Follow Us :              

Hadapi Tantangan Global, Semua Komponen Bangsa Harus Bersatu

  16 March 2019  |   09:00:00  |   dibaca : 747 
Kategori :
Bagikan :


Hadapi Tantangan Global, Semua Komponen Bangsa Harus Bersatu

16 March 2019 | 09:00:00 | dibaca : 747
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

SEMARANG - Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Mohamad Mahfud MD menyampaikan, tantangan yang dihadapi Indonesia di era milenial seperti sekarang ini, hanya dapat diatasi jika semua komponen bangsa bersatu.

Hal itu disampaikan Mahfud MD saat memaparkan materi pada Seminar Nasional "Kompleksitas Ideologi Pancasila di Era Milenial" di Kampus Universitas Semarang (USM), Sabtu (16/3/2019).

Hadir pula sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Muladi dan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono. 

Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penandatanganan memorandum of understanding atau MoU antara USM dengan Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas (IKAL) Komisariat Jateng.

Penandatanganan dillakukan oleh Sekda Jateng yang sekaligus Ketua IKAL Komisariat Jateng Sri Puryono dengan Rektor USM Andy Kridasusila.

"Selain kemiskinan, kita masih mempunyai banyak tantangan seperti ketimpangan ekonomi, pendidikan serta persoalan lain yaitu terkait radikalisme, terorisme yang harus diatasi bersama bukan hanya perorangan," terang Mahfud MD.

Seperti saat ini, generasi milenial siap mengambil alih kepemimpinan bangsa. "Generasi milenial yang merupakan generasi yang dikuasai secara masif oleh teknologi informasi yang canggih," ujarnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menjelaskan, saat ini generasi milenial siap mengambil alih kepemimpinan bangsa. Generasi milenial yang merupakan generasi yang dikuasai secara masif oleh teknologi informasi yang canggih.

Dia mencontohkan, di era digitalisasi sekarang ini, orang yang akan bepergian jauh tidak perlu repot-repot mencari tiket kendaraan ke tempat agen tiket, berbelanja apapun semakin mudah, bahkan membeli makanan cukup melalui telepon seluler.

Dia menambahkan, yang tidak kalah penting adalah berkaitan dengan penanaman dan pengamalan Pancasila. Generasi bangsa saat ini mudah menerima beragam masukan dan materi-materi persoalan melalui media sosial. Kondisi ini menjadi catatan sendiri karena faktanya banyak kasus radikalisme, terorisme ataupun intoleransi itu berkembang menjadi tantangan di era digitalisasi seperti sekarang.

"Contohnya paham ISIS yang disebar melalui internet. Kemudian membuat orang terpengaruh lalu melakukan hal yang mereka sebut 'jihad,' melawan ideologi bangsa dan lainnya," bebernya.

Lebih lanjut Mahfud menyampaikan, bangsa Indonesia berdiri untuk hidup bersatu, karena cita-cita sama, untuk mempertahankan NKRI berdasarkan Pancasila. "Kita merdeka karena kita ingin maju bersama dan di dalam Pancasila kita bersatu," bebernya.

Belasan ribu pulau dan ratusan penduduk bisa bersatu meskipun latar belakang berbeda, baik keyakinan, suku, maupun ras tidak sama tetapi semua bersatu karena mempunyai tujuan sama dan sudah bersumpah untuk bersatu pada 28 Oktober 1928 melalui Sumpah Pemuda.

"Modal Indonesia bersatu karena Indonesia merebut kemerdekaan dengan kekuatan rakyat, bukan karena hadiah dari bangsa lain. Indonesia satu-satunya negara di dunia yang mengusir penjajah," tandasnya.  

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan Ditjen Belmawa Kemristekdikti, Didin Wahidin dalam sambutannya mengatakan, seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda harus melangkah bersama untuk mencapai cita-cita, membangun dan mencerdaskan bangsa.

Apabila semua sudah memiliki jalan pikiran sama untuk mencapai tujuan yang sama, maka berbagai kepentingan baik kepentingan pribadi maupun golongan akan terabaikan, karena semua ikhlas dan rela melakukan berbagai hal demi kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Ketika berbicara tentang Pancasila, maka kita akan berbicara tentang tantangan Indonesia ke depan yang tidak ringan," katanya.

Era milenial sekarang ini, lanjut dia, berhubungan dengan usia generasi bangsa yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000. Artinya apa yang dilakukan saat ini akan menentukan apa yang akan terjadi pada bangsa ini di kemudian hari.

 

Baca juga : Hadiri Dies Natalis UNNES ke-54, Ini Pesan Sekda Jateng


Bagikan :

SEMARANG - Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Mohamad Mahfud MD menyampaikan, tantangan yang dihadapi Indonesia di era milenial seperti sekarang ini, hanya dapat diatasi jika semua komponen bangsa bersatu.

Hal itu disampaikan Mahfud MD saat memaparkan materi pada Seminar Nasional "Kompleksitas Ideologi Pancasila di Era Milenial" di Kampus Universitas Semarang (USM), Sabtu (16/3/2019).

Hadir pula sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip Prof Muladi dan Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono. 

Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penandatanganan memorandum of understanding atau MoU antara USM dengan Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas (IKAL) Komisariat Jateng.

Penandatanganan dillakukan oleh Sekda Jateng yang sekaligus Ketua IKAL Komisariat Jateng Sri Puryono dengan Rektor USM Andy Kridasusila.

"Selain kemiskinan, kita masih mempunyai banyak tantangan seperti ketimpangan ekonomi, pendidikan serta persoalan lain yaitu terkait radikalisme, terorisme yang harus diatasi bersama bukan hanya perorangan," terang Mahfud MD.

Seperti saat ini, generasi milenial siap mengambil alih kepemimpinan bangsa. "Generasi milenial yang merupakan generasi yang dikuasai secara masif oleh teknologi informasi yang canggih," ujarnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menjelaskan, saat ini generasi milenial siap mengambil alih kepemimpinan bangsa. Generasi milenial yang merupakan generasi yang dikuasai secara masif oleh teknologi informasi yang canggih.

Dia mencontohkan, di era digitalisasi sekarang ini, orang yang akan bepergian jauh tidak perlu repot-repot mencari tiket kendaraan ke tempat agen tiket, berbelanja apapun semakin mudah, bahkan membeli makanan cukup melalui telepon seluler.

Dia menambahkan, yang tidak kalah penting adalah berkaitan dengan penanaman dan pengamalan Pancasila. Generasi bangsa saat ini mudah menerima beragam masukan dan materi-materi persoalan melalui media sosial. Kondisi ini menjadi catatan sendiri karena faktanya banyak kasus radikalisme, terorisme ataupun intoleransi itu berkembang menjadi tantangan di era digitalisasi seperti sekarang.

"Contohnya paham ISIS yang disebar melalui internet. Kemudian membuat orang terpengaruh lalu melakukan hal yang mereka sebut 'jihad,' melawan ideologi bangsa dan lainnya," bebernya.

Lebih lanjut Mahfud menyampaikan, bangsa Indonesia berdiri untuk hidup bersatu, karena cita-cita sama, untuk mempertahankan NKRI berdasarkan Pancasila. "Kita merdeka karena kita ingin maju bersama dan di dalam Pancasila kita bersatu," bebernya.

Belasan ribu pulau dan ratusan penduduk bisa bersatu meskipun latar belakang berbeda, baik keyakinan, suku, maupun ras tidak sama tetapi semua bersatu karena mempunyai tujuan sama dan sudah bersumpah untuk bersatu pada 28 Oktober 1928 melalui Sumpah Pemuda.

"Modal Indonesia bersatu karena Indonesia merebut kemerdekaan dengan kekuatan rakyat, bukan karena hadiah dari bangsa lain. Indonesia satu-satunya negara di dunia yang mengusir penjajah," tandasnya.  

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan Ditjen Belmawa Kemristekdikti, Didin Wahidin dalam sambutannya mengatakan, seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda harus melangkah bersama untuk mencapai cita-cita, membangun dan mencerdaskan bangsa.

Apabila semua sudah memiliki jalan pikiran sama untuk mencapai tujuan yang sama, maka berbagai kepentingan baik kepentingan pribadi maupun golongan akan terabaikan, karena semua ikhlas dan rela melakukan berbagai hal demi kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Ketika berbicara tentang Pancasila, maka kita akan berbicara tentang tantangan Indonesia ke depan yang tidak ringan," katanya.

Era milenial sekarang ini, lanjut dia, berhubungan dengan usia generasi bangsa yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000. Artinya apa yang dilakukan saat ini akan menentukan apa yang akan terjadi pada bangsa ini di kemudian hari.

 

Baca juga : Hadiri Dies Natalis UNNES ke-54, Ini Pesan Sekda Jateng


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu