit. Selain itu juga ada kegiatan demo pemberian makan bayi yang sehat, baik ASI eksklusif maupun setelahnya,” jelas Sugiyanti. “Kami ada wisuda dan pemberian sertifikat bagi yang telah mengikuti kelas ibu hamil,” lanjutnya. 

Sugiyanti mengungkapkan, Inovasi Juwita 1000 Harta, hingga saat ini telah membuahkan hasil yang signifikan. Sejak digerakkan pada tahun 2013 hingga tahun 2021, angka cakupan program gizi mengalami tren positif. Hal ini berdampak pada angka stunting semakin turun dari 13,38 %  menjadi 6,3 %. Ibu Hamil KEK (Kekurangan Energi Kronik) yang semula 19,38 % turun menjadi 17,6 %, Bayi Berat Lahir Rendah juga turun dari 7,8 % jadi 6,13 %. “Angka kematian bayi lahir juga turun, yang awalnya 4 kasus, sekarang hanya 1 kasus,” imbuhnya. 

Inovasi Juwita 1000 Harta memberi dampak pada peningkatan kesadaran ASI Eksklusif dari 74,79 naik menjadi 85,81, serta kesadaran Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dari 88,46 % jadi 95,01 % 

Sugiyanti berharap, Juwita 1000 Harta mampu menginspirasi daerah lain untuk mendukung program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng dalam mengurangi angka stunting serta kematian ibu dan bayi. 

Dewi Purwanti Ningsih, salah seorang ibu hamil, mengaku lebih tenang dan aman menjalani kehamilan karena mendapat pengawasan dari Puskesmas setempat. 

“Ya, lebih tenang karena selalu diawasi. Ini hamil yang ke empat, dan anak kedua. Semoga sehat dan lahir bisa lancar dan normal,” tandasnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu