Follow Us :              

Jelang Waisak 2026, Momentum Kerek Ekonomi Kawasan Candi Borobudur

  13 May 2026  |   11:30:00  |   dibaca : 76 
Kategori :
Bagikan :


Jelang Waisak 2026, Momentum Kerek Ekonomi Kawasan Candi Borobudur

13 May 2026 | 11:30:00 | dibaca : 76
Kategori :
Bagikan :

Foto : Adit (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Adit (Humas Jateng)

SEMARANG – Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 diproyeksikan mampu mengerek aktivitas ekonomi di kawasan sekitar Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sebab, puluhan ribu orang diperkirakan akan meramaikan puncak acara tersebut. 

Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, mengatakan, antusiasme umat Buddha untuk mengikuti Waisak tahun ini sangat tinggi. Hingga pertengahan Mei 2026, jumlah peserta yang terdaftar sudah mencapai sekitar 23 ribu orang dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Peserta datang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, Jakarta, Banten, dan paling banyak dari Jawa Tengah,” ujarnya.

Meskipun demikian, jumlah pengunjung diperkirakan masih akan bertambah, terutama saat malam pelepasan lampion. 

“Biasanya pada hari H masih banyak yang datang langsung. Saat pelepasan lampion bisa bertambah hampir 10 ribu orang lagi,” kata Tanto.

Lonjakan kunjungan itu disebut sudah mulai terasa di Kawasan Candi Borobudur dan sekitarnya. Hotel, homestay, hingga penginapan milik warga dilaporkan hampir penuh sejak jauh-jauh hari.

“Dampaknya tentu besar untuk masyarakat, mulai hotel, homestay, warung makan, restoran, semuanya akan ramai menjelang Waisak,” ujarnya.

Menurut Tanto, momentum libur panjang pada akhir Mei juga menjadi faktor yang membuat Waisak tahun ini diprediksi lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya.

Wakil Ketua Panitia Waisak Nasional 2026, Karuna Murdaya, mengatakan, dukungan Gubenur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., selama ini menjadi bagian penting dalam kelancaran penyelenggaraan Waisak Nasional.

“Pak Gubernur pernah ikut sebelumnya, dan tahun ini senang akan hadir juga,” ujarnya seusai beraudiensi dengan Gubernur Jateng di Kota Semarang pada Rabu, 13 Mei 2026. 

Rangkaian Perayaan Waisak sebenarnya telah dimulai sejak awal Mei. Namun, kegiatan besarnya akan berlangsung pada 23-24 Mei 2026, melalui bakti sosial kesehatan gratis di Borobudur dengan target melayani sekitar 10 ribu pasien.

Selain itu, panitia juga menyiapkan sejumlah ritual sakral yang menjadi tradisi tahunan Waisak. Pada 29 Mei akan dilakukan pengambilan Api Dharma dari Mrapen, Grobogan, dilanjutkan pengambilan Air Berkah dari Umbul Jumprit pada 30 Mei.

Karuna menjelaskan, salah satu hal yang menjadi perhatian tahun ini adalah perjalanan para Bhikkhu Thudong yang berjalan kaki dari Bali menuju Borobudur sejauh sekitar 660 kilometer.

“Tahun ini ada 60 bhikkhu yang ikut, terdiri dari 50 bhikkhu asing dan 10 lokal,” katanya.

Puncak perayaan Waisak akan berlangsung pada 31 Mei 2026. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, detik-detik Waisak tahun ini jatuh pada sore hari, tepat pukul 15.44 WIB. Oleh karena itu, susunan acara juga mengalami penyesuaian.

Prosesinya akan dimulai sejak pagi hari dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Setelah detik-detik Waisak berlangsung pada sore hari, pelepasan lampion perdamaian akan dibagi dalam dua sesi mulai pukul 18.30 WIB, kemudian dilanjutkan sendratari pada malam hari.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menegaskan, pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Waisak Nasional 2026 sebagai agenda keagamaan yang strategis.

Menurutnya, Waisak tidak hanya menjadi perayaan spiritual umat Buddha, tetapi juga simbol kuat toleransi, persatuan, dan moderasi beragama di Indonesia. Ia menyampaikan, Pemprov Jawa Tengah mendukung seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari bakti sosial kesehatan, ritual spiritual, hingga prosesi puncak Waisak di Borobudur.

Gubernur juga memastikan akan hadir dalam rangkaian Perayaan Waisak 2026 di Kawasan Candi Borobudur.


Bagikan :

SEMARANG – Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 diproyeksikan mampu mengerek aktivitas ekonomi di kawasan sekitar Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sebab, puluhan ribu orang diperkirakan akan meramaikan puncak acara tersebut. 

Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, mengatakan, antusiasme umat Buddha untuk mengikuti Waisak tahun ini sangat tinggi. Hingga pertengahan Mei 2026, jumlah peserta yang terdaftar sudah mencapai sekitar 23 ribu orang dari berbagai wilayah di Indonesia.

“Peserta datang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, Jakarta, Banten, dan paling banyak dari Jawa Tengah,” ujarnya.

Meskipun demikian, jumlah pengunjung diperkirakan masih akan bertambah, terutama saat malam pelepasan lampion. 

“Biasanya pada hari H masih banyak yang datang langsung. Saat pelepasan lampion bisa bertambah hampir 10 ribu orang lagi,” kata Tanto.

Lonjakan kunjungan itu disebut sudah mulai terasa di Kawasan Candi Borobudur dan sekitarnya. Hotel, homestay, hingga penginapan milik warga dilaporkan hampir penuh sejak jauh-jauh hari.

“Dampaknya tentu besar untuk masyarakat, mulai hotel, homestay, warung makan, restoran, semuanya akan ramai menjelang Waisak,” ujarnya.

Menurut Tanto, momentum libur panjang pada akhir Mei juga menjadi faktor yang membuat Waisak tahun ini diprediksi lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya.

Wakil Ketua Panitia Waisak Nasional 2026, Karuna Murdaya, mengatakan, dukungan Gubenur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., selama ini menjadi bagian penting dalam kelancaran penyelenggaraan Waisak Nasional.

“Pak Gubernur pernah ikut sebelumnya, dan tahun ini senang akan hadir juga,” ujarnya seusai beraudiensi dengan Gubernur Jateng di Kota Semarang pada Rabu, 13 Mei 2026. 

Rangkaian Perayaan Waisak sebenarnya telah dimulai sejak awal Mei. Namun, kegiatan besarnya akan berlangsung pada 23-24 Mei 2026, melalui bakti sosial kesehatan gratis di Borobudur dengan target melayani sekitar 10 ribu pasien.

Selain itu, panitia juga menyiapkan sejumlah ritual sakral yang menjadi tradisi tahunan Waisak. Pada 29 Mei akan dilakukan pengambilan Api Dharma dari Mrapen, Grobogan, dilanjutkan pengambilan Air Berkah dari Umbul Jumprit pada 30 Mei.

Karuna menjelaskan, salah satu hal yang menjadi perhatian tahun ini adalah perjalanan para Bhikkhu Thudong yang berjalan kaki dari Bali menuju Borobudur sejauh sekitar 660 kilometer.

“Tahun ini ada 60 bhikkhu yang ikut, terdiri dari 50 bhikkhu asing dan 10 lokal,” katanya.

Puncak perayaan Waisak akan berlangsung pada 31 Mei 2026. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, detik-detik Waisak tahun ini jatuh pada sore hari, tepat pukul 15.44 WIB. Oleh karena itu, susunan acara juga mengalami penyesuaian.

Prosesinya akan dimulai sejak pagi hari dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Setelah detik-detik Waisak berlangsung pada sore hari, pelepasan lampion perdamaian akan dibagi dalam dua sesi mulai pukul 18.30 WIB, kemudian dilanjutkan sendratari pada malam hari.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., menegaskan, pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Waisak Nasional 2026 sebagai agenda keagamaan yang strategis.

Menurutnya, Waisak tidak hanya menjadi perayaan spiritual umat Buddha, tetapi juga simbol kuat toleransi, persatuan, dan moderasi beragama di Indonesia. Ia menyampaikan, Pemprov Jawa Tengah mendukung seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari bakti sosial kesehatan, ritual spiritual, hingga prosesi puncak Waisak di Borobudur.

Gubernur juga memastikan akan hadir dalam rangkaian Perayaan Waisak 2026 di Kawasan Candi Borobudur.


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu