Follow Us :              

Era Digital adalah Peluang untuk Lebih Cepat Meningkatkan Indeks Literasi

  08 December 2022  |   08:00:00  |   dibaca : 571 
Kategori :
Bagikan :


Era Digital adalah Peluang untuk Lebih Cepat Meningkatkan Indeks Literasi

08 December 2022 | 08:00:00 | dibaca : 571
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

SEMARANG - Literasi menjadi salah satu indikator yang mencerminkan maju atau tidaknya peradaban di suatu wilayah. Di era digital, literasi semakin penting karena sudah menjadi tuntutan globalisasi.  

"Insyaa Allah dengan literasi yang tinggi, sejalan dengan peradaban, Insyaa Allah kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah juga akan meningkat juga," tutur Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno, saat menghadiri Pembukaan Rakor Perpustakaan 2022, Kamis (08/12/2022) di Gedung Dharma Wanita. 

Pada acara bertema 'Keterlibatan Masyarakat dalam Meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Provinsi Jawa Tengah' tersebut, Sekda menyampaikan, era digital peluang untuk bisa lebih cepat meningkatkan IPLM lebih terbuka. 

Saat ini ponsel pintar yang hampir selalu ada dalam genggaman, menjadikan masyarakat mudah mengakses buku digital, maupun perpustakaan digital. Kondisi ini berbeda dengan zaman dahulu, dimana masyarakat mesti datang ke perpustakaan atau bahkan membeli buku untuk membaca. 

Meski sudah dimudahkan dengan kehadiran teknologi, tetapi Sekda menilai, belum banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk meningkatkan literasi.   

"Dan juga di era digital ini, orang banyak pegang HP (handphone), tidak untuk literasi juga banyak. Ini tantangan kita bersama. Mudah-mudahan nanti kita bisa mendorong masyarakat lebih banyak untuk literasi," katanya. 

IPLM Jawa Tengah saat ini berada di angka 11,33. Indeks ini berada di peringkat 15 tingkat nasional. Sekda mengatakan, hal itu menunjukkan Jawa Tengah masih membutuhkan upaya keras untuk meningkatkan literasi. 

Secara sederhana literasi dimaknai dengan kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Apabila kemampuan ini terus diasah, maka cara berpikir seseorang akan semakin kritis.  

"Saya sering mengibaratkan bahwa membaca itu ibarat seperti mengasah pisau. Pisau kalau diasah tentu saja semakin tajam. Makanya kalau kita liat, dosen-dosen itu biasanya daya ingatnya tinggi," ungkap dia.  


Bagikan :

SEMARANG - Literasi menjadi salah satu indikator yang mencerminkan maju atau tidaknya peradaban di suatu wilayah. Di era digital, literasi semakin penting karena sudah menjadi tuntutan globalisasi.  

"Insyaa Allah dengan literasi yang tinggi, sejalan dengan peradaban, Insyaa Allah kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah juga akan meningkat juga," tutur Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno, saat menghadiri Pembukaan Rakor Perpustakaan 2022, Kamis (08/12/2022) di Gedung Dharma Wanita. 

Pada acara bertema 'Keterlibatan Masyarakat dalam Meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di Provinsi Jawa Tengah' tersebut, Sekda menyampaikan, era digital peluang untuk bisa lebih cepat meningkatkan IPLM lebih terbuka. 

Saat ini ponsel pintar yang hampir selalu ada dalam genggaman, menjadikan masyarakat mudah mengakses buku digital, maupun perpustakaan digital. Kondisi ini berbeda dengan zaman dahulu, dimana masyarakat mesti datang ke perpustakaan atau bahkan membeli buku untuk membaca. 

Meski sudah dimudahkan dengan kehadiran teknologi, tetapi Sekda menilai, belum banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk meningkatkan literasi.   

"Dan juga di era digital ini, orang banyak pegang HP (handphone), tidak untuk literasi juga banyak. Ini tantangan kita bersama. Mudah-mudahan nanti kita bisa mendorong masyarakat lebih banyak untuk literasi," katanya. 

IPLM Jawa Tengah saat ini berada di angka 11,33. Indeks ini berada di peringkat 15 tingkat nasional. Sekda mengatakan, hal itu menunjukkan Jawa Tengah masih membutuhkan upaya keras untuk meningkatkan literasi. 

Secara sederhana literasi dimaknai dengan kemampuan seseorang dalam membaca dan menulis. Apabila kemampuan ini terus diasah, maka cara berpikir seseorang akan semakin kritis.  

"Saya sering mengibaratkan bahwa membaca itu ibarat seperti mengasah pisau. Pisau kalau diasah tentu saja semakin tajam. Makanya kalau kita liat, dosen-dosen itu biasanya daya ingatnya tinggi," ungkap dia.  


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu