Foto : Fajar (Humas Jateng)
Foto : Fajar (Humas Jateng)
SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuka Beasiswa Mahasantri Ma’had Aly dan Santri Penggerak 2026. Pendaftaran kedua program beasiswa berlangsung secara daring pada 24 Agustus–24 September melalui aplikasi JNN (Jateng Ngopeni Nglakoni).
Hal ini menjadi bagian dari program Pesantren Obah, yang menjadi salah satu prioritas Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat kontribusi pondok terhadap pembangunan daerah.
Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, Hasyim Muhammad, menjelaskan, kategori pertama ditujukan bagi warga Jateng yang menempuh pendidikan Marhalah Ula atau setara S1 di Ma’had Aly, atau perguruan tinggi berbasis pesantren di bawah pembinaan Kementerian Agama melalui Majelis Masyayikh.
“Ma’had Aly merupakan pendidikan tinggi yang hanya ada di pesantren. Seluruh perkuliahan dan materi pembelajarannya bersumber dari kitab kuning. Masa kuliahnya juga empat tahun, sama seperti perguruan tinggi lainnya,” ucapnya saat berdiskusi dengan wartawan di Kota Semarang pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Ia mengungkapkan, ada sebanyak 25 Ma’had Aly di Jawa Tengah. Saat ini, LFSP menyiapkan kuota beasiswa bagi 420 orang. Nantinya, penerima beasiswa akan memperoleh bantuan biaya pendidikan sebesar Rp1 juta per semester, paling lama 6 semester, terhitung mulai Oktober 2026.
Calon penerima beasiswa harus berstatus penduduk Jateng, aktif kuliah minimal semester II, terdaftar dalam Education Management Information System (EMIS), serta mendapat rekomendasi dari Ma’had Aly mitra.
Hasyim menambahkan, masyarakat kurang mampu yang masuk desil 1–4 berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi prioritas program tersebut.
“Kita akan memprioritaskan mereka yang masuk kategori miskin dan tentu mereka yang berprestasi,” ucapnya.
Hasil Seleksi Beasiswa Mahasantri akan diumumkan pada 12 Oktober 2026. Pemberkasan dilaksanakan pada 13–20 Oktober, kemudian pelepasan dan pembekalan dilakukan pada 21–24 Oktober 2026.
Sementara itu, program Santri Penggerak menyasar mahasiswa minimal semester III di bidang saintek, humaniora, atau keislaman. Pendaftar harus berkuliah di perguruan tinggi mitra Pemprov Jateng, sedang menjalani pendidikan di pondok pesantren, aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus, serta memiliki IPK sekurang-kurangnya 3,00.
Pesantren tempat mahasiswa tinggal wajib memiliki Tanda Daftar Pesantren, Piagam Statistik, atau Izin Operasional Pondok Pesantren. Peserta juga tidak boleh sedang menerima bantuan pendidikan yang bersumber dari APBN maupun APBD.
Calon penerima beasiswa diwajibkan mengirimkan esai bertema “Peran Santri dalam Pembangunan di Jawa Tengah”. Seleksi tahap pertama, meliputi pemeriksaan administrasi dan tulisan. Kemudian, tahap kedua dilakukan dengan menguji kemampuan membaca Al-Qur’an, wawasan kebangsaan, serta pengetahuan kepesantrenan.
“Dalam program ini kita ingin menjaring aktivis yang berstatus mahasiswa. Mereka bisa berasal dari fakultas kedokteran, teknik, hukum, dan program studi lainnya, tetapi juga aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus,” ujar Hasyim.
Penerima Beasiswa Santri Penggerak akan memperoleh bantuan biaya pendidikan Rp1 juta per semester selama 6 semester. Seleksi berlangsung pada 25 September–19 Oktober, dilanjutkan pengumuman pada 20 Oktober, pemberkasan sehari setelahnya, serta pelepasan dan pembekalan pada 21–23 Oktober 2026.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui laman www.jatengprov.go.id, aplikasi JNN, atau nomor WhatsApp 081180006330. Sosialisasi turut melibatkan perguruan tinggi dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) secara daring maupun luring.
Pengurus LFSP Jawa Tengah, Haryanto, menambahkan, beasiswa tersebut merupakan salah satu instrumen pembangunan manusia dari lingkungan pondok. Program Pesantren Obah juga mencakup upaya pemberdayaan ekonomi, peningkatan keterampilan, serta penguasaan teknologi.
“Selain pembangunan fisik, pembangunan manusia juga menjadi perhatian. Nanti ada pemberdayaan ekonomi santri, peningkatan SDM, pelatihan mengenai AI (artificial intelegent), ekonomi digital, dan program-program lainnya,” katanya.
Sebelumnya, Pemprov Jateng telah meloloskan 73 orang dari 942 pendaftar Beasiswa Santri dan Pengasuh Pondok Pesantren 2026. Para penerima beasiswa terdiri dari 15 santri untuk kuliah di luar negeri, 27 santri kuliah di dalam negeri, serta 31 pengasuh yang menempuh S2 dan S3.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, juga menekankan bahwa beasiswa yang diberikan Pemprov Jateng tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Oleh karena itu, para penerima beasiswa diharapkan dapat mengembangkan keahlian yang tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat diterapkan di lingkungan pesantren dan masyarakat.
SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membuka Beasiswa Mahasantri Ma’had Aly dan Santri Penggerak 2026. Pendaftaran kedua program beasiswa berlangsung secara daring pada 24 Agustus–24 September melalui aplikasi JNN (Jateng Ngopeni Nglakoni).
Hal ini menjadi bagian dari program Pesantren Obah, yang menjadi salah satu prioritas Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat kontribusi pondok terhadap pembangunan daerah.
Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, Hasyim Muhammad, menjelaskan, kategori pertama ditujukan bagi warga Jateng yang menempuh pendidikan Marhalah Ula atau setara S1 di Ma’had Aly, atau perguruan tinggi berbasis pesantren di bawah pembinaan Kementerian Agama melalui Majelis Masyayikh.
“Ma’had Aly merupakan pendidikan tinggi yang hanya ada di pesantren. Seluruh perkuliahan dan materi pembelajarannya bersumber dari kitab kuning. Masa kuliahnya juga empat tahun, sama seperti perguruan tinggi lainnya,” ucapnya saat berdiskusi dengan wartawan di Kota Semarang pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Ia mengungkapkan, ada sebanyak 25 Ma’had Aly di Jawa Tengah. Saat ini, LFSP menyiapkan kuota beasiswa bagi 420 orang. Nantinya, penerima beasiswa akan memperoleh bantuan biaya pendidikan sebesar Rp1 juta per semester, paling lama 6 semester, terhitung mulai Oktober 2026.
Calon penerima beasiswa harus berstatus penduduk Jateng, aktif kuliah minimal semester II, terdaftar dalam Education Management Information System (EMIS), serta mendapat rekomendasi dari Ma’had Aly mitra.
Hasyim menambahkan, masyarakat kurang mampu yang masuk desil 1–4 berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi prioritas program tersebut.
“Kita akan memprioritaskan mereka yang masuk kategori miskin dan tentu mereka yang berprestasi,” ucapnya.
Hasil Seleksi Beasiswa Mahasantri akan diumumkan pada 12 Oktober 2026. Pemberkasan dilaksanakan pada 13–20 Oktober, kemudian pelepasan dan pembekalan dilakukan pada 21–24 Oktober 2026.
Sementara itu, program Santri Penggerak menyasar mahasiswa minimal semester III di bidang saintek, humaniora, atau keislaman. Pendaftar harus berkuliah di perguruan tinggi mitra Pemprov Jateng, sedang menjalani pendidikan di pondok pesantren, aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus, serta memiliki IPK sekurang-kurangnya 3,00.
Pesantren tempat mahasiswa tinggal wajib memiliki Tanda Daftar Pesantren, Piagam Statistik, atau Izin Operasional Pondok Pesantren. Peserta juga tidak boleh sedang menerima bantuan pendidikan yang bersumber dari APBN maupun APBD.
Calon penerima beasiswa diwajibkan mengirimkan esai bertema “Peran Santri dalam Pembangunan di Jawa Tengah”. Seleksi tahap pertama, meliputi pemeriksaan administrasi dan tulisan. Kemudian, tahap kedua dilakukan dengan menguji kemampuan membaca Al-Qur’an, wawasan kebangsaan, serta pengetahuan kepesantrenan.
“Dalam program ini kita ingin menjaring aktivis yang berstatus mahasiswa. Mereka bisa berasal dari fakultas kedokteran, teknik, hukum, dan program studi lainnya, tetapi juga aktif dalam organisasi intra maupun ekstra kampus,” ujar Hasyim.
Penerima Beasiswa Santri Penggerak akan memperoleh bantuan biaya pendidikan Rp1 juta per semester selama 6 semester. Seleksi berlangsung pada 25 September–19 Oktober, dilanjutkan pengumuman pada 20 Oktober, pemberkasan sehari setelahnya, serta pelepasan dan pembekalan pada 21–23 Oktober 2026.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui laman www.jatengprov.go.id, aplikasi JNN, atau nomor WhatsApp 081180006330. Sosialisasi turut melibatkan perguruan tinggi dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) secara daring maupun luring.
Pengurus LFSP Jawa Tengah, Haryanto, menambahkan, beasiswa tersebut merupakan salah satu instrumen pembangunan manusia dari lingkungan pondok. Program Pesantren Obah juga mencakup upaya pemberdayaan ekonomi, peningkatan keterampilan, serta penguasaan teknologi.
“Selain pembangunan fisik, pembangunan manusia juga menjadi perhatian. Nanti ada pemberdayaan ekonomi santri, peningkatan SDM, pelatihan mengenai AI (artificial intelegent), ekonomi digital, dan program-program lainnya,” katanya.
Sebelumnya, Pemprov Jateng telah meloloskan 73 orang dari 942 pendaftar Beasiswa Santri dan Pengasuh Pondok Pesantren 2026. Para penerima beasiswa terdiri dari 15 santri untuk kuliah di luar negeri, 27 santri kuliah di dalam negeri, serta 31 pengasuh yang menempuh S2 dan S3.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, juga menekankan bahwa beasiswa yang diberikan Pemprov Jateng tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Oleh karena itu, para penerima beasiswa diharapkan dapat mengembangkan keahlian yang tidak hanya berguna bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat diterapkan di lingkungan pesantren dan masyarakat.
Berita Terbaru