Follow Us :              

Sambil Gowes, Ganjar Cerita Masa Kecilnya ke Roland Lagonda

  19 January 2019  |   06:00:00  |   dibaca : 3728 
Kategori :
Bagikan :


Sambil Gowes, Ganjar Cerita Masa Kecilnya ke Roland Lagonda

19 January 2019 | 06:00:00 | dibaca : 3728
Kategori :
Bagikan :

Foto : Istimewa (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Istimewa (Humas Jateng)

SEMARANG - Presenter televisi nasional ternama, Roland Lagonda langsung pucat dan ngos-ngosan saat turun dari sepeda. Bagaimana tidak, dia diajak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo gowes keliling Kota Semarang sambil melakukan wawancara, Sabtu (19/1/2019) pagi.

Dimulai pada pukul 06.00WIB, Ganjar bersama Roland berangkat dari Puri Gedeh menuju Taman Indonesia Kaya di Jalan Menteri Supeno. Kemudian setelah berbincang ringan, mereka melanjutkan gowes ke GOR Tri Lomba Juang untuk menyapa warga yang sedang berolahraga.

Usai menyapa warga, Ganjar lalu melanjutkan kegiatan gowesnya menuju kawasan Kota Lama. Selama perjalanan itulah, Roland melakukan wawancara tentang banyak hal, termasuk kehidupan pribadi dan masa kecil Ganjar Pranowo.

"Masa kecil saya itu sangat menyenangkan. Saya dari keluarga biasa saja, bapak saya Polisi dan ibu saya ibu rumah tangga. Saya menikmati masa kecil itu di Lereng Gunung Lawu, tepatnya di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar," ucap Ganjar mengawali ceritanya.

Saat kecil, Ganjar mengaku pergi ke sekolah dengan nyeker alias tidak memakai alas kaki. Pulang sekolah layaknya anak kecil desa waktu itu, Ganjar menghabiskan waktu untuk bermain. "Biasanya mandi di sungai, memancing ikan di sungai dan bermain permainan tradisional tempo dulu. Sangat mengasyikkan, tidak seperti anak sekarang yang banyak menghabiskan hari untuk bermain handphone," ujar suami Siti Atikoh ini.

Ganjar mengaku jika masa kecilnya cukup nakal. Nakal yang dimaksud adalah kenakalan yang lazim dilakukan pada masa kanak-kanak, seperti main jauh dan lupa pulang. "Saya ingat betul dulu, pulang sekolah diminta ibu untuk tidur. Saya dikeloni begitu di kamar, saya pura-pura tidur. Saat ibu pergi, teman-teman saya sudah siap di belakang jendela dan mengetuk. Langsung saya pergi lewat jendela untuk main. Begitu pulang, bapak sudah siap depan rumah untuk memarahi," katanya mengenang.

Keseruan-keseruan masa kecil itu, lanjut Ganjar, tidak pernah terlupakan sampai sekarang. Untuk itu, setiap pulang kampung dia selalu menyempatkan diri bertemu kawan-kawan masa kecilnya dulu. "Namun kadang yang menjadi risih, teman-teman saya itu kalau saya datang panggil saya 'bapak.' Padahal mereka teman sepermainan saya," ucapnya.

Ditanya terkait pendidikan yang diberikan orang tua saat kecil, Ganjar menerangkan jika latar belakang ayahnya adalah seorang polisi yang selalu mendidik anak-anaknya dengan disiplin dan tegas. Setiap hari, dia selalu diminta membantu pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, setrika, mengepel hingga menyapu halaman.

"Dulu berat melakukannya, tapi sekarang merasakan dampaknya, bahwa apa yang dilakukan bapak semata-mata untu anak-anaknya agar disiplin, kuat dan mandiri," tegasnya.

Ganjar juga mengatakan kepada Roland bahwa cita-citanya dahulu bukan ingin menjadi gubernur, melainkan menjadi pilot. Namun Tuhan berkehendak lain, saat mahasiswa dia menjadi aktivis dan akhirnya berkecimpung di dunia politik hingga menjadi gubernur seperti saat ini.

"Makanya saat sebelum bapak meninggal, beliau berpesan kepada saya bahwa hidup saya hanyalah untuk mengabdi pada negara. Jadi harus mengorbankan semua kepentingan pribadi di atas kepentingan bangsa. Itulah kenapa saya kadang merasa berdosa saat waktu saya sangat kurang untuk keluarga, khususnya anak saya," tambahnya.

Untuk mengetes apakah Ganjar masih ingat permainan masa dahulu atau tidak, Roland mengajukan pertanyaan cepat. Salah satunya pertanyaan pilihan, sepak bola atau patangan. Dengan cepat, Ganjar menjawab patangan.

"Patangan itu permainan tradisional yang selalu saya mainkan bersama teman-teman dulu. Itu permainan cepat-cepatan memegang kepala atau kaki, yang bisa memegang kepala atau kaki lawan, itu yang menang," terangnya.

Ganjar kemudian mengajak Roland untuk mepraktikkan permainan patangan itu. Dengan seru sekali, keduanya bermain Patangan. Kelincahan ayah Muhammad Zinedine Alam Ganjar ini bermain Patangan masa kecil itu masih terlihat, karena dengan cepat dia bisa memenangkan permainan.

"Kamu kok tahu patangan, itu permainan saya saat kecil. Sungguh saya terharu dan teringat masa kecil dulu yang bahagia bermain bersama teman-teman," tukasnya.

Sementara itu, Roland Lagonda merasakan luar biasa dapat mewawancarai Gubernur Jateng itu dengan cara unik, yakni dengan gowes bareng. Dirinya yang jarang bersepeda mengaku kewalahan dan kalah dengan Ganjar.

"Waduh luar biasa, ndak nyangka beliau sibuk tapi masih ada waktu, sepedaannya benar-benar olahraga, sampai saya tadi dikerjai saat melintasi lewat tanjakan tinggi, sampai ngos-ngosan. Pak Ganjar luar biasa, fisiknya masih kuat. Lain kali saya harus berlatih untuk ikut pak Ganjar sepedaan lagi," ujarnya.

Disinggung soal masa kecil Ganjar, Roland mengaku cerita masa kecil Ganjar sungguh menginspirasi dan menyenangkan. Cerita, pengalaman dan pendidikan orang tua masa kecil Ganjar dianggap berhasil dan terpatri dalam sikap Gubernur Jateng itu.

"Orangnya tegas tapi murah senyum, ramah bisa menyapa semua orang, meladeni, tidak beda jauh dengan cerita-cerita masa kecilnya, terutama terkait pendidikan orang tua," tambahnya.

Roland sendiri berharap ada narasumber lain yakni teman kecil Ganjar Pranowo yang dapat diwawancarai. Khususnya tentang keseruan dan kenakalan-kenakalan masa kecil.

"Beliau tadi bilang masa kecilnya nakal, dan kenalakan itu wajar,semua anak kecil dulu melakukan itu. Misalnya pura-pura tidur siang lalu pergi main, ya itu akal-akalan anak-anak, tapi okelah sangat menginspirasi," pungkasnya.
 

Baca juga : Asyiknya Gowes di Tengah Rintik Hujan


Bagikan :

SEMARANG - Presenter televisi nasional ternama, Roland Lagonda langsung pucat dan ngos-ngosan saat turun dari sepeda. Bagaimana tidak, dia diajak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo gowes keliling Kota Semarang sambil melakukan wawancara, Sabtu (19/1/2019) pagi.

Dimulai pada pukul 06.00WIB, Ganjar bersama Roland berangkat dari Puri Gedeh menuju Taman Indonesia Kaya di Jalan Menteri Supeno. Kemudian setelah berbincang ringan, mereka melanjutkan gowes ke GOR Tri Lomba Juang untuk menyapa warga yang sedang berolahraga.

Usai menyapa warga, Ganjar lalu melanjutkan kegiatan gowesnya menuju kawasan Kota Lama. Selama perjalanan itulah, Roland melakukan wawancara tentang banyak hal, termasuk kehidupan pribadi dan masa kecil Ganjar Pranowo.

"Masa kecil saya itu sangat menyenangkan. Saya dari keluarga biasa saja, bapak saya Polisi dan ibu saya ibu rumah tangga. Saya menikmati masa kecil itu di Lereng Gunung Lawu, tepatnya di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar," ucap Ganjar mengawali ceritanya.

Saat kecil, Ganjar mengaku pergi ke sekolah dengan nyeker alias tidak memakai alas kaki. Pulang sekolah layaknya anak kecil desa waktu itu, Ganjar menghabiskan waktu untuk bermain. "Biasanya mandi di sungai, memancing ikan di sungai dan bermain permainan tradisional tempo dulu. Sangat mengasyikkan, tidak seperti anak sekarang yang banyak menghabiskan hari untuk bermain handphone," ujar suami Siti Atikoh ini.

Ganjar mengaku jika masa kecilnya cukup nakal. Nakal yang dimaksud adalah kenakalan yang lazim dilakukan pada masa kanak-kanak, seperti main jauh dan lupa pulang. "Saya ingat betul dulu, pulang sekolah diminta ibu untuk tidur. Saya dikeloni begitu di kamar, saya pura-pura tidur. Saat ibu pergi, teman-teman saya sudah siap di belakang jendela dan mengetuk. Langsung saya pergi lewat jendela untuk main. Begitu pulang, bapak sudah siap depan rumah untuk memarahi," katanya mengenang.

Keseruan-keseruan masa kecil itu, lanjut Ganjar, tidak pernah terlupakan sampai sekarang. Untuk itu, setiap pulang kampung dia selalu menyempatkan diri bertemu kawan-kawan masa kecilnya dulu. "Namun kadang yang menjadi risih, teman-teman saya itu kalau saya datang panggil saya 'bapak.' Padahal mereka teman sepermainan saya," ucapnya.

Ditanya terkait pendidikan yang diberikan orang tua saat kecil, Ganjar menerangkan jika latar belakang ayahnya adalah seorang polisi yang selalu mendidik anak-anaknya dengan disiplin dan tegas. Setiap hari, dia selalu diminta membantu pekerjaan rumah, seperti mencuci baju, setrika, mengepel hingga menyapu halaman.

"Dulu berat melakukannya, tapi sekarang merasakan dampaknya, bahwa apa yang dilakukan bapak semata-mata untu anak-anaknya agar disiplin, kuat dan mandiri," tegasnya.

Ganjar juga mengatakan kepada Roland bahwa cita-citanya dahulu bukan ingin menjadi gubernur, melainkan menjadi pilot. Namun Tuhan berkehendak lain, saat mahasiswa dia menjadi aktivis dan akhirnya berkecimpung di dunia politik hingga menjadi gubernur seperti saat ini.

"Makanya saat sebelum bapak meninggal, beliau berpesan kepada saya bahwa hidup saya hanyalah untuk mengabdi pada negara. Jadi harus mengorbankan semua kepentingan pribadi di atas kepentingan bangsa. Itulah kenapa saya kadang merasa berdosa saat waktu saya sangat kurang untuk keluarga, khususnya anak saya," tambahnya.

Untuk mengetes apakah Ganjar masih ingat permainan masa dahulu atau tidak, Roland mengajukan pertanyaan cepat. Salah satunya pertanyaan pilihan, sepak bola atau patangan. Dengan cepat, Ganjar menjawab patangan.

"Patangan itu permainan tradisional yang selalu saya mainkan bersama teman-teman dulu. Itu permainan cepat-cepatan memegang kepala atau kaki, yang bisa memegang kepala atau kaki lawan, itu yang menang," terangnya.

Ganjar kemudian mengajak Roland untuk mepraktikkan permainan patangan itu. Dengan seru sekali, keduanya bermain Patangan. Kelincahan ayah Muhammad Zinedine Alam Ganjar ini bermain Patangan masa kecil itu masih terlihat, karena dengan cepat dia bisa memenangkan permainan.

"Kamu kok tahu patangan, itu permainan saya saat kecil. Sungguh saya terharu dan teringat masa kecil dulu yang bahagia bermain bersama teman-teman," tukasnya.

Sementara itu, Roland Lagonda merasakan luar biasa dapat mewawancarai Gubernur Jateng itu dengan cara unik, yakni dengan gowes bareng. Dirinya yang jarang bersepeda mengaku kewalahan dan kalah dengan Ganjar.

"Waduh luar biasa, ndak nyangka beliau sibuk tapi masih ada waktu, sepedaannya benar-benar olahraga, sampai saya tadi dikerjai saat melintasi lewat tanjakan tinggi, sampai ngos-ngosan. Pak Ganjar luar biasa, fisiknya masih kuat. Lain kali saya harus berlatih untuk ikut pak Ganjar sepedaan lagi," ujarnya.

Disinggung soal masa kecil Ganjar, Roland mengaku cerita masa kecil Ganjar sungguh menginspirasi dan menyenangkan. Cerita, pengalaman dan pendidikan orang tua masa kecil Ganjar dianggap berhasil dan terpatri dalam sikap Gubernur Jateng itu.

"Orangnya tegas tapi murah senyum, ramah bisa menyapa semua orang, meladeni, tidak beda jauh dengan cerita-cerita masa kecilnya, terutama terkait pendidikan orang tua," tambahnya.

Roland sendiri berharap ada narasumber lain yakni teman kecil Ganjar Pranowo yang dapat diwawancarai. Khususnya tentang keseruan dan kenakalan-kenakalan masa kecil.

"Beliau tadi bilang masa kecilnya nakal, dan kenalakan itu wajar,semua anak kecil dulu melakukan itu. Misalnya pura-pura tidur siang lalu pergi main, ya itu akal-akalan anak-anak, tapi okelah sangat menginspirasi," pungkasnya.
 

Baca juga : Asyiknya Gowes di Tengah Rintik Hujan


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu