Follow Us :              

Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Pusaka Keramat di Pojok Welahan

  31 January 2019  |   11:19:00  |   dibaca : 49534 
Kategori :
Bagikan :


Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Pusaka Keramat di Pojok Welahan

31 January 2019 | 11:19:00 | dibaca : 49534
Kategori :
Bagikan :

Foto : Slam (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Slam (Humas Jateng)

JEPARA - Jawa Tengah memiliki banyak situs-situs jejak perkembangan budaya Tionghoa. Mulai dari perdagangan, permukiman, perayaan hari besar hingga tempat peribadatan (Kelenteng) yang selalu menampilkan sisi eksotismenya. Salah satunya adalah Kelenteng Hian Thian Siang Tee atau Hian Thian Siang De (Dewa Langit) yang ada di Welahan, Kabupaten Jepara.

Berada di Gang Pinggir atau tepat di samping Pasar Welahan, nuansa kelenteng sudah tampak dengan warna mencolok merah di gapuranya yang besar. Rasa syahdu akan langsung terasa begitu kita melangkah masuk. Dua patung jenderal kebanggaan kaum Tionghoa selalu siaga berjaga di pintu ruang peribadatan utama yang menjadi tempat Kong Co Hian Thian Siang Tee atau Dewa Langit. 

Di samping Kong Co tuan rumah tersebut, ada ruang untuk Kong Co Kwan Tee Kun dan Khong Hu Cu yang berukuran sekitar 2,5 meter.  "Kelenteng ini ada lima Kimsin (patung dewa) yakni Kong Co (dewa) Hian Thian Siang Tee atau Dewa Obat sebagai tuan rumah yang dibawa langsung dari dataran Cina. Kemudian Kong Co Kwan Tee Kun dan Khong Hu Cu. Adapula Makco Kwan Im dan Sang Budha," kata Woto, sang penjaga kelenteng.

Tiga Kong Co yang disebut awal itu berada di satu atap, dipisahkan dinding namun ada pintu yang menghubungkan. Bangunan asli yang terbuat dari kayu masih mendominasi, agar semakin kokoh di belakang dinding-dinding utama ditopang dengan tembok. Bahkan daun pintu, tiang, atap serta dinding belakang Kong Co Hian thian Siang Tee masih asli sejak kali pertama didirikan. "Di sini penerangan hanya dari lampu teplok, menggunakan minyak tanah dan tidak menggunakan aliran listrik. Karena Kong Co-nya tidak menghendaki itu," ujarnya. 

Selain dominasi bangunan jati tua dan penerangan tanpa aliran listrik, hal unik lain adalah keberadaan Makco Kwan Im dan Sang Budha. Kelenteng ini memang jadi satu dengan Wihara, tempat peribadatan umat Budha. Yang jika kita masuk ruang Kwan Im dan Sang Budha nuansa tenang sangat lekat karena dilengkapi alunan musik sendu.

Jika menilik kayu-kayu bangunan itu, bisa ditaksir usia kelenteng ini lebih dari 100 tahun. Bahkan, Kelenteng Hian Thian Siang Tee selama ini disebut-sebut sebagai salah satu kelenteng yang tertua.

Namun belum ada cukup bukti yang mendukung validitas berapa usia kelenteng itu kecuali sebilah senjata tua asli Cina dan catatan-catatan mujarobat khas Tiongkok. Dua benda itupun hanya jadi tanda kisar usia yang akhirnya melahirkan kisah perjalanan lelaki Tionghoa ke Jawa Tengah.

Alkisah, Tan Siang Boe pemuda asal Tiongkok hendak menyusul sang kakak, Tan Siang Djie di Tanah Jawa. Berkat jasanya menyelamatkan seorang Bhiksu di atas kapal, Tan Siang Boe diberi satu kantong yang berisi barang–barang pusaka kuno. Antara lain sehelai sien tjiang (kertas halus bergambar Paduka Hian Thiam Siang Tee), sebilah po kiam (pedang Tiongkok), satu hio lauw (tempat abu), dan satu jilid tjioe hwat (buku pengobatan/ramalan).

"Benda-benda pemberian Bhiksu itulah cikal bakal berdirinya Klenteng ini. Khusus yang sebilah pedang merupakan senjata tua asli asal Tiongkok. Untuk pengobatan kuno, di sini terdapat 120 resep kuno, 100 resep baru. Ada juga Ciamsi atau bambu ramalan nasib yang terdiri dari 49 syair," katanya.

Oleh dua bersaudara itu, pusaka-pusaka dititipkan di Rumah Liem Tjoe Tien, tempat Tan Siang Djie bermukim yang terletak di Gang Pinggir, Welahan. Barang-barang titipan tersebut oleh pemilik rumah selalu disimpan di atas loteng. Dan sejak itu mulailah kisah-kisah mistis menyelimuti. 

Selama dalam penyimpanan di atas loteng tersebut, kata Woto setiap tanggal tiga yaitu hari lahir “Sha Gwe” yakni hari Imlek Seng Tam Djiet dari Hian Thiam Siang Tee, keluarlah daya ghaib. Pusaka tersebut mengeluarkan cahaya api seperti barang terbakar, sewaktu-waktu keluarlah ular naga dan kura-kura yang sangat menakjubkan seisi rumah. Konon, pusaka kuno itu adalah wasiat peninggalan dari Paduka Hian Thiam Siang Tee yang akhirnya dipuja. "Berdasarkan kejadian itu, ulangtahun Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan Jepara dirayakan pada tanggal 1 Sha Gwee (bulan) 3," urainya. 

Uniknya, saat prosesi kirab ulang tahun kelenteng banyak yang datang dari berbagai wilayah negeri ini, patung Dewa-Dewi yang ikut prosesi kirab biasanya berada di dalam tandu/joli dengan berbagai ukuran dan dibuat seindah mungkin dengan warna merah-kuning yang mendominasi. 

Kirab ritual itu berangkat dari Kelenteng Hian Thian Siang Tee kemudian keliling kota dan berakhir di Kelenteng Hok Tik Bio (di samping sungai Serang) yang berlokasi di depan pasar Welahan. Kelenteng Hok Tik Bio ini lebih tua bila dibandingkan dengan Kelenteng Hian Thian Siang Tee.

"Setelah berada di Kelenteng Hok Tik Bio selama lebih kurang satu bulan Dewa Xuan Tian Shang Di ( Hian Thian Siang Tee) dikirab kembali ke Kelenteng Hian Thian Siang Tee dengan keliling kota lebih dulu baru Kembali ke kelenteng di Jalan Gang Pinggir Welahan," kata Woto. 

Salah Kaprah Imlek dan Hujan
Hujan terjadi saat Imlek dianggap akan banyak rezeki yang datang. Begitulah kira-kira pemahaman yang lazim diamini masyarakat pada umumnya. Pandangan tersebut kemudian menjadi pemahaman semakin lebat hujan yang turun saat Imelk, berarti semakin banyak pula rezeki yang datang.

Pengamat Budaya Tionghoa, Ardian Cangianto menjelaskan, pemahaman tersebut salah kaprah. Secara logika, katanya, hujan lebat pasti membawa bencana bukan rezeki. "Yang diharapkan justru hujan rintik-rintik atau gerimis. Karena ada penjelasan rintik-rintik hujan di malam pergantian tahun adalah sebagai embun surga. Namanya saja embun, tidak mungkin akan jatuh dengan deras," ujarnya.

Perayaan Tahun Baru Imlek memiliki rangkaian panjang. Dari tanggal 24 bulan 12 sampai tanggal 15 bulan pertama. "Tanggal 24 bulan 12 itu sebagai sarana pertaubatan akhir, kesempatan terakhir bertaubat (bagi) seseorang," ucapnya.

Dilanjutkan pada tanggal 30 bulan 12 malam. Ardian mengatakan, pada malam menjelang pergantian tahun, saat itulah sebenarnya sejarah angpao lahir, di mana saat itu Dewa Rezeki turun. "Semua orang Tionghoa pada malam itu tidak menutup pintu rumah. Sementara bagi orang-orang fakir mereka menulis atau menggambar Dewa Rezeki yang kemudian dijual keliling," katanya.

Orang yang mendengar tawaran dari para fakir tersebut, lanjut Ardianto, wajib membeli tulisan atau gambar Dewa Rezeki tersebut dengan harapan akan dilapangkan rezekinya. "Maka ada istilah menyebut, jual dan beli dewa rezeki, kalau bahasa sederhananya angpao," jelasnya.

Ardianto juga mengeluhkan, saat ini Imlek sudah masuk pada jurang komersialisasi, dikapitalisasi. Dan itu tidak akan membuat orang Tionghoa semakin memahami perayaan sesungguhnya dari Imlek. "Orang Tionghoa menganggap bahwa Imlek hanya untuk kumpul keluarga dan bagi orang lain Imlek hanya sebagai proyek bagi-bagi angpao," tukasnya.

Dia menegaskan, Imlek bukan sekadar itu. Namun, lebih pada ruang dan waktu untuk introspeksi diri. Untuk lebih meningkatkan hubungan horizontal. "Imlek sejatinya adalah untuk merekatkan tali keluarga dan manusia. Jalan untuk itulah yang harus diresapi," tutupnya.

 

Baca juga : Meriahkan Kirab Cheng Ho, Ganjar Panggul Tandu Kimsin


Bagikan :

JEPARA - Jawa Tengah memiliki banyak situs-situs jejak perkembangan budaya Tionghoa. Mulai dari perdagangan, permukiman, perayaan hari besar hingga tempat peribadatan (Kelenteng) yang selalu menampilkan sisi eksotismenya. Salah satunya adalah Kelenteng Hian Thian Siang Tee atau Hian Thian Siang De (Dewa Langit) yang ada di Welahan, Kabupaten Jepara.

Berada di Gang Pinggir atau tepat di samping Pasar Welahan, nuansa kelenteng sudah tampak dengan warna mencolok merah di gapuranya yang besar. Rasa syahdu akan langsung terasa begitu kita melangkah masuk. Dua patung jenderal kebanggaan kaum Tionghoa selalu siaga berjaga di pintu ruang peribadatan utama yang menjadi tempat Kong Co Hian Thian Siang Tee atau Dewa Langit. 

Di samping Kong Co tuan rumah tersebut, ada ruang untuk Kong Co Kwan Tee Kun dan Khong Hu Cu yang berukuran sekitar 2,5 meter.  "Kelenteng ini ada lima Kimsin (patung dewa) yakni Kong Co (dewa) Hian Thian Siang Tee atau Dewa Obat sebagai tuan rumah yang dibawa langsung dari dataran Cina. Kemudian Kong Co Kwan Tee Kun dan Khong Hu Cu. Adapula Makco Kwan Im dan Sang Budha," kata Woto, sang penjaga kelenteng.

Tiga Kong Co yang disebut awal itu berada di satu atap, dipisahkan dinding namun ada pintu yang menghubungkan. Bangunan asli yang terbuat dari kayu masih mendominasi, agar semakin kokoh di belakang dinding-dinding utama ditopang dengan tembok. Bahkan daun pintu, tiang, atap serta dinding belakang Kong Co Hian thian Siang Tee masih asli sejak kali pertama didirikan. "Di sini penerangan hanya dari lampu teplok, menggunakan minyak tanah dan tidak menggunakan aliran listrik. Karena Kong Co-nya tidak menghendaki itu," ujarnya. 

Selain dominasi bangunan jati tua dan penerangan tanpa aliran listrik, hal unik lain adalah keberadaan Makco Kwan Im dan Sang Budha. Kelenteng ini memang jadi satu dengan Wihara, tempat peribadatan umat Budha. Yang jika kita masuk ruang Kwan Im dan Sang Budha nuansa tenang sangat lekat karena dilengkapi alunan musik sendu.

Jika menilik kayu-kayu bangunan itu, bisa ditaksir usia kelenteng ini lebih dari 100 tahun. Bahkan, Kelenteng Hian Thian Siang Tee selama ini disebut-sebut sebagai salah satu kelenteng yang tertua.

Namun belum ada cukup bukti yang mendukung validitas berapa usia kelenteng itu kecuali sebilah senjata tua asli Cina dan catatan-catatan mujarobat khas Tiongkok. Dua benda itupun hanya jadi tanda kisar usia yang akhirnya melahirkan kisah perjalanan lelaki Tionghoa ke Jawa Tengah.

Alkisah, Tan Siang Boe pemuda asal Tiongkok hendak menyusul sang kakak, Tan Siang Djie di Tanah Jawa. Berkat jasanya menyelamatkan seorang Bhiksu di atas kapal, Tan Siang Boe diberi satu kantong yang berisi barang–barang pusaka kuno. Antara lain sehelai sien tjiang (kertas halus bergambar Paduka Hian Thiam Siang Tee), sebilah po kiam (pedang Tiongkok), satu hio lauw (tempat abu), dan satu jilid tjioe hwat (buku pengobatan/ramalan).

"Benda-benda pemberian Bhiksu itulah cikal bakal berdirinya Klenteng ini. Khusus yang sebilah pedang merupakan senjata tua asli asal Tiongkok. Untuk pengobatan kuno, di sini terdapat 120 resep kuno, 100 resep baru. Ada juga Ciamsi atau bambu ramalan nasib yang terdiri dari 49 syair," katanya.

Oleh dua bersaudara itu, pusaka-pusaka dititipkan di Rumah Liem Tjoe Tien, tempat Tan Siang Djie bermukim yang terletak di Gang Pinggir, Welahan. Barang-barang titipan tersebut oleh pemilik rumah selalu disimpan di atas loteng. Dan sejak itu mulailah kisah-kisah mistis menyelimuti. 

Selama dalam penyimpanan di atas loteng tersebut, kata Woto setiap tanggal tiga yaitu hari lahir “Sha Gwe” yakni hari Imlek Seng Tam Djiet dari Hian Thiam Siang Tee, keluarlah daya ghaib. Pusaka tersebut mengeluarkan cahaya api seperti barang terbakar, sewaktu-waktu keluarlah ular naga dan kura-kura yang sangat menakjubkan seisi rumah. Konon, pusaka kuno itu adalah wasiat peninggalan dari Paduka Hian Thiam Siang Tee yang akhirnya dipuja. "Berdasarkan kejadian itu, ulangtahun Kelenteng Hian Thian Siang Tee Welahan Jepara dirayakan pada tanggal 1 Sha Gwee (bulan) 3," urainya. 

Uniknya, saat prosesi kirab ulang tahun kelenteng banyak yang datang dari berbagai wilayah negeri ini, patung Dewa-Dewi yang ikut prosesi kirab biasanya berada di dalam tandu/joli dengan berbagai ukuran dan dibuat seindah mungkin dengan warna merah-kuning yang mendominasi. 

Kirab ritual itu berangkat dari Kelenteng Hian Thian Siang Tee kemudian keliling kota dan berakhir di Kelenteng Hok Tik Bio (di samping sungai Serang) yang berlokasi di depan pasar Welahan. Kelenteng Hok Tik Bio ini lebih tua bila dibandingkan dengan Kelenteng Hian Thian Siang Tee.

"Setelah berada di Kelenteng Hok Tik Bio selama lebih kurang satu bulan Dewa Xuan Tian Shang Di ( Hian Thian Siang Tee) dikirab kembali ke Kelenteng Hian Thian Siang Tee dengan keliling kota lebih dulu baru Kembali ke kelenteng di Jalan Gang Pinggir Welahan," kata Woto. 

Salah Kaprah Imlek dan Hujan
Hujan terjadi saat Imlek dianggap akan banyak rezeki yang datang. Begitulah kira-kira pemahaman yang lazim diamini masyarakat pada umumnya. Pandangan tersebut kemudian menjadi pemahaman semakin lebat hujan yang turun saat Imelk, berarti semakin banyak pula rezeki yang datang.

Pengamat Budaya Tionghoa, Ardian Cangianto menjelaskan, pemahaman tersebut salah kaprah. Secara logika, katanya, hujan lebat pasti membawa bencana bukan rezeki. "Yang diharapkan justru hujan rintik-rintik atau gerimis. Karena ada penjelasan rintik-rintik hujan di malam pergantian tahun adalah sebagai embun surga. Namanya saja embun, tidak mungkin akan jatuh dengan deras," ujarnya.

Perayaan Tahun Baru Imlek memiliki rangkaian panjang. Dari tanggal 24 bulan 12 sampai tanggal 15 bulan pertama. "Tanggal 24 bulan 12 itu sebagai sarana pertaubatan akhir, kesempatan terakhir bertaubat (bagi) seseorang," ucapnya.

Dilanjutkan pada tanggal 30 bulan 12 malam. Ardian mengatakan, pada malam menjelang pergantian tahun, saat itulah sebenarnya sejarah angpao lahir, di mana saat itu Dewa Rezeki turun. "Semua orang Tionghoa pada malam itu tidak menutup pintu rumah. Sementara bagi orang-orang fakir mereka menulis atau menggambar Dewa Rezeki yang kemudian dijual keliling," katanya.

Orang yang mendengar tawaran dari para fakir tersebut, lanjut Ardianto, wajib membeli tulisan atau gambar Dewa Rezeki tersebut dengan harapan akan dilapangkan rezekinya. "Maka ada istilah menyebut, jual dan beli dewa rezeki, kalau bahasa sederhananya angpao," jelasnya.

Ardianto juga mengeluhkan, saat ini Imlek sudah masuk pada jurang komersialisasi, dikapitalisasi. Dan itu tidak akan membuat orang Tionghoa semakin memahami perayaan sesungguhnya dari Imlek. "Orang Tionghoa menganggap bahwa Imlek hanya untuk kumpul keluarga dan bagi orang lain Imlek hanya sebagai proyek bagi-bagi angpao," tukasnya.

Dia menegaskan, Imlek bukan sekadar itu. Namun, lebih pada ruang dan waktu untuk introspeksi diri. Untuk lebih meningkatkan hubungan horizontal. "Imlek sejatinya adalah untuk merekatkan tali keluarga dan manusia. Jalan untuk itulah yang harus diresapi," tutupnya.

 

Baca juga : Meriahkan Kirab Cheng Ho, Ganjar Panggul Tandu Kimsin


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu