Follow Us :              

Gubernur Terima Utusan KSAD, Bahas Rencana Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar

  30 April 2026  |   11:30:00  |   dibaca : 114 
Kategori :
Bagikan :


Gubernur Terima Utusan KSAD, Bahas Rencana Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar

30 April 2026 | 11:30:00 | dibaca : 114
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengakselerasi penuntasan masalah sampah di wilayahnya. 

Terbaru, Gubernur menerima kunjungan dari tim yang dikirim oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, di kantornya pada Kamis, 30 April 2026.

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari diskusi antara Gubernur dengan KSAD beberapa waktu lalu di Jakarta terkait potensi pengolahan sampah menjadi bahan bakar setara solar atau waste to fuel.

“Saya senang, tim beliau (KSAD) datang hari ini. Kita selesaikan problem sampah ini bersama-sama," ucap Gubernur saat menerima kunjungan dari tim yang dipimpin oleh 
Inspektur Intelijen Inspektorat Jenderal Angkatan Darat (Irintel Itjenad) TNI AD, Brigjen TNI Aulia Fahmi, dan Wakil Asisten Intelejen (Waasintel) KSAD, Brigjen TNI Adi Prasetya.

Gambaran umum kondisi timbulan sampah di Jateng sebesar 6,3 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 30% sampah sudah diolah, sedangkan sisanya sekitar 70% belum terkelola dengan baik. 

Saat ini, sudah ada sekitar 13 Tempat Pengolahan Sampah (TPS) di Jateng yang mampu mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif atau teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Salah satunya di Banyumas yang ditinjau langsung oleh Presiden Prabowo pada Selasa, 28 April 2026. Jumlah itu, masih ditambah dengan 3 wilayah aglomerasi di Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya, yang diharapkan mampu melakukan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup.

Gubernur memaparkan, TPA di Kota Semarang menjadi salah satu lokasi yang memiliki potensi untuk menerapkan metode waste to fuel. Mengingat di TPA Jatibarang masih ada sekitar 3 juta ton deposit sampah yang belum terurai. 

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan bahwa lokasi konsep aglomerasi untuk PSEL di Jatibarang sudah ditetapkan. Selain sampah dari Kota Semarang, nanti juga akan ada sampah dari Kendal. Di samping itu, masih ada lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk pengolahan sampah menjadi bahan bakar setara solar tersebut.

Ia menyatakan siap menyediakan lokasi, seandainya proyek itu dilakukan di Kota Semarang. 

Irintel Itjenad, Brigjen TNI Aulia Fahmi, mengatakan ada instruksi khusus dari Presiden kepada Menteri Pertahanan terkait pengolahan sampah yang melibatkan unsur TNI. Kemudian, KSAD mengambil langkah-langkah dan muncul ide model waste to fuel.

TPA Jatibarang Kota Semarang merupakan satu dari lima titik yang sudah ditetapkan menjadi prioritas. Apabila program ini disetujui, maka targetnya nanti akan ada 1.000 ton sampah yang diolah menjadi solar atau waste to fuel.

"Waste to fuel ini kebutuhan lahannya sekitar 5 hektare, pakai alat monster pemakan sampah. Jadi kami minta arahan dari Gubernur dan Wali Kota agar tidak melanggar ketentuan yang berlaku," katanya.


Bagikan :

SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengakselerasi penuntasan masalah sampah di wilayahnya. 

Terbaru, Gubernur menerima kunjungan dari tim yang dikirim oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, di kantornya pada Kamis, 30 April 2026.

Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari diskusi antara Gubernur dengan KSAD beberapa waktu lalu di Jakarta terkait potensi pengolahan sampah menjadi bahan bakar setara solar atau waste to fuel.

“Saya senang, tim beliau (KSAD) datang hari ini. Kita selesaikan problem sampah ini bersama-sama," ucap Gubernur saat menerima kunjungan dari tim yang dipimpin oleh 
Inspektur Intelijen Inspektorat Jenderal Angkatan Darat (Irintel Itjenad) TNI AD, Brigjen TNI Aulia Fahmi, dan Wakil Asisten Intelejen (Waasintel) KSAD, Brigjen TNI Adi Prasetya.

Gambaran umum kondisi timbulan sampah di Jateng sebesar 6,3 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 30% sampah sudah diolah, sedangkan sisanya sekitar 70% belum terkelola dengan baik. 

Saat ini, sudah ada sekitar 13 Tempat Pengolahan Sampah (TPS) di Jateng yang mampu mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif atau teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Salah satunya di Banyumas yang ditinjau langsung oleh Presiden Prabowo pada Selasa, 28 April 2026. Jumlah itu, masih ditambah dengan 3 wilayah aglomerasi di Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya, yang diharapkan mampu melakukan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup.

Gubernur memaparkan, TPA di Kota Semarang menjadi salah satu lokasi yang memiliki potensi untuk menerapkan metode waste to fuel. Mengingat di TPA Jatibarang masih ada sekitar 3 juta ton deposit sampah yang belum terurai. 

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengatakan bahwa lokasi konsep aglomerasi untuk PSEL di Jatibarang sudah ditetapkan. Selain sampah dari Kota Semarang, nanti juga akan ada sampah dari Kendal. Di samping itu, masih ada lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk pengolahan sampah menjadi bahan bakar setara solar tersebut.

Ia menyatakan siap menyediakan lokasi, seandainya proyek itu dilakukan di Kota Semarang. 

Irintel Itjenad, Brigjen TNI Aulia Fahmi, mengatakan ada instruksi khusus dari Presiden kepada Menteri Pertahanan terkait pengolahan sampah yang melibatkan unsur TNI. Kemudian, KSAD mengambil langkah-langkah dan muncul ide model waste to fuel.

TPA Jatibarang Kota Semarang merupakan satu dari lima titik yang sudah ditetapkan menjadi prioritas. Apabila program ini disetujui, maka targetnya nanti akan ada 1.000 ton sampah yang diolah menjadi solar atau waste to fuel.

"Waste to fuel ini kebutuhan lahannya sekitar 5 hektare, pakai alat monster pemakan sampah. Jadi kami minta arahan dari Gubernur dan Wali Kota agar tidak melanggar ketentuan yang berlaku," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu