Follow Us :              

Nelayan Bisa Irit Bahan Bakar 60 Persen dengan Konverter Kit,

  29 September 2019  |   08:00:00  |   dibaca : 7793 
Kategori :
Bagikan :


Nelayan Bisa Irit Bahan Bakar 60 Persen dengan Konverter Kit,

29 September 2019 | 08:00:00 | dibaca : 7793
Kategori :
Bagikan :

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

Daftarkan diri anda terlebih dahulu

Foto : Bintoro (Humas Jateng)

SEMARANG - Pengembangan teknologi konverter kit yang mengolah bahan bakar minyak (BBM) menjadi bahan bakar gas (BBG), selain dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan karena mampu menghemat biaya bahan bakar kapal, teknologi ini juga ramah lingkungan, serta mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

Hal itu disampaikan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Muhammad Nasir saat memberi arahan pada uji terap Converter Kit Diesel Dual Fuel (DDF) untuk kapal diatas 30 GT dan transportasi darat lainnya, di Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bandarharjo, Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (29/9/2019).

"Saya mengapresiasi para peneliti yang telah menemukan inovasi baru penghematan bahan bakar kapal. Kalau kapal menggunakan bahan bakar solar biayanya mahal, setelah mengunakan gas berkurang, sekarang lebih meningkat lagi menggunakan CNG sehingga penghematannya lebih besar," katanya.

Menristekdikti menjelaskan, bahan bakar mesin kapal atau truk yang menggunakan (compressed natural gas) atau gas alam terkompresi mampu menekan biaya bahan bakar solar yang selama ini impor. Menggunakan teknologi CNG mampu menghemat sekitar 60 persen, sedangkan BBG antara 30-40 persen dibanding menggunakan BBM. 

Selain itu, keberadaan CNG bisa mendukung program ramah lingkungan, karena truk berbahan bakar CNG yang beroperasi di jalan raya dan kapal nelayan, kapal penyeberangan, maupun kapal barang di laut tidak lagi sebagai penyumbang polusi udara.

"Persolannya bagaimana kita mampu membangun ekosistem, termasuk keterlibatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengenai ketersediaan CNG maupun LNG (liquefied natural gas atau gas alam cair)di daerah-daerah, pelabuhan, dan pangkalan truk. Kalau itu bisa dilakukan maka dapat menghemat, juga para sopir dan nelayan pasti senang," imbuhnya.

Ia menambahkan, adanya pengembangan teknologi berupa DDF memungkinkan mesin kapal untuk menggunakan dua jenis bahan bakar. Yaitu diesel dan gas, untuk mencapai penggunaan energi yang optimal antara bahan bakar gas yang memiliki efisiensi tinggi dan diesel yang bertenaga besar.

Sekda Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP menyambut baik dan mengapresiasi terobosan yang dilakukan, serta bantuan mesin konverter kit kepada nelayan Jateng, khususnya di Semarang. Melalui konverter kit ini, nelayan yang sebelumnya melaut menggunakan bensin dan solar sekarang bisa menggunakan bahan bakar gas sehingga nelayan semakin diuntungkan.

"Upaya-upaya terobosan inovatif seperti ini yang harus kita lakukan dalam rangka membantu masyarakat. Teknologi ini merupakan terobosan yang luar biasa dan benar-benar hemat, paling tidak pendapatan nelayan akan lebih besar dan kesejahteraan masyarakat khususnya nelayan meningkat," jelasnya.

Bidang kelautan dan perikanan Jawa Tengah, lanjut dia, mempunyai potensi yang luar biasa untuk terus maju, berkembang, dan menjadi sektor penopang perekonomian masyarakat.  Menurutnya sektor perikanan mempunyai potensi sangat menjanjikan, tidak hanya perikanan tangkap tapi juga perikanan budidaya. Disebutkan Jateng memiliki panjang garis pantai  979, 73 KM dengan jumlah desa pesisir selatan sebanyak 95 desa, nelayan sebanyak 171, 064 orang dan armada kapal sebanyak 27,488 unit.

"Karenanya Pemprov Jateng telah dan terus menggarap sektor kelautan dan perikanan mulai dari program kartu nelayan, pemberian bantuan alat tangkap, dan pendampingan koperasi nelayan," imbuhnya.

Selain itu Pemprov juga mendorong berdirinya pabrik garam modern dan berkualitas, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani garam serta sekaligus upaya mengurangi ketergantungan terhadap barang ekspor.

Ia berharap, uji terap konverter kit untuk kapal 30 GT dapat berhasil dan bisa digunakan oleh nelayan tidak hanya di Semarang, tapi juga di seluruh Indonesia. Bahkan teknologi konverter kit ini juga digunakan untuk mesin-mesin lainnya, seperti mesin truk dan mesin giling padi. 

Dalam kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan pemanfaatan teknologi konverter kit DDF untuk kapal 30 GTdan transportasi lainnya oleh Direktur Operasional PT CGS Agus Sucahyo dengan Dirut PT Para Armatha LNG Ahmad Suprianto, didampingi Menrinstekdikti M Nasir, Sekda Jateng Sri Puryono, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, serta Plt BBPI Usman Efendi.

 

Baca juga : Desember 2019, Jateng Target Miliki BUMD Migas


Bagikan :

SEMARANG - Pengembangan teknologi konverter kit yang mengolah bahan bakar minyak (BBM) menjadi bahan bakar gas (BBG), selain dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan karena mampu menghemat biaya bahan bakar kapal, teknologi ini juga ramah lingkungan, serta mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

Hal itu disampaikan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Muhammad Nasir saat memberi arahan pada uji terap Converter Kit Diesel Dual Fuel (DDF) untuk kapal diatas 30 GT dan transportasi darat lainnya, di Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bandarharjo, Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (29/9/2019).

"Saya mengapresiasi para peneliti yang telah menemukan inovasi baru penghematan bahan bakar kapal. Kalau kapal menggunakan bahan bakar solar biayanya mahal, setelah mengunakan gas berkurang, sekarang lebih meningkat lagi menggunakan CNG sehingga penghematannya lebih besar," katanya.

Menristekdikti menjelaskan, bahan bakar mesin kapal atau truk yang menggunakan (compressed natural gas) atau gas alam terkompresi mampu menekan biaya bahan bakar solar yang selama ini impor. Menggunakan teknologi CNG mampu menghemat sekitar 60 persen, sedangkan BBG antara 30-40 persen dibanding menggunakan BBM. 

Selain itu, keberadaan CNG bisa mendukung program ramah lingkungan, karena truk berbahan bakar CNG yang beroperasi di jalan raya dan kapal nelayan, kapal penyeberangan, maupun kapal barang di laut tidak lagi sebagai penyumbang polusi udara.

"Persolannya bagaimana kita mampu membangun ekosistem, termasuk keterlibatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengenai ketersediaan CNG maupun LNG (liquefied natural gas atau gas alam cair)di daerah-daerah, pelabuhan, dan pangkalan truk. Kalau itu bisa dilakukan maka dapat menghemat, juga para sopir dan nelayan pasti senang," imbuhnya.

Ia menambahkan, adanya pengembangan teknologi berupa DDF memungkinkan mesin kapal untuk menggunakan dua jenis bahan bakar. Yaitu diesel dan gas, untuk mencapai penggunaan energi yang optimal antara bahan bakar gas yang memiliki efisiensi tinggi dan diesel yang bertenaga besar.

Sekda Jawa Tengah Dr Ir Sri Puryono KS MP menyambut baik dan mengapresiasi terobosan yang dilakukan, serta bantuan mesin konverter kit kepada nelayan Jateng, khususnya di Semarang. Melalui konverter kit ini, nelayan yang sebelumnya melaut menggunakan bensin dan solar sekarang bisa menggunakan bahan bakar gas sehingga nelayan semakin diuntungkan.

"Upaya-upaya terobosan inovatif seperti ini yang harus kita lakukan dalam rangka membantu masyarakat. Teknologi ini merupakan terobosan yang luar biasa dan benar-benar hemat, paling tidak pendapatan nelayan akan lebih besar dan kesejahteraan masyarakat khususnya nelayan meningkat," jelasnya.

Bidang kelautan dan perikanan Jawa Tengah, lanjut dia, mempunyai potensi yang luar biasa untuk terus maju, berkembang, dan menjadi sektor penopang perekonomian masyarakat.  Menurutnya sektor perikanan mempunyai potensi sangat menjanjikan, tidak hanya perikanan tangkap tapi juga perikanan budidaya. Disebutkan Jateng memiliki panjang garis pantai  979, 73 KM dengan jumlah desa pesisir selatan sebanyak 95 desa, nelayan sebanyak 171, 064 orang dan armada kapal sebanyak 27,488 unit.

"Karenanya Pemprov Jateng telah dan terus menggarap sektor kelautan dan perikanan mulai dari program kartu nelayan, pemberian bantuan alat tangkap, dan pendampingan koperasi nelayan," imbuhnya.

Selain itu Pemprov juga mendorong berdirinya pabrik garam modern dan berkualitas, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani garam serta sekaligus upaya mengurangi ketergantungan terhadap barang ekspor.

Ia berharap, uji terap konverter kit untuk kapal 30 GT dapat berhasil dan bisa digunakan oleh nelayan tidak hanya di Semarang, tapi juga di seluruh Indonesia. Bahkan teknologi konverter kit ini juga digunakan untuk mesin-mesin lainnya, seperti mesin truk dan mesin giling padi. 

Dalam kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan pemanfaatan teknologi konverter kit DDF untuk kapal 30 GTdan transportasi lainnya oleh Direktur Operasional PT CGS Agus Sucahyo dengan Dirut PT Para Armatha LNG Ahmad Suprianto, didampingi Menrinstekdikti M Nasir, Sekda Jateng Sri Puryono, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, serta Plt BBPI Usman Efendi.

 

Baca juga : Desember 2019, Jateng Target Miliki BUMD Migas


Bagikan :
Daftarkan diri anda terlebih dahulu