Follow Us :              

Saling Melengkapi, Jateng-Kaltim Kantongi Potensi Ekonomi Kerja Sama Mencapai Rp20,2 Triliun

  06 August 2026  |   09:00:00  |   dibaca : 243 
Kategori :
Bagikan :

Saling Melengkapi, Jateng-Kaltim Kantongi Potensi Ekonomi Kerja Sama Mencapai Rp20,2 Triliun

06 August 2026 | 09:00:00 | dibaca : 243
Kategori :
Bagikan :

Foto : Fajar (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu
Saling Melengkapi, Jateng-Kaltim Kantongi Potensi Ekonomi Kerja Sama Mencapai Rp20,2 Triliun
Saling Melengkapi, Jateng-Kaltim Kantongi Potensi Ekonomi Kerja Sama Mencapai Rp20,2 Triliun
Saling Melengkapi, Jateng-Kaltim Kantongi Potensi Ekonomi Kerja Sama Mencapai Rp20,2 Triliun
Saling Melengkapi, Jateng-Kaltim Kantongi Potensi Ekonomi Kerja Sama Mencapai Rp20,2 Triliun
Saling Melengkapi, Jateng-Kaltim Kantongi Potensi Ekonomi Kerja Sama Mencapai Rp20,2 Triliun

Foto : Fajar (Humas Jateng)

SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kalimantan Timur menjalin kerja sama di berbagai sektor yang memiliki potensi ekonomi mencapai Rp20,2 triliun. 

Potensi ekonomi itu mencakup sektor perdagangan, pangan, industri, jasa keuangan, ekonomi kreatif, hingga dukungan terhadap proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Kerja sama itu ditandai dengan Penandatanganan Naskah Kerja Sama di Odah Etam, Kompleks Kantor Jabatan Gubernur Kaltim, Kota Samarinda pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Penandatanganan kesepakatan bersama dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud. Kemudian, penandatanganan naskah kerja sama teknis dilakukan oleh masing-masing kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), BUMD, asosiasi, dan bupati/wali kota.

Potensi ekonomi mencapai Rp20,2 triliun tersebut merupakan nilai keseluruhan dari berbagai bentuk potensi kerja sama, sehingga tidak seluruhnya merupakan transaksi tunai atau investasi baru dalam satu waktu.

Adapun di sektor pangan, kerja sama tersebut membuka potensi perdagangan komoditas dari Jawa Tengah ke Kalimantan Timur, antara lain telur sekitar 778 ton; daging ayam 873 ton; bawang merah 321,6 ton; dan beras 6.119 ton, dengan potensi transaksi sekitar Rp237,75 miliar. Kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan di sektor peternakan dan kesehatan hewan, dengan potensi nilai sekitar Rp2,1 triliun per tahun. 

Sementara di sektor perindustrian dan perdagangan, nilai potensi kerja samanya sekitar Rp36 miliar per tahun. Di sektor kelautan dan perikanan, kerja sama juga diarahkan untuk memperkuat perdagangan dan rantai pasok dengan nilai sekitar Rp2,238 miliar per tahun.

Kerja sama pariwisata dan ekonomi kreatif juga memiliki potensi yang baik dengan estimasi transaksi langsung sekitar Rp21 miliar per tahun, kemudian multiplier effect di sektor pariwisata mencapai sekitar Rp36 miliar per tahun. 

Dari sisi BUMD, salah satu kerja sama yang memiliki potensi aktivitas bisnis terbesar adalah sinergi Bank Jateng dengan Bank Kaltimtara, dengan potensi sekitar Rp15 triliun per tahun.

Tak hanya itu, ada juga kerja sama Jamkrida Jateng dengan Jamkrida Kaltim melalui skema co-guarantee untuk proyek di IKN. Total proyeksi nilai proyek yang didukung mencapai sekitar Rp1,34 triliun, dengan proyeksi imbal jasa penjaminan sekitar Rp3,452 miliar per tahun.

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., berharap, perjanjian kerja sama tersebut dapat segera direalisasikan, sehingga upaya-upaya pembangunan wilayah tetap dapat dilakukan di tengah keterbatasan fiskal dan dinamika geopolitik dunia.

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, mengatakan, kerja sama ini merupakan kolaborasi yang saling menguntungkan dan saling melengkapi antara Jateng dan Kaltim, di mana Kaltim memiliki sumber daya alam, sedangkan Jateng memiliki industri pengolahan, UMKM, dan sebagainya.

"Ini terobosan luar biasa, dan mudah-mudahan juga bisa dicontoh provinsi-provinsi lainnya yang ada di Indonesia. Supaya kita tidak tergantung dengan APBN ataupun dana transfer pusat ke daerah," katanya.

Kolaborasi saling melengkapi antara Jateng dan Kaltim, salah satunya terkait dengan kebutuhan beras. Di Kaltim setidaknya hampir 10 ribu ton beras dipasok dari Jateng. Sebaliknya, industri di Jateng memerlukan pasokan batu bara sebesar 1,5 juta ton di luar untuk keperluan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sama halnya dengan minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil/CPO yang juga dikirim ke Jateng dari Kaltim.

"Penduduk Kaltim ini hanya sekitar 4,2 juta jiwa, Jawa Tengah sampai 38 juta jiwa. Produksi batu bara dan CPO kami melimpah. Jadi kita sama-sama saling melengkapi. Intinya bahwa ini adalah kolaborasi yang sangat luar biasa," katanya.


Bagikan :

SAMARINDA — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kalimantan Timur menjalin kerja sama di berbagai sektor yang memiliki potensi ekonomi mencapai Rp20,2 triliun. 

Potensi ekonomi itu mencakup sektor perdagangan, pangan, industri, jasa keuangan, ekonomi kreatif, hingga dukungan terhadap proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Kerja sama itu ditandai dengan Penandatanganan Naskah Kerja Sama di Odah Etam, Kompleks Kantor Jabatan Gubernur Kaltim, Kota Samarinda pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Penandatanganan kesepakatan bersama dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud. Kemudian, penandatanganan naskah kerja sama teknis dilakukan oleh masing-masing kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), BUMD, asosiasi, dan bupati/wali kota.

Potensi ekonomi mencapai Rp20,2 triliun tersebut merupakan nilai keseluruhan dari berbagai bentuk potensi kerja sama, sehingga tidak seluruhnya merupakan transaksi tunai atau investasi baru dalam satu waktu.

Adapun di sektor pangan, kerja sama tersebut membuka potensi perdagangan komoditas dari Jawa Tengah ke Kalimantan Timur, antara lain telur sekitar 778 ton; daging ayam 873 ton; bawang merah 321,6 ton; dan beras 6.119 ton, dengan potensi transaksi sekitar Rp237,75 miliar. Kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan di sektor peternakan dan kesehatan hewan, dengan potensi nilai sekitar Rp2,1 triliun per tahun. 

Sementara di sektor perindustrian dan perdagangan, nilai potensi kerja samanya sekitar Rp36 miliar per tahun. Di sektor kelautan dan perikanan, kerja sama juga diarahkan untuk memperkuat perdagangan dan rantai pasok dengan nilai sekitar Rp2,238 miliar per tahun.

Kerja sama pariwisata dan ekonomi kreatif juga memiliki potensi yang baik dengan estimasi transaksi langsung sekitar Rp21 miliar per tahun, kemudian multiplier effect di sektor pariwisata mencapai sekitar Rp36 miliar per tahun. 

Dari sisi BUMD, salah satu kerja sama yang memiliki potensi aktivitas bisnis terbesar adalah sinergi Bank Jateng dengan Bank Kaltimtara, dengan potensi sekitar Rp15 triliun per tahun.

Tak hanya itu, ada juga kerja sama Jamkrida Jateng dengan Jamkrida Kaltim melalui skema co-guarantee untuk proyek di IKN. Total proyeksi nilai proyek yang didukung mencapai sekitar Rp1,34 triliun, dengan proyeksi imbal jasa penjaminan sekitar Rp3,452 miliar per tahun.

Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., berharap, perjanjian kerja sama tersebut dapat segera direalisasikan, sehingga upaya-upaya pembangunan wilayah tetap dapat dilakukan di tengah keterbatasan fiskal dan dinamika geopolitik dunia.

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud, mengatakan, kerja sama ini merupakan kolaborasi yang saling menguntungkan dan saling melengkapi antara Jateng dan Kaltim, di mana Kaltim memiliki sumber daya alam, sedangkan Jateng memiliki industri pengolahan, UMKM, dan sebagainya.

"Ini terobosan luar biasa, dan mudah-mudahan juga bisa dicontoh provinsi-provinsi lainnya yang ada di Indonesia. Supaya kita tidak tergantung dengan APBN ataupun dana transfer pusat ke daerah," katanya.

Kolaborasi saling melengkapi antara Jateng dan Kaltim, salah satunya terkait dengan kebutuhan beras. Di Kaltim setidaknya hampir 10 ribu ton beras dipasok dari Jateng. Sebaliknya, industri di Jateng memerlukan pasokan batu bara sebesar 1,5 juta ton di luar untuk keperluan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Sama halnya dengan minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil/CPO yang juga dikirim ke Jateng dari Kaltim.

"Penduduk Kaltim ini hanya sekitar 4,2 juta jiwa, Jawa Tengah sampai 38 juta jiwa. Produksi batu bara dan CPO kami melimpah. Jadi kita sama-sama saling melengkapi. Intinya bahwa ini adalah kolaborasi yang sangat luar biasa," katanya.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu