Foto : Ebron (Humas Jateng)
Foto : Ebron (Humas Jateng)
KAB SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan pentingnya percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT). Menurutnya, penguatan energi bersih menjadi bagian penting dalam menghadapi krisis iklim dan krisis energi.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Peringatan Hari Bumi Tahun 2026 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Bale Agung Horison Resort Tlogo, Tuntang, Kabupaten Semarang pada Rabu, 13 Mei 2026.
“Transisi energi menuju energi baru terbarukan bukan hanya pilihan, tetapi keharusan. Tanpa upaya ini, krisis energi dan krisis iklim akan menjadi ancaman yang nyata,” ucapnya.
Ia mengatakan, tema global Hari Bumi 2026 “Our Power Our Planet” menjadi pengingat bahwa bumi adalah satu-satunya rumah yang harus dijaga bersama. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan generasi muda.
Adapun, bauran EBT di Jawa Tengah telah mencapai 22,33%. Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi Jateng terus mendorong transisi energi berkeadilan, berbasis kearifan lokal, serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalui Program Desa Mandiri Energi.
Hingga kini, sudah sebanyak 2.331 Desa Mandiri Energi di Jateng. Rinciannya, 28 desa kategori mapan, 165 desa kategori berkembang, dan 2.138 desa kategori inisiatif.
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto, menyampaikan, kapasitas infrastruktur EBT di Jateng hingga 2026, meliputi PLT Mikro dan Mini Hidro 38 MW, PLTA 322 MW, PLTS Atap 89,5 MW, biogas 40 ribu meter kubik, PLTSa 8 MW, serta PLTP Dieng Unit 1 dan small scale 60 MW.
Selain itu, Pemprov Jateng juga mendorong pemanfaatan kendaraan listrik. Pada triwulan I 2026, jumlah kendaraan listrik di Jateng sebanyak 22.434 unit, didukung 283 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU.
Direktur Utama Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyampaikan, pihaknya mendukung upaya Jateng dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan serta pembangunan rendah karbon.
Kerja sama antara IESR dengan Pemprov Jateng yang telah berlangsung sejak 2019 itu, awalnya bertujuan untuk mendukung pemanfaatan energi surya. Kini, kerja sama diperluas untuk mendukung pengembangan EBT dan pembangunan rendah karbon dengan melibatkan sejumlah perangkat daerah.
“Kerja sama ini dimaksudkan untuk membantu dan mendukung upaya Jawa Tengah membangun ekonomi, dengan cara lebih hijau atau mengurangi dampak lingkungan,” kata Fabby.
Menurutnya, peringatan Hari Bumi menjadi pengingat bahwa bumi merupakan satu-satunya tempat tinggal yang harus dijaga bersama untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
“Apa yang kita nikmati hari ini, sebenarnya kita pinjam dari generasi masa depan,” ujarnya.
Dalam rangkaian acara tersebut, Pemprov Jateng menyerahkan penghargaan Jateng Energy Transition Awards kepada Kabupaten Boyolali, Brebes, dan Rembang. Penghargaan Desa Mandiri Energi juga diberikan kepada Desa Manggihan, Kabupaten Semarang; Desa Krandegan, Kabupaten Purworejo; Desa Sempukerep, Kabupaten Wonogiri; Desa Banjarsari, Kabupaten Demak; Desa Kalinusu, Kabupaten Brebes; dan Desa Pacet, Kabupaten Batang.
Selain itu, dilakukan penandatanganan kerja sama pemanfaatan minyak jelantah rumah tangga antara Ketua TP PKK selaku Ketua Posyandu Provinsi Jawa Tengah dengan PT Gapura Mas Lestari dan PT Biosikular Inovasi Indonesia.
Kerja sama lainnya dilakukan oleh Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah dengan PT PLN (Persero) UIK Tanjung Jati B terkait fasilitasi pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), serta penguatan kolaborasi sektor energi baru terbarukan (EBT) bersama Universitas Diponegoro (Undip) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pada rangkaian peringatan Hari Bumi, Gubernur Jateng juga melakukan penanaman pohon di lahan setelah adanya kegiatan tambang sebagai simbol pemulihan lingkungan.
KAB SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan pentingnya percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT). Menurutnya, penguatan energi bersih menjadi bagian penting dalam menghadapi krisis iklim dan krisis energi.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Peringatan Hari Bumi Tahun 2026 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Bale Agung Horison Resort Tlogo, Tuntang, Kabupaten Semarang pada Rabu, 13 Mei 2026.
“Transisi energi menuju energi baru terbarukan bukan hanya pilihan, tetapi keharusan. Tanpa upaya ini, krisis energi dan krisis iklim akan menjadi ancaman yang nyata,” ucapnya.
Ia mengatakan, tema global Hari Bumi 2026 “Our Power Our Planet” menjadi pengingat bahwa bumi adalah satu-satunya rumah yang harus dijaga bersama. Tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan generasi muda.
Adapun, bauran EBT di Jawa Tengah telah mencapai 22,33%. Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi Jateng terus mendorong transisi energi berkeadilan, berbasis kearifan lokal, serta melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalui Program Desa Mandiri Energi.
Hingga kini, sudah sebanyak 2.331 Desa Mandiri Energi di Jateng. Rinciannya, 28 desa kategori mapan, 165 desa kategori berkembang, dan 2.138 desa kategori inisiatif.
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto, menyampaikan, kapasitas infrastruktur EBT di Jateng hingga 2026, meliputi PLT Mikro dan Mini Hidro 38 MW, PLTA 322 MW, PLTS Atap 89,5 MW, biogas 40 ribu meter kubik, PLTSa 8 MW, serta PLTP Dieng Unit 1 dan small scale 60 MW.
Selain itu, Pemprov Jateng juga mendorong pemanfaatan kendaraan listrik. Pada triwulan I 2026, jumlah kendaraan listrik di Jateng sebanyak 22.434 unit, didukung 283 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU.
Direktur Utama Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyampaikan, pihaknya mendukung upaya Jateng dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan serta pembangunan rendah karbon.
Kerja sama antara IESR dengan Pemprov Jateng yang telah berlangsung sejak 2019 itu, awalnya bertujuan untuk mendukung pemanfaatan energi surya. Kini, kerja sama diperluas untuk mendukung pengembangan EBT dan pembangunan rendah karbon dengan melibatkan sejumlah perangkat daerah.
“Kerja sama ini dimaksudkan untuk membantu dan mendukung upaya Jawa Tengah membangun ekonomi, dengan cara lebih hijau atau mengurangi dampak lingkungan,” kata Fabby.
Menurutnya, peringatan Hari Bumi menjadi pengingat bahwa bumi merupakan satu-satunya tempat tinggal yang harus dijaga bersama untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
“Apa yang kita nikmati hari ini, sebenarnya kita pinjam dari generasi masa depan,” ujarnya.
Dalam rangkaian acara tersebut, Pemprov Jateng menyerahkan penghargaan Jateng Energy Transition Awards kepada Kabupaten Boyolali, Brebes, dan Rembang. Penghargaan Desa Mandiri Energi juga diberikan kepada Desa Manggihan, Kabupaten Semarang; Desa Krandegan, Kabupaten Purworejo; Desa Sempukerep, Kabupaten Wonogiri; Desa Banjarsari, Kabupaten Demak; Desa Kalinusu, Kabupaten Brebes; dan Desa Pacet, Kabupaten Batang.
Selain itu, dilakukan penandatanganan kerja sama pemanfaatan minyak jelantah rumah tangga antara Ketua TP PKK selaku Ketua Posyandu Provinsi Jawa Tengah dengan PT Gapura Mas Lestari dan PT Biosikular Inovasi Indonesia.
Kerja sama lainnya dilakukan oleh Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah dengan PT PLN (Persero) UIK Tanjung Jati B terkait fasilitasi pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), serta penguatan kolaborasi sektor energi baru terbarukan (EBT) bersama Universitas Diponegoro (Undip) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pada rangkaian peringatan Hari Bumi, Gubernur Jateng juga melakukan penanaman pohon di lahan setelah adanya kegiatan tambang sebagai simbol pemulihan lingkungan.
Berita Terbaru