Follow Us :              

18.567 Keluarga di Jateng Terima Bantuan Intervensi Kerawanan Pangan

  12 June 2024  |   10:30:00  |   dibaca : 113 
Kategori :
Bagikan :


18.567 Keluarga di Jateng Terima Bantuan Intervensi Kerawanan Pangan

12 June 2024 | 10:30:00 | dibaca : 113
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

CILACAP - Sebanyak 18.567 keluarga di Provinsi Jawa Tengah menerima bantuan pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI, dalam rangka intervensi pengendalian kerawanan pangan dan gizi.

Bantuan pangan ini diberikan kepada belasan ribu keluarga dari 39 desa yang tersebar di Kabupaten Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Banjarnegara.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno mengatakan, bantuan pangan itu diberikan sebagai upaya bersama dalam menuntaskan kemiskinan, kemiskinan ekstrem, dan stunting di Jateng.

"Pemprov Jateng tentu saja mengucapkan terima kasih, kepada Kepala Bapanas. Ini merupakan bentuk kolaborasi, dalam menangani problem kemiskinan ekstrem dan stunting di Jawa Tengah," ucapnya dalam acara Peluncuran Bantuan Pangan Intervensi Kerawanan Pangan dan Gizi di Pendopo Wijaya Kusuma Sakti, Kabupaten Cilacap pada Rabu, 12 Juni 2024.

Secara rinci, sebanyak 6.798 paket bantuan disalurkan ke Kabupaten Cilacap, 4.596 paket ke Kebumen, 3.552 paket ke Purworejo, dan 3.621 paket ke Banjarnegara. Isi paket bantuan berupa kornet sapi, sarden ikan, garam yodium, minyak goreng, bihun jagung, dan kacang hijau.

Adapun sasaran penerima bantuan adalah Keluarga Rawan Pangan (KRP) pada kelompok pengeluaran 10% terbawah (desil 1), yang merupakan sasaran dari upaya percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem.

"Penanganan kemiskinan ekstrem dan stunting, tidak bisa berdiri sendiri, harus bekerja sama dengan berbagai pihak,” ujar Sekda.

Sementara itu, Kepala Bapanas RI, Arief Prasetyo Adi menjelaskan di Indonesia masih terdapat sekitar 68 daerah rawan dan rentan pangan. Daerah-daerah itu tersebar di wilayah terdepan, terluar, tertinggal, dan perbatasan (3T-P), serta beberapa wilayah kepulauan. Selain itu, sebanyak 8,53% masyarakat Indonesia juga masih menderita gizi buruk.

“Intervensi pengendalian kerawanan pangan ini, dilakukan serentak di 8  provinsi, 20 kabupaten/kota, 233 desa,” katanya.

Arief mengungkapkan, pemerintah memiliki beberapa stok bantuan pangan, di antaranya beras untuk 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM), bantuan stunting untuk 1,4 juta penerima bantuan intervensi pengendalian kerawanan pangan, serta bantuan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). 

"Data untuk bantuan intervensi ini, dari data percepatan kemiskinan ekstrem. Dulu ada 74 wilayah (rawan dan rentan pangan), sekarang tinggal 68 wilayah," ucapnya.


Bagikan :

CILACAP - Sebanyak 18.567 keluarga di Provinsi Jawa Tengah menerima bantuan pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI, dalam rangka intervensi pengendalian kerawanan pangan dan gizi.

Bantuan pangan ini diberikan kepada belasan ribu keluarga dari 39 desa yang tersebar di Kabupaten Cilacap, Kebumen, Purworejo, dan Banjarnegara.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno mengatakan, bantuan pangan itu diberikan sebagai upaya bersama dalam menuntaskan kemiskinan, kemiskinan ekstrem, dan stunting di Jateng.

"Pemprov Jateng tentu saja mengucapkan terima kasih, kepada Kepala Bapanas. Ini merupakan bentuk kolaborasi, dalam menangani problem kemiskinan ekstrem dan stunting di Jawa Tengah," ucapnya dalam acara Peluncuran Bantuan Pangan Intervensi Kerawanan Pangan dan Gizi di Pendopo Wijaya Kusuma Sakti, Kabupaten Cilacap pada Rabu, 12 Juni 2024.

Secara rinci, sebanyak 6.798 paket bantuan disalurkan ke Kabupaten Cilacap, 4.596 paket ke Kebumen, 3.552 paket ke Purworejo, dan 3.621 paket ke Banjarnegara. Isi paket bantuan berupa kornet sapi, sarden ikan, garam yodium, minyak goreng, bihun jagung, dan kacang hijau.

Adapun sasaran penerima bantuan adalah Keluarga Rawan Pangan (KRP) pada kelompok pengeluaran 10% terbawah (desil 1), yang merupakan sasaran dari upaya percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem.

"Penanganan kemiskinan ekstrem dan stunting, tidak bisa berdiri sendiri, harus bekerja sama dengan berbagai pihak,” ujar Sekda.

Sementara itu, Kepala Bapanas RI, Arief Prasetyo Adi menjelaskan di Indonesia masih terdapat sekitar 68 daerah rawan dan rentan pangan. Daerah-daerah itu tersebar di wilayah terdepan, terluar, tertinggal, dan perbatasan (3T-P), serta beberapa wilayah kepulauan. Selain itu, sebanyak 8,53% masyarakat Indonesia juga masih menderita gizi buruk.

“Intervensi pengendalian kerawanan pangan ini, dilakukan serentak di 8  provinsi, 20 kabupaten/kota, 233 desa,” katanya.

Arief mengungkapkan, pemerintah memiliki beberapa stok bantuan pangan, di antaranya beras untuk 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM), bantuan stunting untuk 1,4 juta penerima bantuan intervensi pengendalian kerawanan pangan, serta bantuan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). 

"Data untuk bantuan intervensi ini, dari data percepatan kemiskinan ekstrem. Dulu ada 74 wilayah (rawan dan rentan pangan), sekarang tinggal 68 wilayah," ucapnya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu