Follow Us :              

Tingkatkan Kualitas Hidup Sehat Warga Perbatasan, Gubernur Jateng Tingkatkan Jambanisasi

  21 July 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 113 
Kategori :
Bagikan :


Tingkatkan Kualitas Hidup Sehat Warga Perbatasan, Gubernur Jateng Tingkatkan Jambanisasi

21 July 2022 | 10:00:00 | dibaca : 113
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

CILACAP - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ( Pamprov Jateng) selama ini telah serius berupaya mengurangi kebiasaan masyaramat Buang Air Besar (BAB) sembarangan atau Open Defecation Free. Upaya ini tidak hanya dilakukan di daerah-daerah perkotaan, tetapi juga di perbatasan, khususnya di perbatasan Jateng-Jawa barat (Jabar), termasuk di Kabupaten Cilacap. 

Salah satu desa yang penerima manfaat program jambanisasi di kabupaten tersebut adalah Desa Rawaapu, Kecamatan Patimuan, yang berbatasan dengan Kabupaten Pangadaran, Jabar. Kepala Desa Rawaapu Bambang Wiyantoro mengatakan, banyak Kepala Keluarga (KK) di desanya yang telah menerima bantuan jambanisasi dari Pemprov Jateng. 

"Terima kasih kepada Pemprov Jateng umumnya, dan khususnya kepada Pak Gubernur (Gubernur Jateng Ganjar Pranowo), atas bantuan jambanisasi kepada KPM (keluarga penerima manfaat) sekitar 46 KK," kata Bambang di desanya, Kamis (21/7/2022). 

Kades Rawaapu merasa bantuan ini sebagai bentuk kepedulian Pemprov Jateng kepada masyarakat, kendati mereka berada di daerah  perbatasan paling barat. Selain itu ia juga menilai bantuan jambanisasi itu juga sangat berkontribusi besar dalam mengubah perilaku BAB masyarakat setempat.  Sebab, dari pantauannya, sebelum ada bantuan jambanisasi, warga BAB sembarangan di bantaran sungai. 

"Sebelum adanya bantuan, BAB di becak (sejenis bangunan dari kayu di pinggir sungai untuk BAB). Sekarang hampir sudah tidak terlihat lagi orang yang BAB sembarangan. Kita juga sudah canangkan bebas BAB sembarangan," ucapnya puas. 

Salah seorang warga Dusun Cikadim, Desa Rawaapu, Slamet Nurohman, membenarkan yang disampaikan Kades Rawaapu. Dia mengisahkan, sebelum program jambanisasi masuk desanya, para warga dan keluarganya biasanya pergi ke sungai malam hari untuk BAB. Mereka pergi bersama-sama karena merasa lebih aman. "Karena takut, gelap, licin. Terutama, takut ada ular. Di kampung biasanya banyak ular," tutur Slamet. 

Kini setelah ada bantuan jambanisasi, dia dan keluarga tidak perlu lagi BAB di sungai. Selain lebih sehat, lebih bersih, BAB di jamban juga lebih aman dan nyaman.  "Sekarang lebih enakan. Enggak perlu ke mana-mana. Tenang di rumah, enggak kehujanan. Sudah nyamanlah intinya," ucap pria pembuat gula aren 

Penerima bantuan jamban lain di Desa Mulyadadi, Kecamatan Cipari, Cilacap, Nasihatun, juga merasakan hal yang sama. Sebelum mendapat bantuan, dia terpaksa BAB di rumah tetangga berjarak sekitar 50 meter. 

Pada malam hari mereka terpaksa menahan BAB karena tidak enak hati jika harus menumpang ke tetangga. Hal itu berlangsung sejak 10 tahun lamanya, hingga akhirnya program jambanisasi mereka terima. "Numpang terus kan lama-lama enggak enak. Kalau malam mau numpang (BAB) ya malu," kata Nasihatun. 

Kepala Desa Mulyadadi, Ghoyzin Asyururi mengatakan, tahun 2019 desanya mendapat bantuan 152 unit jamban. Sejak bantuan ini datang, warga kian tertib BAB. 

Terkait program bantuan jamban, Dinas Kesehatan Jateng mencatat, sejak 2015 sampai sekarang jumlah bantuan jambanisasi yang diberikan total 35 ribu paket jamban. Per paket bantuan itu, terdiri atas semen, kloset, pipa paralon. Bahkan pada tahun 2022 ini Pemprov Jateng sudah akan membagikan 7.181 ribu paket jamban gratis.


Bagikan :

CILACAP - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ( Pamprov Jateng) selama ini telah serius berupaya mengurangi kebiasaan masyaramat Buang Air Besar (BAB) sembarangan atau Open Defecation Free. Upaya ini tidak hanya dilakukan di daerah-daerah perkotaan, tetapi juga di perbatasan, khususnya di perbatasan Jateng-Jawa barat (Jabar), termasuk di Kabupaten Cilacap. 

Salah satu desa yang penerima manfaat program jambanisasi di kabupaten tersebut adalah Desa Rawaapu, Kecamatan Patimuan, yang berbatasan dengan Kabupaten Pangadaran, Jabar. Kepala Desa Rawaapu Bambang Wiyantoro mengatakan, banyak Kepala Keluarga (KK) di desanya yang telah menerima bantuan jambanisasi dari Pemprov Jateng. 

"Terima kasih kepada Pemprov Jateng umumnya, dan khususnya kepada Pak Gubernur (Gubernur Jateng Ganjar Pranowo), atas bantuan jambanisasi kepada KPM (keluarga penerima manfaat) sekitar 46 KK," kata Bambang di desanya, Kamis (21/7/2022). 

Kades Rawaapu merasa bantuan ini sebagai bentuk kepedulian Pemprov Jateng kepada masyarakat, kendati mereka berada di daerah  perbatasan paling barat. Selain itu ia juga menilai bantuan jambanisasi itu juga sangat berkontribusi besar dalam mengubah perilaku BAB masyarakat setempat.  Sebab, dari pantauannya, sebelum ada bantuan jambanisasi, warga BAB sembarangan di bantaran sungai. 

"Sebelum adanya bantuan, BAB di becak (sejenis bangunan dari kayu di pinggir sungai untuk BAB). Sekarang hampir sudah tidak terlihat lagi orang yang BAB sembarangan. Kita juga sudah canangkan bebas BAB sembarangan," ucapnya puas. 

Salah seorang warga Dusun Cikadim, Desa Rawaapu, Slamet Nurohman, membenarkan yang disampaikan Kades Rawaapu. Dia mengisahkan, sebelum program jambanisasi masuk desanya, para warga dan keluarganya biasanya pergi ke sungai malam hari untuk BAB. Mereka pergi bersama-sama karena merasa lebih aman. "Karena takut, gelap, licin. Terutama, takut ada ular. Di kampung biasanya banyak ular," tutur Slamet. 

Kini setelah ada bantuan jambanisasi, dia dan keluarga tidak perlu lagi BAB di sungai. Selain lebih sehat, lebih bersih, BAB di jamban juga lebih aman dan nyaman.  "Sekarang lebih enakan. Enggak perlu ke mana-mana. Tenang di rumah, enggak kehujanan. Sudah nyamanlah intinya," ucap pria pembuat gula aren 

Penerima bantuan jamban lain di Desa Mulyadadi, Kecamatan Cipari, Cilacap, Nasihatun, juga merasakan hal yang sama. Sebelum mendapat bantuan, dia terpaksa BAB di rumah tetangga berjarak sekitar 50 meter. 

Pada malam hari mereka terpaksa menahan BAB karena tidak enak hati jika harus menumpang ke tetangga. Hal itu berlangsung sejak 10 tahun lamanya, hingga akhirnya program jambanisasi mereka terima. "Numpang terus kan lama-lama enggak enak. Kalau malam mau numpang (BAB) ya malu," kata Nasihatun. 

Kepala Desa Mulyadadi, Ghoyzin Asyururi mengatakan, tahun 2019 desanya mendapat bantuan 152 unit jamban. Sejak bantuan ini datang, warga kian tertib BAB. 

Terkait program bantuan jamban, Dinas Kesehatan Jateng mencatat, sejak 2015 sampai sekarang jumlah bantuan jambanisasi yang diberikan total 35 ribu paket jamban. Per paket bantuan itu, terdiri atas semen, kloset, pipa paralon. Bahkan pada tahun 2022 ini Pemprov Jateng sudah akan membagikan 7.181 ribu paket jamban gratis.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu