Follow Us :              

Serap Tenaga Kerja Terbanyak, Jawa Tengah Perkokoh Benteng Pangan Nasional

  08 November 2022  |   10:00:00  |   dibaca : 130 
Kategori :
Bagikan :


Serap Tenaga Kerja Terbanyak, Jawa Tengah Perkokoh Benteng Pangan Nasional

08 November 2022 | 10:00:00 | dibaca : 130
Kategori :
Bagikan :

Foto : istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : istimewa (Humas Jateng)

SEMARANG -  Data BPS menyebut, pasca pandemi sektor Pertanian Jawa Tengah menyerap 324 ribu pekerja selama Agustus 2021- Agustus 2022. Angka ini merupakan 24,78 persen dari total serapan tenaga kerja provinsi. Kepala BPS Jawa Tengah, Adhi Wiriana mengatakan, hal ini makin mengokohkan predikat Jawa Tengah sebagai salah satu penyangga pangan nasional. 

Selain Serapan tenaga kerja sektor pertanian, sektor usaha perdagangan juga menyerap 94 ribu orang dan sektor industri pengolahan menyerap 71 ribu orang. Hal ini, tidak lepas dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meningkatkan sektor usaha tani sebagai benteng ketahanan pangan. 

"Pertanian justru terjadi peningkatan (keterserapan tenaga kerja). Ini cukup menggembirakan, kita harap semakin banyak petani milenal agar ketahanan pangan semakin baik," imbuh Adhi. 

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah mengungkap, hingga September 2022, realisasi produksi padi mencapai 8.238.177 ton, dari prediksi target 2022  untuk padi 9.704.760 ton atau sekitar 5,5 juta ton bila dikonversi menjadi beras. Sedangkan, kebutuhan konsumsi beras di Jawa Tengah lebih kurang 4.556.070 ton. 

Adapun, untuk produksi jagung hingga September 2022 mencapai 3.047.712 ton dengan kebutuhan pakan dan ternak 2.447.202 ton. Produksi ubi kayu mencapai 2,2 juta ton. Sementara, produksi kedelai hingga bulan yang sama baru mencapai 47.246 ton, dari kebutuhan 915.137 ton. 

Tahun 2022 ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menyediakan lahan seluas 120 hektare untuk memperkuat pangan alternatif seperti sorgum. Lahan tersebut terdapat di tiga kabupaten yakni Wonogiri, Sukoharjo dan Cilacap. 

Secara umum jumlah Angkatan Kerja (AK) Jawa Tengah, berdasar Survei Angkatan Kerja Nasional 2022 yang dilakukan pada Februari dan Agustus 2022, jumlahnya naik 237 ribu orang, menjadi 27,49 juta orang. Jumlah ini terdiri dari Bukan Angkatan Kerja (BAK) dan Angkatan Kerja (AK). Tercatat, BAK turun 274 ribu orang menjadi 8,02 juta orang, sedangkan AK naik 511 ribu orang menjadi 19,47 juta orang. 

Data AK sendiri terbagi menjadi dua kelompok yakni orang bekerja dan pengangguran. Orang bekerja tercatat  naik 555 ribu orang, menjadi 18,39 juta orang. Orang yang bekerja terdiri dari orang bekerja penuh waktu, pekerja paruh waktu serta setengah pengangguran. 

Pekerja penuh waktu meningkat 956 ribu orang menjadi 13,13 juta orang, sedang pekerja paruh waktu menurun 103 ribu orang menjadi 4,27 juta orang. Sedangkan setengah pengangguran turun 298 ribu orang, menjadi 0,99 juta orang. Sementara, pengangguran turun 44 ribu orang, menjadi 1,08 juta orang. Hal ini menurut menjadi indikator perbaikan ekonomi. 

"Ini menandakan pertumbuhan ekonomi yang terjadi 5,28 persen Year on Year (Triwulan III 2022), berpengaruh terhadap penurunan pengangguran yang turun 44 ribu orang, sementara orang bekerja terjadi peningkatan 555 ribu orang," ujar Adhi. 

Turut dikatakan jumlah pengangguran di Jawa Tengah kian menurun seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pulihnya kondisi pandemi Covid-19. Catatan BPS Jawa Tengah, penganggur sempat mencapai 1,21 juta orang di Agustus 2020, kemudian turun menjadi 1,13 juta orang di 2021 dan menjadi 1,08 juta orang di 2022. 

Ia menyebut tingkat pengangguran terbuka di Jawa Tengah berada di angka 5,57 persen (Agustus 2022) atau menurun 0,38 persen dibanding agustus 2021. Angka ini menurutnya di bawah angka pengangguran nasional yang mencapai 5,85 persen. 

Pada sisi pertumbuhan ekonomi, di tengah krisis dunia, pada medio 2022  perekonomian Jawa Tengah tetap tumbuh sebesar 5,28 persen Year on Year (YoY) pada kuartal III  (Juli, Agustus, September) tahun ini. Adhi menyebut, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada kuartal III 2022 atas dasar harga berlaku Rp396.643,77 miliar, dan atas dasar harga konstan Rp 264.862,50 miliar. 

Meski belum memenuhi target pertumbuhan yang direncanakan hingga tujuh persen, ia menyebutkan bahwa pertumbuhan ini cukup baik dalam mengurangi pengangguran, kemiskinan secara signifikan. 

"Terlihat pada YoY 5,28 persen cukup baik dibandingkan pada triwulan III 2021 yang 2,73 persen. Kalau dibandingkan dengan triwulan II 2022 pertumbuhan kita cukup tinggi yakni 5,66 persen," ujarnya. 

Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Transportasi dan Perdagangan yang tumbuh sebesar 98,53 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen yang mengalami kenaikan paling tinggi terjadi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa (termasuk Ekspor Antar Daerah) sebesar 17,05 persen. 

Adapun, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tumbuh 1,32 persen dibanding kuartal 2 2022 (Q to Q). Sementara secara kumulatif (C to C) pada kuartal 3 2022 ekonomi Jateng tumbuh 5,36 persen.


Bagikan :

SEMARANG -  Data BPS menyebut, pasca pandemi sektor Pertanian Jawa Tengah menyerap 324 ribu pekerja selama Agustus 2021- Agustus 2022. Angka ini merupakan 24,78 persen dari total serapan tenaga kerja provinsi. Kepala BPS Jawa Tengah, Adhi Wiriana mengatakan, hal ini makin mengokohkan predikat Jawa Tengah sebagai salah satu penyangga pangan nasional. 

Selain Serapan tenaga kerja sektor pertanian, sektor usaha perdagangan juga menyerap 94 ribu orang dan sektor industri pengolahan menyerap 71 ribu orang. Hal ini, tidak lepas dari upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meningkatkan sektor usaha tani sebagai benteng ketahanan pangan. 

"Pertanian justru terjadi peningkatan (keterserapan tenaga kerja). Ini cukup menggembirakan, kita harap semakin banyak petani milenal agar ketahanan pangan semakin baik," imbuh Adhi. 

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah mengungkap, hingga September 2022, realisasi produksi padi mencapai 8.238.177 ton, dari prediksi target 2022  untuk padi 9.704.760 ton atau sekitar 5,5 juta ton bila dikonversi menjadi beras. Sedangkan, kebutuhan konsumsi beras di Jawa Tengah lebih kurang 4.556.070 ton. 

Adapun, untuk produksi jagung hingga September 2022 mencapai 3.047.712 ton dengan kebutuhan pakan dan ternak 2.447.202 ton. Produksi ubi kayu mencapai 2,2 juta ton. Sementara, produksi kedelai hingga bulan yang sama baru mencapai 47.246 ton, dari kebutuhan 915.137 ton. 

Tahun 2022 ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menyediakan lahan seluas 120 hektare untuk memperkuat pangan alternatif seperti sorgum. Lahan tersebut terdapat di tiga kabupaten yakni Wonogiri, Sukoharjo dan Cilacap. 

Secara umum jumlah Angkatan Kerja (AK) Jawa Tengah, berdasar Survei Angkatan Kerja Nasional 2022 yang dilakukan pada Februari dan Agustus 2022, jumlahnya naik 237 ribu orang, menjadi 27,49 juta orang. Jumlah ini terdiri dari Bukan Angkatan Kerja (BAK) dan Angkatan Kerja (AK). Tercatat, BAK turun 274 ribu orang menjadi 8,02 juta orang, sedangkan AK naik 511 ribu orang menjadi 19,47 juta orang. 

Data AK sendiri terbagi menjadi dua kelompok yakni orang bekerja dan pengangguran. Orang bekerja tercatat  naik 555 ribu orang, menjadi 18,39 juta orang. Orang yang bekerja terdiri dari orang bekerja penuh waktu, pekerja paruh waktu serta setengah pengangguran. 

Pekerja penuh waktu meningkat 956 ribu orang menjadi 13,13 juta orang, sedang pekerja paruh waktu menurun 103 ribu orang menjadi 4,27 juta orang. Sedangkan setengah pengangguran turun 298 ribu orang, menjadi 0,99 juta orang. Sementara, pengangguran turun 44 ribu orang, menjadi 1,08 juta orang. Hal ini menurut menjadi indikator perbaikan ekonomi. 

"Ini menandakan pertumbuhan ekonomi yang terjadi 5,28 persen Year on Year (Triwulan III 2022), berpengaruh terhadap penurunan pengangguran yang turun 44 ribu orang, sementara orang bekerja terjadi peningkatan 555 ribu orang," ujar Adhi. 

Turut dikatakan jumlah pengangguran di Jawa Tengah kian menurun seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pulihnya kondisi pandemi Covid-19. Catatan BPS Jawa Tengah, penganggur sempat mencapai 1,21 juta orang di Agustus 2020, kemudian turun menjadi 1,13 juta orang di 2021 dan menjadi 1,08 juta orang di 2022. 

Ia menyebut tingkat pengangguran terbuka di Jawa Tengah berada di angka 5,57 persen (Agustus 2022) atau menurun 0,38 persen dibanding agustus 2021. Angka ini menurutnya di bawah angka pengangguran nasional yang mencapai 5,85 persen. 

Pada sisi pertumbuhan ekonomi, di tengah krisis dunia, pada medio 2022  perekonomian Jawa Tengah tetap tumbuh sebesar 5,28 persen Year on Year (YoY) pada kuartal III  (Juli, Agustus, September) tahun ini. Adhi menyebut, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada kuartal III 2022 atas dasar harga berlaku Rp396.643,77 miliar, dan atas dasar harga konstan Rp 264.862,50 miliar. 

Meski belum memenuhi target pertumbuhan yang direncanakan hingga tujuh persen, ia menyebutkan bahwa pertumbuhan ini cukup baik dalam mengurangi pengangguran, kemiskinan secara signifikan. 

"Terlihat pada YoY 5,28 persen cukup baik dibandingkan pada triwulan III 2021 yang 2,73 persen. Kalau dibandingkan dengan triwulan II 2022 pertumbuhan kita cukup tinggi yakni 5,66 persen," ujarnya. 

Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Transportasi dan Perdagangan yang tumbuh sebesar 98,53 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen yang mengalami kenaikan paling tinggi terjadi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa (termasuk Ekspor Antar Daerah) sebesar 17,05 persen. 

Adapun, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tumbuh 1,32 persen dibanding kuartal 2 2022 (Q to Q). Sementara secara kumulatif (C to C) pada kuartal 3 2022 ekonomi Jateng tumbuh 5,36 persen.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu